To Allah shall we return...
Sedih. Dan merasa tak berdaya.
Verily we belong to Allah and to Allah shall we return.
Aku kehilangan tikus gendutku*, kedua kalinya dalam minggu ini. Pertama kalinya terjadi ketika proses scanning, tiba-tiba pernapasan si tikus melemah dengan cepat sebelum akhirnya menjadi nol. Kemungkinan besar karena dosis anestesi yang diberikan terlalu besar. Seharusnya kejadian ini bisa dihindari, andaikan kami (baca: aku) tidak terlalu konsentrasi ke urusan lainnya yang membuat aku tidak memperhatikan masalah ini.
Kedua kalinya, ketika proses recovery setelah scanning. Di sesi terakhir dari 12 sesi scanning dua minggu ini. Sesi yang sulit dan panjang karena postur tubuh tikus dan metabolismenya membuat proses scanning tidak sesuai standar biasa. Setelah bangun dari 4,5 jam proses scanning, tikus tersebut tampak normal. Refleks kembali normal, bahkan, tikus ini sempat berjalan-jalan di inkubatornya. Namun 1 jam setelah itu, ketika aku akan mengembalikan dia ke kandangnya, dia tampak sangat lemah.. kemudian tidak bergerak lagi.
Ya Allah..
Sepanjang perjalanan pulang, aku melamun. Apa yang salah?
Dan setelah analisis panjang di dalam kepala, apapun itu yang salah di proses tersebut... tiba-tiba aku tersadarkan betapa beratnya tanggung jawab menjadi seorang VO***. Sungguh bukan hal yang main-main ketika aku mengajukan proposal studi ke Animal Experiment Committee beberapa bulan yang lalu itu.
Astaghfirullah...
Semoga tanggung jawab ini bisa aku jalankan dengan lebih baik, dan bantulah aku meluruskan niatku, ya, Allah...
* tikus diabetes, di usia 7 minggu beratnya sekitar 32 gram (tikus normal: 20 gram).
** urusan monitoring fungsi tubuh tikus
*** verantwoordelijk onderzoeker: responsible researcher
Labels: phd?


0 Comments:
Post a Comment
<< Home