Thursday, July 03, 2008

Curhat panjang!

Warning: posting ini panjang. Setelah sekian lama kehilangan kata-kata, akhirnya intuisi untuk curhat kembali lagi. Hah haa.

***

Setelah sekian lama berhenti posting, .. kali ini kita cerita dengan cerita ringan-ringan dan lucu-lucu, aja, ya. :-). Ga posting sejauh ini, bukan karena ga ada yang bisa dibagi, tapi yang terjadi terlalu banyak, kadang sulit dicerna, dan jadinya ketika buka blogger... bingunglah mau mulai dari mana. Sama kejadiannya dengan menulis tesis ternyata. Buka halaman baru, nah lho, bingung juga harus mulai dari mana. :D.

Anyway, ngomong-ngomong soal tesis, defense tesis insya Allah awal Oktober nanti. Setelah berusaha sedemikian keras (cieee...) untuk selesai akhir Agustus, apa boleh buat. Demi kesehatan rohani dan jasmani, karena masih banyak yang perlu dikerjakan, perlu ditulis, perlu dianalisis, sementara libur musim panas udah dimulai (well, saya sih kerja terusss.. tapi para supervisor dan para laboran yang akan membantu menganalisa data tidak bisa diganggu gugat liburnya...), mari kita tarik napas, dan membuat rencana yang lebih masuk akal.

Mudah-mudahan hasilnya bisa maksimal nanti. Karena proses satu tahun ini, terlalu sayang untuk disia-siakan hanya karena diburu-buru waktu, yang sebetulnya ga perlu dipaksa buru-buru juga. Satu tahun ini banyak sekali yang dipelajari, bukan cuma masalah ilmu, tapi juga banyak hal-hal lainnya. Yang sangat berharga. Yang sekalipun ketika dijalani, sempat terpikir kok bisa ya survive sampai saat ini, .. tapi memang kok, Allah tidak pernah memberikan beban lebih dari yang bisa kita tanggung. Dan kalau dipikir-pikir lagi, membuat saya tersenyum juga. Bahagia. Ternyata satu tahun ini begitu menarik. Dah, dah, stop stop. Satu tahunnya baru akan berakhir bulan Oktober nanti, masih ada kurang lebih 3 bulan lagi untuk meneruskan petualangan ini :-). Dan kalau ini diteruskan, isi posting ini akan jadi berat kembali.

***

Saya ga percaya hari baik dan hari buruk. Semua hari adalah baik, tapi boleh dong kalau bilang hari ini rasanya aneh sekali. Ditambah ada kejadian konyol di lab MRI. Jadi hari ini, pertama kalinya saya pakai scanner yang satu ini (ada 4 scanner dengan medan magnet yang berbeda yang bisa dipakai). Karena beda scanner, maka protokolnya pun beda, jadi harus belajar lagi. Setelah diajari beberapa kali, akhirnya mentor saya membiarkan saya mengerjakannya sendiri. Satu kali, dia masih ikut ngelihatin.. lancar.. terus berikutnya dia bilang kalau dia mau ninggalin saya. OK, saya pikir. Ga sesusah itu kok ternyata mengoperasikan scanner ini. Ga lama setelah itu, dia datang lagi ketika saya sedang melakukan tuning frekuensi (kalau kata-kata ini membuat cerita ini jadi ga bisa dimengerti, skip aja istilah ini, intinya ada hardware yang harus saya pegang-pegang), manual, pake tangan. Saya di ruang scanner, dia di ruang kontrol. Lalu dia bilang, stop stop, kamu mutar ke arah yang salah, frekuensinya terlalu jauh. Dan selanjutnya, singkat cerita, saya membuat frekuensinya pindah terlalu jauh, dan monitor tuning di scanner tersebut nggak bisa memunculkan itu lagi. Jadi, kita ga tahu kita frekuensi kita sekarang ada di mana :D.

Akhirnya dia berhasil membuatnya bekerja kembali. Kita mulai tes sinyal keluaran dari scanner. Lah, kok bentuk sinyalnya aneh sekali ya. Waduh, jangan-jangan frekuensi tadi masih belum bener. Lalu dia panggil koleganya, anak PhD juga, yang kelihatannya lebih berpengalaman. Dia cek, puter-puter frekuensi lagi. Beres, katanya. Udah bener kok harusnya. Tes sinyal lagi. Lah, masih salah juga kayaknya. Putus asa, aneh sekali ini, akhirnya kita panggil sang guru, assistant profesor. Beberapa lama dia coba-coba cek frekuensi, pake alat tambahan segala, lalu dia bilang, OK, harusnya jalan.

Dia pergi, terus mentor saya ngeliat saya yang udah merasa bersalah dia bilang... well, kamu ga melakukan hal yang terlalu salah kok, cuma saya aja yang juga ga ngerti gimana nge-tuning balik kalau udah de-tuned terlalu jauh. Fiuh, lega. Tapi... waktu coba tes sinyal lagi, lhooo kok ga berubah?? Terus saya mulai berpikir, aduuh apa yang tadi saya lakukan yaaa?!

Akhirnya sang guru kita panggil lagi, terus mereka berdua sibuk di ruang scanner. Saya lagi ada telpon, jadinya saya keluar dulu. Ga lama dari situ, saya lihat sang guru keluar. Terus mentor saya juga keluar, dan dia manggil saya, sini, katanya. Terus dia serius gitu, dia bilang... "Saya tahu masalahnya." Dalam hati saya, waduh apa lagi ini. Terus lanjutnya, "Mungkin ini akan membuat kamu tertawa." Dalam hati saya lagi, duh, mungkin sesuatu yang bodoh nih.

Terus dia bilang, sini sini, sambil mengajak ke ruang scanner. Terus dia ngeluarin coil berisi sampel dari scanner (untuk melakukan MRI scan, sampel kita harus dimasukkan ke dalam coil, lalu coil dimasukkan ke scanner).. terus dia nunjuk ke sampel itu sambil bilang, "Nah, kamu tahu apa ini artinya, kan?". Ya ampuuun, saya bener langsung ketawa, bener-bener ketawa, ya mentertawakan diri sendiri, ya malu, ya, ya, ya. Jelas aja dari tadi sinyal keluarannya ga bener-bener, saya terbalik memasukkan sampel! Ilustrasinya gini: kalau kita mau men-scan otak seseorang, lah kok yang dimasukan malah kakinya? Ga masuk akal kan?!!
Duuh, maaf yaa, sampai buang-buang waktu 1 jam lebih buat akhirnya menemukan bahwa kesalahannya simpel. Dan mendasar. Dan memalukan!!

Ngomong-ngomong soal memalukan, kayaknya mentor saya yang satu ini udah maklum (dan sabar :D) lihat hal aneh-aneh terjadi sama saya :D. Ya yang pernah lupa satu step reaksi, padahal tertulis jelas-jelas di protokol, sampai akhirnya habislah usaha setengah harian kerja, ya yang lupa ini lah, itulah, dll. Tapi kalau saya lihat kembali apa yang terjadi di tesis saya ini, ... saya memulainya dengan berjalan kesana kemari, kurang lebih "sendirian", tersesat di tengah-tengah lab, betul, datangnya dia untuk bekerja sama (baca: mementori) untuk porsi besar dari tesis saya ini, seperti air di padang pasir (cie bahasanya :D). Dia salah satu orang yang berjasa mengajari banyak hal dari awal, mulai dari hal kecil seperti menggunakan pipet mekanik (!!) sampai hal penting seperti mengatur rencana eksperimen. Saya sangat bersyukur bahwa di tengah-tengah kejangaran dan keluarbiasaan tesis saya ini, dia adalah salah satu orang yang Allah kirim untuk menolong saya. Alhamdulillah.

Cukup sekian dulu, moral of the story: 1) kalau kerja jangan absent-minded; 2) di mana ada kesulitan selalu ada jalan; 3) pikirkan sisi positif dari segala sesuatu yang terjadi, itu akan membuat kita untuk lebih mudah untuk bersyukur.

Alhamdulillah,.. alhamdulillah. Allah maha baik, hanya kadang kita perlu mau untuk berusaha untuk mengerti kebaikanNya yang tak terhingga.

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home