Bendera
Banyak hal yang ga bisa dijelaskan bagaimana cara hal-hal tersebut terjadi.
Things happen for reasons.
Itu yang pasti, tapi apa alasan sebenarnya, kadang-kadang baru akan kita temukan di kemudian hari.
Salah satu awal yang berat ketika memakai jilbab ini, adalah ketika saya merasa tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Tidak nyaman karena merasa berbeda. Saya ingat tatapan orang di sekitarku, terlepas itu adalah tatapan penuh syukur ataupun tatapan heran, yang membuat saya butuh berlipat-lipat energi untuk melangkahkan kaki dan bertemu orang. Kekuatan besar itu dibutuhkan lebih banyak lagi ketika saya berada di luar negeri, karena seakan-akan saya pergi kesana kemari dengan membawa sebuah bendera bertuliskan "hey, saya berbeda", dan saya harus tetap nyaman terhadap diri sendiri.
Iya, harus. Karena kalau tidak, gimana kita bisa hidup :)
Alhamdulillah. Masa-masa itu sepertinya sudah berlalu *dan karenanya udah bisa ditulis di sini :)*. Saya sudah bisa nyaman melangkah kemanapun, tanpa merasa bahwa orang lain melihatku berbeda. Bahkan ketika ada anak kecil memperhatikanku dengan pandangan ingin tahu, saya tidak langsung sadar mengapa mereka seperti itu. Namun ketika saya sadar, saya balas dengan senyum bersahabat. Masalah selesai. Entah itu dengan mereka akhirnya menyapa saya, balas tersenyum, atau (lebih seringnya) sembunyi di balik ibunya. :)
Tidak ada yang salah dengan perbedaan yang saya bawa. Saya manusia, sepenuhnya sama dengan mereka. Dan saya rasa, saya justru membawa satu variasi lain dalam hidup mereka, bukan? :)
Pengalaman saya akhir-akhir ini menarik. Dan terjadi di saat yang tidak saya duga sama sekali. Hari itu di dalam kereta, saya bersandar pada sebuah tiang di ujung kursi. Lelah sekali. Lahir batin. Lahir karena mengejar-kejar kereta di bawah teriknya matahari dan batin karena melihat kereta bergerak sebelum beberapa langkah lagi saya bisa meraihnya. Uh. Di tengah kelelahan itu, tiba-tiba seorang perempuan muda Jepang berjalan setengah berlari dari lorong kereta sambil melambaikan tangannya pada saya. Wajahnya gembira sekali, seperti baru saja menemukan kembali teman lama. *Yaa.. Jepang kan memang saudara tua orang Indonesia :)>- peace..* "Jangan-jangan dia memang teman lama saya," pikir saya sambil berusaha mengingat-ingat.
"Konnichiwa!!" tepat di depan saya ia mengatakan itu dengan penuh semangat. "Waduh, orang ini seperti benar-benar mengenal saya," pikir saya. "Kamu dari Malaysia?" tanyanya. Syukurlah, ternyata memang kita belum pernah bertemu, saya lega. "Oh, kamu dari Indonesia, saya juga punya teman baik dari Indonesia, blah.. blah.. blah.." katanya. Dan akhirnya perjalanan di kereta itu diisi dengan pembicaraan-pembicaraan menarik dengan perempuan itu, yang bahkan membuat suami saya heran karena ternyata orang yang tidak dikenallah yang malah membuat istrinya ceria lagi :)
Begitulah, bendera "hey, saya berbeda" bekerja sedemikian baiknya. Kali ini, membuat saya menghilangkan lelah. Ditambah lagi, perempuan itu dengan bangganya berkata, "Saya sedang membaca tentang Islam, lho, kalau saya nanti tidak mengerti, saya email kamu, ya." Duh, mudah-mudahan saja kalau benar suatu saat emailnya datang, saya bisa menjawabnya.
Ada kejadian mirip seperti itu lainnya.
Minggu lalu, seorang teman mengundang saya dan suami untuk menonton pertunjukan seni orang-orang Kazakhstan di sebuah kota kecil 2 jam dari utara Tokyo. Selesai pertunjukan, dua orang ibu dan anak-anaknya (mungkin sekitar 5 tahunan) mendekati saya dan menyapa dengan bahasa yang sangat familiar, "Apa kabar?" Belum sempat saya jawab, ia berkata lagi "Orang Malaysia, ya?". "Nama saye ..," lanjutnya. Rupanya ibu-ibu ini belajar bahasa Melayu dan mereka penasaran apa saya orang Malaysia.
Beberapa kali kejadian.. rasanya saya diidentikkan dengan orang Malaysia terus ya? :) *Waduh, harus belajar bahasa Melayu nih artinya, supaya suatu saat bisa pura-pura jadi orang Malaysia* Hehe, tapi sekalipun kelihatannya orang-orang tadi lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia, mereka pernah kok ke Bali :)
Ibu-ibu tadi senang sekali bisa mempraktekkan beberapa percakapan dalam bahasa Melayunya. Dan saya juga senang sekali ada orang-tak-dikenal-bermaksud-baik datang menyapa dengan ramah.
Saya kira akan sulit menemukan orang-orang Jepang berbahasa Indonesia/Melayu di Jepang ini. Tidak seperti di Belanda, di mana-mana saya harus berhati-hati kalau berbicara "aneh-aneh" dalam bahasa Indonesia. Bisa-bisa orang di depan saya akan ikut nimbrung! Walaupun mungkin memang sedikit sekali orang Jepang yang tertarik pada bahasa kita, (lagi-lagi) ada sebuah kejadian tak diduga dalam perjalanan pulang dari kota kecil tersebut. Kereta sangat penuh sore itu sehingga tidak cukup tempat untuk saya duduk bersebelahan dengan suami. Namun ketika kereta akan berhenti di suatu stasiun, seorang ibu Jepang di sebelah saya beranjak dari tempat duduknya dan tiba-tiba berkata, "Cepat, panggil," sambil menunjuk-nunjuk suami saya. Saya terkejut, karena ibu itu berbicara dalam bahasa Indonesia. Refleks, saya katakan, "Terimakasih." Dan ibu itu menjawab lagi, "Sama-sama." Saya makin heran, karena ibu itu benar-benar menjawab dalam bahasa Indonesia pula. Lebih heran lagi, bagaimana ibu itu bisa tahu saya orang Indonesia, karena saya sama sekali tidak bercakap-cakap dengan suami. Hingga sekarang, kebingungan saya belum terjawab, karena ibu tersebut kemudian turun dari kereta sebelum sempat saya tanya-tanyai :)
Begitulah. Bendera "hey, saya berbeda" akhir-akhir ini bekerja dengan membuat hidup saya penuh dengan orang-orang yang malah mau beramah-tamah. :)
Alhamdulillah.
-------------
Oh ya, FYI,
di Jepang ini langka orang menegur orang lain yang tidak dikenalnya. Apalagi jika orang lain itu adalah orang asing. Jadi kejadian-kejadian di atas itu, bolehlah dibilang, sangat langka.


3 Comments:
what a wonderful experience! bikin hidup lebih bermakna...
*kapan ya bisa ke luar negeri juga*
Didoain kalau mau keluar negeri.. Ditunggu kalau mau ke Belanda :)
Ah.. Yustika, apa kabar nih?
wah... jadi pengen cerita juga.. ada pengalaman berkesan waktu pertama kali 'pasang bendera' ini.
Hari itu pertama kalinya kunjungan ke rumah sakit setelah memakai jilbab. RSnya jauh, 90 menit perjalanan pake train. Rasanya seperti anak kecil yang malu2 berhadapan dengan orang yang ga dikenal, pengennya bersembunyi dibalik badan ibunya. Keluar dengan penampilan berbeda,perasaanku ga jelas: khawatir dengan response orang2, tapi juga semangat to finally declare 'yes, i'm a moslem'.
Tiba2 di kereta seorang laki2 afrika menghampiri. Awalnya takut juga. Lalu dia bilang 'assalamu'alaikum sister..'. akhirnya kita ngobrol2 :). sebelum berpisah, dia bilang 'please take care, sister, not everyone is nice here'.
itu satu, masih ada lagi. Sesampai di stasiun yang dituju, aku keluar dan jalan kaki menuju RS. Waktu nyeberang jalan, ada mobil dengan beberapa wanita berjilbab di dalamnya. Mereka memandangku dan tersenyum. Sambil mempersilakan aku menyeberang, mereka mengangguk. Dari bibirnya bisa kubaca: 'assalamu'alaikum sister'..
Subhanallah.. setelah kejadian itu, kekhawatiranku pun hilang. Seolah2, Allah dengan lembutnya menggandeng tanganku keluar dari balik persembunyian, menuntunku dan mendukungku untuk berhadapan dengan orang2 yang tak kukenal.
Dengan dada lapang dan senyum mengukir wajah, aku melenggang menuju RS. Bismillah.. everything's gonna be all right. I'm not alone. Allah is with me.
Duh.. Robbi.. Engkau memanjakanku...
Post a Comment
<< Home