halalkah?
Salah satu kesulitan tinggal di luar negeri adalah perlunya berhati-hati dalam menentukan produk-produk yang halal. Hal pertama yang paling jelas adalah daging. Bukan saja terhadap pork, tapi juga daging-daging lain yang tidak disembelih dengan nama Allah. Di Indonesia saya selalu merasa aman dalam membeli daging, seakan-akan sudah menjadi pendapat umum bahwa daging-daging di Indonesia dan daging yang disajikan di restoran di Indonesia adalah halal --walaupun bisa jadi juga tidak. Di sini, hampir semua daging yang dijual, kecuali daging yang dijual di toko Turki, diragukan kehalalannya dan sedikit sekali yang memiliki sertifikasi halal. Saya masih beruntung bahwa di Belanda ini cukup banyak penduduk dari Turki yang membuka usaha toko dan restoran halal. Sepuluh menit dari tempat saya tinggal saja, ada 3 toko mereka. Di tempat-tempat umum juga dapat ditemukan restoran Turki yang menjual makanan halal.
Bukan saja daging, produk-produk makanan lain pun harus diperiksa kehalalannya. Dulu di Indonesia label "halal" lazim terdapat pada hampir semua produk, sampai-sampai jarang sekali saya merasa perlu untuk mencari label tersebut ketika akan membeli suatu barang. Di sini, label tersebut hampir tidak ada dan kita lah yang harus pintar-pintar memilih produk dengan ingredients yang halal. Berikut ini beberapa daftar ingredients yang diambil dari buku Islamic Dietary Laws and Practices, oleh Mohammad Mazhar Hussaini dan M S Ahmad Hussein Sakr, Ph.D. Selain itu, di Eropa dikenal kode-kode zat additive yang diawali dengan huruf E. Dan sebagian dari zat-zat ini juga tidak halal.
Pernahkah melihat obat di Indonesia dengan label halal?
Seingat saya tidak, ya. Dan karena itulah saya tidak pernah berpikir bahwa obat bisa jadi mengandung bahan-bahan tidak halal, hingga hari ini ketika saya menyadari bahwa beberapa ingredients dalam multivitamin yang akan saya beli tidaklah halal. Saya tidak jadi membeli, tapi juga masih bertanya-tanya, mungkinkah obat pun tidak halal? Dan berdasarkan beberapa pencarian di internet, ternyata pembuat multivitamin yang berbasis di Amerika ini pun bahkan telah menuliskan peringatan di website-nya, bahwa beberapa bahan yang dipakai untuk membuat vitamin tersebut tidak halal. Jadi, obat pun bisa tidak halal. Dan artinya, kunjungan ke dokter pun tidak akan terlalu mudah karena saya perlu menjelaskan hal ini jika mereka akan memberi saya resep.
Sekarang pertanyaan saya menjadi berlanjut pada apakah mungkin produk-produk lain, seperti sabun, pasta gigi, pelembab, dll, juga mengandung produk yang tidak halal? Mungkin sekali. Baru saja saya periksa bahwa pasta gigi yang saya bawa dari Indonesia memiliki label "halal" pada kemasannya. Namun tidak pada sabun cair dan pelembab yang saya bawa. Bagaimanapun, itu artinya, mulai sekarang kehati-hatian tidak boleh terbatas terhadap barang-barang yang dikonsumsi di dalam tubuh, namun juga barang-barang pakai sehari-hari lainnya.
Tampak merepotkan? :)
Iya, mungkin. Namun semoga dalam setiap usaha yang dilakukan untuk mengikuti tuntunan-Nya, diberikan-Nya pula kemudahan dan kenikmatan. Amin.
poster pak paddy
Di ruangan Pak Paddy ada poster besar bergambar botol-botol bir banyak sekali, diberi pigura merah. Di bagian bawah poster tersebut tertulis kalimat yang sangat mengganggu. Tertulis besar-besar:
"life is full of difficult decisions"
Iya. Itu kalimat yang menyebalkan sekali. (Dan Pak Paddy cuma tertawa waktu saya bilang saya terganggu dengan poster itu).
Menyebalkan. Karena itu benar.
wawancara
Pagi ini wawancara Shell scholarship via telepon.
Aneh rasanya, ternyata berbicara tanpa ”saling melihat” itu tidak terlalu mudah.
Selain kesulitan ”standar” yaitu pertanyaan-pertanyaan yang tidak kita duga, hal lain yang sulit ketika wawancara adalah kita harus tahu bahwa ada saatnya kita harus bisa ”menjual diri”. Dan menjual itu artinya membicarakan hal-hal (yang kita anggap) baik mengenai diri kita. Dan sebagai orang Asia, saya sering merasa hal ini sulit dilakukan.
Menjadi diri sendiri dan berusaha membuat orang lain mengenal kita dalam waktu singkat, apalagi hanya lewat telepon, sama sekali bukan hal yang mudah, ya. Padahal kita perlu tahu (selain pewawancara tentunya perlu merasa tahu) bahwa pewawancara telah ”cukup” untuk mengenal kita dengan percakapan singkat tersebut. Untuk suatu penilaian, bukan mengenai seberapa baik kita, tapi seberapa cocok kita bagi mereka.
Mohon doanya, ya.
schedule in NL
Some notes for the final report :)
19 April: arrived in NL
20 April: meeting with Prof. Eelco van Beek, BTHF representative in Delft; meeting with Prof. Paddy French
25 April: attending presentation in the lab about blood impedance measurement
27 April: Design Your Own Future, Philips, Eindhoven; meeting with Luc Florack, assoc. prof. in Biomedical Image Analysis TU/e
3 May: meeting with Dr.Edward Valstar, coordinator of BME TU Delft
4 May: Prof. Adam Szirmai's lecture: Socio-economic development
8 May: Dr. Andre Bossche's lecture: microfluid
10 May: meeting with Prof.vander Helm about biomechanics
12 May: visiting BIOS lab Twente University: Lab-on-a-chip, doing cell culturing :), visiting clean room
15 May: Dr. Wouter Serdijn's lecture: low power smart pacemaker
16 May: visiting Quantitative Imaging Lab TU Delft
18 May: meeting Prof. Albert Vossepoel in Quantitative Imaging Lab
22 May: Prof. Ton van der Steen's lecture: intravascular ultrasound for characterization of atherosclerosis; visiting Biomedical Imaging Group Rotterdam (BIGR)
Next:
29 May: meeting with Prof. Bart ter haar Romenij (Biomedical Image Analysis TU/e) and Prof. Hilbers (Biomodelling TU/e)
31 May: a-day-out to Haarlem with lab
1-5 June: vakansi ;)
6 June: visiting Prof. G.J.Verkerke in Universitair Medisch Centrum Groningen
15 June: take off.
---
Akhir-akhir ini dingin lagi. Sering hujan dan angin besar bukan kepalang.
Ternyata bersepeda di sini menyiksa juga :(
Minggu ini harus memutuskan antara TU/e atau TUD untuk master, mohon doanya :-s
batas waktu
Setelah sekian lama tarik napas, hembuskan napas, bisa juga mulai nulis lagi. Silakan baca cuplikan email di bawah ini yang membuat hidup saya jadi gak lurus-lurus aja akhir-akhir ini. Kadang-kadang jalan hidup itu ditentukan dengan cara tidak terduga ya? Subhanallah. Mohon doanya, ya, semoga ditunjukkan jalan yang paling baik. Amin.
---
In our previous correspondence, we stated that the outcome of the selection process for HSP scholarships would be available from 15 May. Unfortunately, the selection process is not yet complete. The delay is caused by the fact that the selection committee has not yet been appointed by the Ministry of Education, Culture and Science. Regrettably, we are at present unable to give a precise date when the selection process will be complete. We will do our best to complete the selection process as soon as possible.
---
:o
Gak bisa dipercaya.
Sudah 2,5 bulan sejak ditutupnya aplikasi, dan sampai sekarang panitia seleksinya belum terbentuk ?! Kok bisa-bisanya. Weleh. Bukan ga bisa sabar, tapi selalu, satu pilihan akan berkonsekuensi panjang terhadap pilihan lain. Dan ada kalanya, pilihan-pilihan dalam hidup kita itu dibatasi oleh satu variabel yang disebut dengan batas waktu.
Di kuliah Pak Szirmai, beliau sempat menyebutkan bahwa negara-negara kolonial itu memberikan pengaruh kepada perkembangan dan budaya suatu negara yang pernah didudukinya. Dan jangan-jangan memang demikian. Lambatnya gerak dalam pemerintahan kita (jangan suruh saya untuk membuktikannya ya) jangan-jangan turunan! Kenapa yang diturunkan bukan hal yang baik-baik ya? :)
Walah.. Jangan-jangan..
Memang menyerap hal-hal yang buruk itu jauh lebih mudah ya daripada menyerap hal-hal yang baik.
Dynamics of Socio-Economic Development
Minggu yang lalu ikut kuliah seorang guest professor dari TU Eindhoven, Prof. Adam Szirmai. Beliau profesor dalam bidang technology and development studies, yang dalam kuliah ini membahas tentang hal-hal yang dibutuhkan oleh sebuah negara berkembang untuk menjadi negara maju. Karena seorang teman meminta saya untuk mengetikan kembali, saya posting sekalian di sini. Semoga ada manfaatnya.
-----
Development, in the perspective of science and technology, is the economic growth that leads to structural changes. Economic development in a country can be identified by other three aspects that come with it: reduced poverty, income equality, and employment creation. Economic development is a contribution to a society development, that can introduce a society to self confident society that can stand without (or less) outside interferes. Ultimately, development should give people freedom in every aspect.
There are some problems came up in a developing country: low poverty and malnutrition, low health standard and education, high share of agriculture, inequality between social classes in society, rapid population growth, explosive urbanization, underutilization, politics problems and corruption, environmental degradation, lack of technological ability (lack of the ability to use the technology), and human rights problem.
Reducing poverty
The most essential part in economic development is to reduce poverty. In some research it is concluded that to reduce poverty, a country needs to increase production capacity. Some ways in increasing productivity are increasing:
1. effort (work hours, etc)
2. capital accumulation
3. scale of production
4. accumulation of human capital & skill
5. efficiency (focusing on a certain field)
To increase productivity also means to increase technology. Japan’s (and now Korea’s and China’s) success in developing the country is their success in catching up the technology. This ability to tap into international technology advance must be supported by the capabilities to acquire, master, and adapt the technology. Capability of a country in investing for technology, negotiating with the owner of technology (in this case, a developed country), producing technology, and innovating technology are the requirements for the capabilities to catch up.
How to acquire the capabilitiesDiversity in each country’s characters (e.g. income, population, natural resources, production structures, economic dynamics, history, etc) gives every developing country a unique solution. But as the key point, there are three aspects that need to balance: capital, technology, and education. An increase in number of PhDs in a country will be meaningless without the availability of the capital in the country to invest the technology. We can learn from many cases that this leads people to come back to the country where they obtained their degree. Unless they struggle to make the employment themselves (which somewhat needs the balance in capital and technology as well), not much things will be significant for the development.
So, is it possible for every country to excel?
A long debate. But however, it has been proven several time (by Japan and China) that the further you are to the technology frontier, the more possible you can make an extreme catch up.
-----
menghargai orang lain
Sejauh ini, orang-orang yang saya temui adalah orang-orang yang sangat baik. Pendengar dan pembicara yang baik. Mereka juga menghargai orang lain, berempati, dan tidak segan-segan memberikan bantuan. Padahal saya tahu, contohnya bapak yang saya temui hari ini, beliau orang yang sangat sibuk dan memiliki appointment hampir setiap setengah jam sekali dengan orang yang berbeda-beda. Namun beliau benar-benar berusaha memanfaatkan setengah jam tersebut dengan baik: antusias menjelaskan penelitian mengenai biomekatronika-nya kepada saya, bahkan mengantar saya melihat-lihat labnya. Padahal, apa yang bisa beliau dapatkan dari saya ya :-/
Jadi, itulah orang-orang yang saya temui belakangan ini: thinking what to give, not what to get.
Hari ini juga hari kedua saya ikut kuliah di sini.
Menyenangkan. Karena kuliah di sini "hidup". Selalu ada diskusi dua arah antara pembicara dan mahasiswa. Hampir sebagian besar ikut serta, walaupun itu mungkin juga karena kuliah ini adalah kuliah mengenai topik-topik hangat di biomedika. Budaya menghargai orang lain juga saya rasakan di sini, ketika seorang berbicara yang lain mendengarkan dengan baik, atau setidaknya diam (dan tidak tidur). Kalau diingat-ingat, kapan ya terakhir kali saya mendapatkan suasana tenang ketika perkuliahan? Di Jepang, tentu, tapi itupun karena hampir sebagian besar pesertanya tertidur :p. Di ITB? Oh iya, ketika kuliah-kuliah biomedika yang pesertanya bisa dihitung dengan jari :). Tapi selain itu, rasanya hampir tidak pernah.
Kenapa ya rasanya, mendengarkan orang lain itu sulit?
Dan sering kali, kebutuhan untuk didengarkan lebih dominan daripada keinginan untuk mendengarkan?
flowers
This is a very beautiful flowers arrangement of 60000 tulips and muscaris to "draw" a picture of Rembrandt Harmenszoon van Rijn, one of the Europe's greatest Dutch painter. It is a collection of Keukenhof in Lisse for this season, to celebrate Rembrandt's 400th birthday.
This weekend is a perfect time to visit Keukenhof in Lisse. It is the first sunny weekend in this late spring. The flowers are very colorful and the arrangement is really wonderful.
It is definitely too beautiful for one to enjoy it "alone" -as I always believe that a "travel" partner is important.
Trip to nature always inspires me, especially lately when the moment is just right to think over of what I have been through. To remember to keep those unintentionally abandoned promises to myself.To be more determined. And to be more trustworthy.
Labels: travel
keledai + biri-biri
Kemarin saya ikut dengan ibu-ibu International Neighborhood Group Delft jalan-jalan ke kinderboerderij (peternakan untuk anak-anak), di Delftse Hout.
Yang ada, saya yang jadi anak-anak :), senang karena baru pertama kali melihat keledai dan mendengar suaranya. Selain itu, ini juga pertama kalinya saya melihat biri-biri yang ternyata gendut sekali karena bulunya.

Yang paling menyenangkan sih memang, melihat ekspresi muka anak-anak di sana, dari yang antusias ingin menyentuh hewan-hewan tersebut, sampai yang menangis sambil berlari-lari karena dikejar-kejar hewan tersebut:)
Labels: travel
email
Beberapa kesalahan dalam menulis email, karena frekuensi pengiriman yang sering sehingga saya tinggal menyalin ulang dari beberapa email lain, lalu tidak sengaja ada bagian yang terhapus, dan lupa untuk dibaca ulang (atau ketika dibaca ulang pun tidak terlihat ada yang ganjil):
1. I am forward to hearing from you. (kata-kata looking terhapus --apaa coba ini artinya)
2. Setelah merasa maksud pengiriman email tersampaikan dengan baik, merasa tenang, lalu tanpa menuliskan salam penutup
Best regards, (atau yang sejenisnya)
Desiree
langsung klik "send". Jadi siapakah pengirim email ini? Waduh :)
Mungkin ada baiknya, saya mulai menaruh signature otomatis di bagian bawah email. Atau ada saran mengenai penulisan surat resmi yang tidak standar? Kesalahan-kesalahan seperti ini adalah kesalahan yang tidak disadari, akibat kurang perhatian karena pekerjaan ini sudah dianggap rutinitas. Mungkin ini saatnya saya untuk membaca petunjuk menulis surat yang baik, dengan gaya yang sedikit berbeda, agar variasi tersebut dapat mengembalikan perhatian saya terhadap surat yang sedang ditulis.
Hanya saja untungnya, hingga sekarang saya tidak pernah lupa untuk mengganti nama orang yang dikirimi email, ketika isi email yang dikirimkan kurang lebih sama untuk satu orang dengan yang lainnya.
Syukurlah. syukurlah.
Sepeda!
Ik heb een mooie fiets!
Akhirnya saya punya juga sepeda milik sendiri, dapat dengan "hanya" 30 euro, untuk sepeda second hand berkondisi baik, ber-rem tangan (di sini rata-rata sepeda ber-rem kaki) dan bisa pindah gigi, harga ini sangatlah murah. Sebelumnya sempat jalan-jalan ke toko-toko sepeda second juga, mereka menawarkan harga di atas 125 euro, bahkan sampai 225 euro. Tapi memang, teman saya bilang, tempat saya beli sepeda ini memang tempat yang paling murah. Hanya saja persediaan dia terbatas, untuk akhirnya mendapatkan sepeda yang saya beli hari ini, saya membutuhkan 5 kali bulak-balik kesana. :)
Akhirnya, saya tidak perlu lagi tergantung pada jadwal bus dan tram, atau juga jalan kaki kalau terpaksa. Dan yang paling menyenangkan, saya sekarang bisa melalui jalur favorit dengan sepeda. Jalur dari rumah ke kampus lewat jalur selatan, yang sebelumnya hanya mungkin ditempuh dengan berjalan kaki. Indah sekali. Kiri kanan masih banyak hutan kecil. Jalan sepanjang itu sebagian besar hanya untuk sepeda dan pejalan kaki, bahkan pada beberapa bagian hanya berupa jalan setapak. Setelah lewat dua blok ke arah timur, ada kanal besar yang dilewati. Rasanya kalau berjalan lewat utara, yang terlihat adalah kendaraan dan bangunan. Meskipun juga lalu lintasnya tidak padat, karena penduduk Delft hanya 90 ribu orang.
Pagi hari ini saya bertemu dengan Dr. Edward Valstar, salah seorang koordinator BME TU Delft, yang juga bekerja di bagian ortopedi LUMC. Beliau sangat ramah dan helpful. Beliau berjanji akan menghubungkan saya dengan kepala departemen di LUMC untuk kunjungan saya kesana. Selain itu, ternyata profesor saya, Pak Paddy French, di tengah-tengah kesibukannya dalam mempersiapkan kunjungannya ke Jepang, juga sudah menghubungi kolega-koleganya yang lain. *Duh, makasih banyak ya, Pak :)* Mudah-mudahan urusan kontak-mengontak ini menjadi lebih lancar. Dan berarti sekali lagi terbukti, bahwa network itu memang sangat penting.
Hari ini, selain hal-hal baik tadi, untuk pertama kalinya, saya sebal sekali dengan para pembuat virus. Terutama virus brontok yang meresahkan ITB beberapa saat lalu. Tanpa saya ketahui ternyata flash disk saya menderita si brontok. Dan saya juga baru tahu (duh), bahwa si brontok ini bersembunyi dalam file .exe di sekian banyak folder dalam flash disk saya. Apa artinya sebaiknya jangan membuat folder ya? :) Hari ini si brontok telah menyerang komputer seorang anak PhD di lab, ketika saya akan mengambil data percobaan dari komputernya. Waduh, saya bisa diserang orang satu lab kalau sampai brontok tadi sudah menyebar lewat jaringan. :-s "Ini orang Indonesia, dateng-dateng belum ngapa-ngapain, baru bisa ngerepotin profesornya, eh udah nularin penyakit :p"
Duh, mudah-mudahan ilmu yang saya punyai tidak malah akan menjadikan kesulitan bagi orang lain.
Amin.
travel a chapter of a life
It's been 2 weeks since I arrived in Delft.
Bandoeng Technische Hogeschool Fond (BTHF) - a foundation that initiated my visit is doing its job very well. The foundation supports me everything: housing, allowance, insurance, and host-laboratory in the university. I have a comfortable room, sufficient fund, and a nice professor. Everything is just perfect, except the foundation don't tell me what I should do.
Free.
Sometimes it is so annoying when I am bounded with some circumstances that rarely I have enough time to do what I want to do. But often, it is more irritating when I know that I am just in the right time to do things I wanted to do, but then I loose the orientation. It is because in the first case, I know that I would atleast acheive something, but in a latter case, I am afraid if I waste my time and don't even move from my place.
---
Or maybe people just need time to settle in a new place?
It is a good excuse though, but ok let's see what I have done in these 2 weeks. In the first week, I met my professor and discussed about the visit plan to various laboratories and universities. I also went around to see the town and to found a bike. Delft, or Holland generally, is a nice place where it is convenient to bike. With a flat landscape -except unfriendly weather sometimes, and a relatively short distance from one place to the other, cycling is recommended.
On the first weekend, I had good time with my extended family in Belgium. I was back to Delft on Monday and did some stuffs for someone in the lab. On the following day, I was talking with a Spanish-PhD student in the lab about his project and asking whether it is possible to join -which in conclusion, a month effective is undoubtedly too short. I travelled to Eindhoven on Thursday, participated in "Design Your Own Future", open-house for Philips company. I was particularly interested in the opening speech about the intellectual economy -the benefit gained from producing patents. It was before 1980 that the source of company benefit was from selling its products alone. But since there are awakening in other companies (Japan, Korea, and now China), the company had to change its strategy. R&D section should produce patents or shared-technology for supplementary benefit (or now most of the benefit?), and the manufacturing should be re-located to a lower cost place, in this case: Asia, includes Indonesia. Clearly, that's the reason why many companies, Philips for instance, keep the research "inside" the country and the manufacturing part outside. What do you think we should do about this? Is it really a drawback for us -that we cannot master the technology?
Back to what I have done, in the afternoon I came to TU Eindhoven (TU/e) to meet an associate professor to discuss about my future master study. I have applied to Biomedical Engineering (BME) in both TU Delft and TU/e, but both of them have different direction. TU Delft, focusing on engineering background, has no problem with my Electrical Engineering -only background, while TU/e, focusing on multidisciplinary background in its BME study, thinks that my monodiscipline would be insufficient to support my future study. That's the reason why I come to TU/e that afternoon. Eindhoven is a bigger city than Delft (and it has Philips there!). Suffering from being bombed during the second world war, buildings in Eindhoven are modern, while Delft, with its old buildings and channals, is more ancient.
I spent the second weekend in Denhaag, an important city in Holland located about 15 minutes to the north from Delft by train. It was Koninginnedag (Queen's day) on Saturday that people have a festival everywhere, especially in Amsterdam. I saw a lot of people in orange -a colour of Holland. Too bad that the temperature dropped again to about 6 degree that I couldn't fully enjoy the weekend. I was freezing in Madurodam, a Holland miniature, and in a way back to Delft. It was a gloomy day, not only was the weather but also my feeling was awful. I think I was not very well-behaved that I know I might make someone there sad, or even worse, disappointed. Anyway, we all grow up from mistakes, don't we?
So that was my last two weeks. A lot of the missions have not been accomplished yet. I'd love to come to a lecture in TU Delft that invites guest speakers on various topics on medical technology -that now I am asking the professor for the permission. This week I also have to contact a lot of professors for a possibility to visit their labs, as well as medical practitioners to visit their hospitals. I have discussed about it with my professor yesterday, we were planning on my visiting to Rijksuniversiteit Groningen, Twente University, Leiden University Medical Center, Rotterdam Erasmus Medical Center, Academic Medical Center Amsterdam, and Utrecht University. My two-month-stay in Holland is a travel, but given only these short time, I need to put more efforts in making contacts and appointments.
---
6 weeks to go.
Time for the efforts, and the goal is waiting there at the end to achieve.