distorsi rasa
Saya ingat guru Bahasa Indonesia saya ketika SMA pernah berkata, "Bahasa adalah rasa."
Saya setuju. Bahasa, sebagai salah satu alat seseorang untuk bertutur kata secara lisan maupun tulisan, tidak saja mentransfer maksud penuturnya, namun juga membagi rasa yang dimiliki penutur tersebut. Dengan bahasa kita bisa membahagiakan orang lain, namun dengan bahasa pulalah kita bisa menyakiti orang lain. Sungguh, bertutur kata yang baik itu tidaklah mudah.
Bahasa tulis memiliki rasa dari cara penulisnya bercerita. Komunikasi dua arah, yang lebih lazim dilakukan dengan bertatap muka, memberikan rasa yang lebih banyak lagi. Kedua pembicara bisa saling menularkan maksud dan rasa tidak hanya dengan kata-kata, tapi juga melalui mimik muka, gerak tubuh, dan intonasi kalimat. Namun, sekarang bagaimana jadinya dengan adanya media chatting, seperti instant messenger?
Kemajuan teknologi komunikasi ini telah memungkinkan kita untuk berkomunikasi dua arah, langsung, namun kedua pembicara tidak perlu berada pada tempat yang sama. Hal ini pada satu sisi sangat menguntungkan karena komunikasi semakin praktis, namun di sisi lain hal ini membuat "rasa" tersebut sulit ditransfer dan ditangkap lawan bicara. Intonasi kalimat yang paling banyak mentransfer rasa, tidak bisa lagi ditangkap dengan mudah, karena interpretasinya begitu bebas -tergantung dari penerimanya. Percakapan terkadang menjadi tidak efektif, karena kedua pembicara salah paham dalam menangkap maksud. Terlebih dari salah menangkap maksud, mereka salah menangkap rasa, dan berakhir pada komunikasi yang malah tidak berakhir baik.
Kesalahpahaman pada komunikasi melalui messenger seperti ini sulit diantisipasi dengan cepat karena masing-masing pembicara tidak dapat menangkap reaksi lawan bicara dengan mudah. Silakan anda tertawa, atau bahkan menangis ketika menuliskan pesan-pesan pada messenger anda, pesan-pesan itu --kecuali anda menambahkan icon-icon yang tepat dan juga jujur :), tetaplah pesan yang akan terbaca "hanya" sebagai sebuah kalimat. Kalimat yang tidak terlalu cerdas untuk menyatakan perasaan anda terhadap lawan bicara.
Distorsi maksud, dan kemudian distorsi rasa.
Teknologi, secanggih apapun, tidak akan pernah bisa secara sempurna mentransfer rasa yang dimiliki manusia. --dan saya, sebagai orang yang telah menjadi budak teknologi (salah satunya adalah ketergantungan terhadap messenger, harus belajar untuk mengerti hal ini. Untuk berhati-hati dalam menginterpretasi maksud lawan bicara, dan untuk belajar menyampaikan maksud secara tertulis dengan lebih baik.
-desiree-
ditulis tanpa harapan tinggi-tinggi bahwa distorsi maksud dan rasa tidak akan terjadi


0 Comments:
Post a Comment
<< Home