Tuesday, October 07, 2008
Monday, October 06, 2008
Penghargaan
Salah satu kesan baik yang saya dapatkan di grup tempat saya mengerjakan tesis: perhatian. Profesor saya, beliau sungguh perhatian. Saya bisa merasakan perhatian beliau terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Saya merasa dianggap sebagai "seseorang" di lab, padahal bayangkan, betapa banyaknya urusan beliau. Saya sendiri rasanya perlu berpikir lagi, apakah saya sudah bisa membuat orang lain merasa sebagai seseorang yang penting.
Hari ini keluarga saya datang ke presentasi akhir saya. Profesor saya berkenalan dengan mereka. Salah satu supervisor harian saya meluangkan waktunya untuk mengantar mereka berkeliling ke lab-lab dan mendemonstrasikan banyak hal. Sungguh, saya merasa diperlakukan dengan sangat baik. Dengan penghargaan mereka terhadap keluarga saya, saya merasa keberadaan saya dihargai. Pertanyaan serupa: apa saya bisa berada di posisi seperti mereka?
Kadang kita terlena dengan posisi superior dengan penuh power, tapi lupa kalau posisi itu artinya tanggung jawab untuk melayani. With great power comes great responsibility, right?
Labels: inspiration, master journey, thesis
Done!
Sebelum momen-momen ini hilang... rasanya ingin kembali berpikir tentang apa-apa yang terjadi akhir-akhir ini. Setelah off 1 minggu kemarin --cerita tentang ini menyusul kemudian mudah-mudahan, saya kembali dengan pikiran yang lebih segar, hati yang lebih tenang, dan kepercayaan diri yang lebih besar. Satu minggu menuju hari yang telah ditunggu-tunggu: presentasi akhir dan defense project satu tahun ini!
Seminggu terakhir kemarin, sebagaimanapun sudah saya atur supaya ga terlalu tumpuk menumpuk, tetap banyak sekali yang perlu saya siapkan. Laporan belum juga final, sampai besok paginya laporan harus sudah masuk ke semua anggota examination committee, jam 5 sore saya masih bercakap-cakap di telepon untuk mengubah satu grafik yang juga akan mengubah kesimpulan. Sungguh, kalau ada hal yang sepertinya tidak pernah ada akhirnya, rasanya menulis tesis adalah salah satu di dalamnya. Untuk hal-hal seperti ini, kita perlu tahu kapan saatnya berhenti, dan ini bukan hal yang mudah. Selain itu saya harus membuat poster. Rencana awal, saya pikir poster ini tidak akan memakan waktu. Tinggal permak dari poster di research day sebelumnya, print, beres deh. Tapi kok rasanya gak sreg ya kalau ga ada siapapun yang proof-read? Yah, akhirnya poster ini pun memakan waktu lama. Akhirnya tinggal tersisa 3 hari untuk membuat presentasi! Saya yang biasa, mungkin akan panik, tapi alhamdulillah saya merasa sangat tenang seminggu kemarin. Sedikit demi sedikit dijalankan, dan ketika ga panik seperti itu rasanya otak bisa lebih berjalan.
***
Menghadapi defense ini bukan sesuatu hal yang biasa. Saya sudah mulai sakit perut memikirkannya sejak berminggu-minggu sebelum ini! Hanya membicarakannya saja membuat badan ini rasanya lemas. Seminggu lalu, selain mempersiapkan semua material yang dibutuhkan, saya mulai mempersiapkan mental. Mengobrol dengan orang-orang sekitar, terbuka untuk "membicarakan" ketakutan-ketakutan saya,... dan saya mendapat banyak encouragement yang membuat saya lebih kuat.
"You are not nervous, it's only your feeling. Keep thinking that you are fine".
"You have done a lot of things".
"Your work has been something to admire".
"Don't worry you know all things you've done proper enough".
Dan hari ini datanglah. Banyak yang hadir di presentasi terbuka (terimakasih semuanya). Buat saya, kehadiran orang-orang di presentasi saya banyak membantu untuk membuat saya merasa lebih tenang. Semua berjalan dengan baik. Alhamdulillah. Defense tertutup selama satu jam setelah itu pun berjalan lancar, dengan diskusi dengan 6 anggota examination committee yang sangat menyenangkan. Alhamdulillah...
***
Semua kerja keras telah terbayarkan. All pain worths. Setahun kebelakang ini betul-betul setahun yang tidak akan mudah saya lupakan. Entah apa yang telah terjadi, saya harus berhenti dan berpikir kembali, tapi semua kejadian-kejadian telah membuat saya menjadi saya yang saat ini. Saya yang lebih kuat, saya yang belajar untuk lebih "stand up", untuk lebih ... entahlah, banyak hal yang tidak bisa saya katakan saat ini. Tapi rasanya, saya bisa berkata, ya, saya telah menjadi setahun lebih dewasa. And I'm not sorry that I learnt it in a hard way.
Now I'm looking forward to the next surprises in life, which I know I can't expect it to be less tougher... Insya Allah.
Labels: master journey, thesis
Monday, August 04, 2008
Wooohooooooooooooooo!!!
I wanna scream!!
Alhamdulillah, finally I have nice results to write on my thesis :).
Some more measurements to go, but hopefully it will be OK as well.
So happy!!
Alhamdulillah.. alhamdulillah.
Labels: master journey, thesis
Tuesday, July 08, 2008
Luck?!
Akhir-akhir ini jadi memikirkan satu kata: luck.
Orang sering bilang, "Good luck!", ketika kita akan ujian, misalnya. Sebenernya betulkah yang kita butuhkan itu (semata-mata) luck? Toh banyak juga hal lain yang mempengaruhi keberhasilan seseorang, usaha, kerja keras, dedikasi juga doa? Tapi kenapa "good luck"?
Apakah artinya setelah sedemikian banyak usaha yang dilakukan, masih tetap ada unsur "luck" yang juga berpengaruh? Atau sesuatu yang lebih daripada luck?
***
Hari ini saya bersama dengan mentor saya punya eksperimen besar. Repetisi dan optimalisasi dari eksperimen sebelumnya. Persiapan eksperimen ini memakan cukup banyak waktu. Kami harus mengurusi 27 tabung kultur sel. Jam 4.30 sore kami melakukan eksperimen terakhir, yang melibatkan 15 dari total tabung tersebut. Pada satu langkah, kami harus memasukkan tripsin ke dalam tabung tersebut. Beberapa langkah setelah itu, kami akan men-fiksasi sel-sel tersebut, dengan paraformaldehide. Tripsin dan paraformaldehide tentunya dua hal yang jauh berbeda, namun sayangnya, botolnya sama. Tulisannya cuma pake tulisan tangan. Dan kecelakaan pun terjadi. Bukan tripsin yang masuk, namun paraformaldehide. Sel bukannya bekerja seperti yang diharapkan, tentu saja, sel-sel di 15 tabung itu semua mati. :-(.
Kalau sudah begini, apa ini yang namanya ga punya luck?
Atau kurang usaha dan doa?
Entah apa jawabnya.
Anyway, saya tadi ga tahu harus ketawa atau nangis. Atau lega. Lega karena rasanya ga akan ada hal yang lebih buruk dari ini yang bisa terjadi (?). Supervisor saya juga sedih, dan sepertinya juga merasa bersalah. Saya memang yang jelas-jelas salah memberikannya pada dia, tapi dia ikut merasa bersalah karena ga dobel cek. Dia mungkin lupa kalau mahasiswanya ini sering eksperimen sambil absent-minded.
Nah, mungkin terlepas dari masalah tadi luck atau bukan: saya harus belajar ga boleh absent-minded.
***
Mohon doanya. Setiap hari lihat kalender, waktu kok kayaknya seperti terbang, dan dengan hal-hal yang seperti saya ceritakan tadi, kok rasanya saya jadi makin merasa seraaam.... :-)
PS: untuk yang penasaran gmn reaksi saya tadi, beberapa potong percakapan:
saya: (sambil senyum) Yaah... setidaknya saya benar soal satu hal: eksperimen kali ini selesai lebih cepat.
dia: Yah, setidaknya kamu bisa senyum.
saya: Memangnya kamu mengharapkan saya nangis ya?
dia: Ya nggak, tapi juga nggak mengharapkan kamu senang.
saya: Saya nggak senang kok, senyum ga berarti senang, lho. Tapi ya, apa yang bisa kita lakukan sekarang. Ga akan ada yang berubah.
dia: Bener juga, daripada sedih lebih baik senyum aja.
... dst... dilanjutkan pembicaraan-pembicaraan lebih serius.
tapi kemudian setelah dia pergi (tapi tiba-tiba dia muncul lagi di belakang saya :D), saya ketemu anak PhD lain yang kita sering curhat-curhat.. saya bilang: duh, ga tau lagi harus nangis atau ketawa.. terus saya ketawa, tapi kok dalam hati rasanya sediiiiiiiiih banget ya. Ironis.
Yosh, masih ga tahu harus merasa apa, tapi yang paasti: sekali lagi mohon doanya.
Jumat ini saya (dengan senang hati) akan mengulang eksperimen ini lagi.
Labels: master journey, thesis
Thursday, July 03, 2008
Curhat panjang!
Warning: posting ini panjang. Setelah sekian lama kehilangan kata-kata, akhirnya intuisi untuk curhat kembali lagi. Hah haa.
***
Setelah sekian lama berhenti posting, .. kali ini kita cerita dengan cerita ringan-ringan dan lucu-lucu, aja, ya. :-). Ga posting sejauh ini, bukan karena ga ada yang bisa dibagi, tapi yang terjadi terlalu banyak, kadang sulit dicerna, dan jadinya ketika buka blogger... bingunglah mau mulai dari mana. Sama kejadiannya dengan menulis tesis ternyata. Buka halaman baru, nah lho, bingung juga harus mulai dari mana. :D.
Anyway, ngomong-ngomong soal tesis, defense tesis insya Allah awal Oktober nanti. Setelah berusaha sedemikian keras (cieee...) untuk selesai akhir Agustus, apa boleh buat. Demi kesehatan rohani dan jasmani, karena masih banyak yang perlu dikerjakan, perlu ditulis, perlu dianalisis, sementara libur musim panas udah dimulai (well, saya sih kerja terusss.. tapi para supervisor dan para laboran yang akan membantu menganalisa data tidak bisa diganggu gugat liburnya...), mari kita tarik napas, dan membuat rencana yang lebih masuk akal.
Mudah-mudahan hasilnya bisa maksimal nanti. Karena proses satu tahun ini, terlalu sayang untuk disia-siakan hanya karena diburu-buru waktu, yang sebetulnya ga perlu dipaksa buru-buru juga. Satu tahun ini banyak sekali yang dipelajari, bukan cuma masalah ilmu, tapi juga banyak hal-hal lainnya. Yang sangat berharga. Yang sekalipun ketika dijalani, sempat terpikir kok bisa ya survive sampai saat ini, .. tapi memang kok, Allah tidak pernah memberikan beban lebih dari yang bisa kita tanggung. Dan kalau dipikir-pikir lagi, membuat saya tersenyum juga. Bahagia. Ternyata satu tahun ini begitu menarik. Dah, dah, stop stop. Satu tahunnya baru akan berakhir bulan Oktober nanti, masih ada kurang lebih 3 bulan lagi untuk meneruskan petualangan ini :-). Dan kalau ini diteruskan, isi posting ini akan jadi berat kembali.
***
Saya ga percaya hari baik dan hari buruk. Semua hari adalah baik, tapi boleh dong kalau bilang hari ini rasanya aneh sekali. Ditambah ada kejadian konyol di lab MRI. Jadi hari ini, pertama kalinya saya pakai scanner yang satu ini (ada 4 scanner dengan medan magnet yang berbeda yang bisa dipakai). Karena beda scanner, maka protokolnya pun beda, jadi harus belajar lagi. Setelah diajari beberapa kali, akhirnya mentor saya membiarkan saya mengerjakannya sendiri. Satu kali, dia masih ikut ngelihatin.. lancar.. terus berikutnya dia bilang kalau dia mau ninggalin saya. OK, saya pikir. Ga sesusah itu kok ternyata mengoperasikan scanner ini. Ga lama setelah itu, dia datang lagi ketika saya sedang melakukan tuning frekuensi (kalau kata-kata ini membuat cerita ini jadi ga bisa dimengerti, skip aja istilah ini, intinya ada hardware yang harus saya pegang-pegang), manual, pake tangan. Saya di ruang scanner, dia di ruang kontrol. Lalu dia bilang, stop stop, kamu mutar ke arah yang salah, frekuensinya terlalu jauh. Dan selanjutnya, singkat cerita, saya membuat frekuensinya pindah terlalu jauh, dan monitor tuning di scanner tersebut nggak bisa memunculkan itu lagi. Jadi, kita ga tahu kita frekuensi kita sekarang ada di mana :D.
Akhirnya dia berhasil membuatnya bekerja kembali. Kita mulai tes sinyal keluaran dari scanner. Lah, kok bentuk sinyalnya aneh sekali ya. Waduh, jangan-jangan frekuensi tadi masih belum bener. Lalu dia panggil koleganya, anak PhD juga, yang kelihatannya lebih berpengalaman. Dia cek, puter-puter frekuensi lagi. Beres, katanya. Udah bener kok harusnya. Tes sinyal lagi. Lah, masih salah juga kayaknya. Putus asa, aneh sekali ini, akhirnya kita panggil sang guru, assistant profesor. Beberapa lama dia coba-coba cek frekuensi, pake alat tambahan segala, lalu dia bilang, OK, harusnya jalan.
Dia pergi, terus mentor saya ngeliat saya yang udah merasa bersalah dia bilang... well, kamu ga melakukan hal yang terlalu salah kok, cuma saya aja yang juga ga ngerti gimana nge-tuning balik kalau udah de-tuned terlalu jauh. Fiuh, lega. Tapi... waktu coba tes sinyal lagi, lhooo kok ga berubah?? Terus saya mulai berpikir, aduuh apa yang tadi saya lakukan yaaa?!
Akhirnya sang guru kita panggil lagi, terus mereka berdua sibuk di ruang scanner. Saya lagi ada telpon, jadinya saya keluar dulu. Ga lama dari situ, saya lihat sang guru keluar. Terus mentor saya juga keluar, dan dia manggil saya, sini, katanya. Terus dia serius gitu, dia bilang... "Saya tahu masalahnya." Dalam hati saya, waduh apa lagi ini. Terus lanjutnya, "Mungkin ini akan membuat kamu tertawa." Dalam hati saya lagi, duh, mungkin sesuatu yang bodoh nih.
Terus dia bilang, sini sini, sambil mengajak ke ruang scanner. Terus dia ngeluarin coil berisi sampel dari scanner (untuk melakukan MRI scan, sampel kita harus dimasukkan ke dalam coil, lalu coil dimasukkan ke scanner).. terus dia nunjuk ke sampel itu sambil bilang, "Nah, kamu tahu apa ini artinya, kan?". Ya ampuuun, saya bener langsung ketawa, bener-bener ketawa, ya mentertawakan diri sendiri, ya malu, ya, ya, ya. Jelas aja dari tadi sinyal keluarannya ga bener-bener, saya terbalik memasukkan sampel! Ilustrasinya gini: kalau kita mau men-scan otak seseorang, lah kok yang dimasukan malah kakinya? Ga masuk akal kan?!!
Duuh, maaf yaa, sampai buang-buang waktu 1 jam lebih buat akhirnya menemukan bahwa kesalahannya simpel. Dan mendasar. Dan memalukan!!
Ngomong-ngomong soal memalukan, kayaknya mentor saya yang satu ini udah maklum (dan sabar :D) lihat hal aneh-aneh terjadi sama saya :D. Ya yang pernah lupa satu step reaksi, padahal tertulis jelas-jelas di protokol, sampai akhirnya habislah usaha setengah harian kerja, ya yang lupa ini lah, itulah, dll. Tapi kalau saya lihat kembali apa yang terjadi di tesis saya ini, ... saya memulainya dengan berjalan kesana kemari, kurang lebih "sendirian", tersesat di tengah-tengah lab, betul, datangnya dia untuk bekerja sama (baca: mementori) untuk porsi besar dari tesis saya ini, seperti air di padang pasir (cie bahasanya :D). Dia salah satu orang yang berjasa mengajari banyak hal dari awal, mulai dari hal kecil seperti menggunakan pipet mekanik (!!) sampai hal penting seperti mengatur rencana eksperimen. Saya sangat bersyukur bahwa di tengah-tengah kejangaran dan keluarbiasaan tesis saya ini, dia adalah salah satu orang yang Allah kirim untuk menolong saya. Alhamdulillah.
Cukup sekian dulu, moral of the story: 1) kalau kerja jangan absent-minded; 2) di mana ada kesulitan selalu ada jalan; 3) pikirkan sisi positif dari segala sesuatu yang terjadi, itu akan membuat kita untuk lebih mudah untuk bersyukur.
Alhamdulillah,.. alhamdulillah. Allah maha baik, hanya kadang kita perlu mau untuk berusaha untuk mengerti kebaikanNya yang tak terhingga.
Labels: master journey, thesis
Tuesday, April 29, 2008
berkomunikasi...
Di antara sekian banyak vacancy yang sering saya lihat di papan pengumuman kampus, seringkali saya melihat salah satu syarat ini:
"Since this project will require collaboration with many investigators from various backgrounds, good communicational skills are a prerequisite."Selalu terbayang oleh saya, pekerjaan yang melibatkan banyak orang adalah hal yang sangat menarik. Sungguh menyenangkan bisa terlibat di suatu proyek yang kita memiliki posisi sendiri, tapi juga tetap perlu berkolaborasi dengan orang lain agar semuanya tetap bisa berjalan dengan baik.
Project terakhir kali saya, juga melibatkan banyak orang. Neurobiologist, MR technologist, dan computer scientist. Saya kurang lebih ada di posisi computer scientist. Bekerja di proyek tersebut berjalan sangat lancar, terutama karena setiap orang mempunyai fungsi masing-masing dan bekerja sesuai fungsinya.
Sekarang ini, untuk project thesis saya, saya juga perlu berhubungan dengan banyak sekali orang. Seorang chemist, biologist, dan MR technologist. Bedanya, saya sekarang berada di tengah-tengah. Mereka semua adalah supervisor saya, dan saya perlu mengerjakan semua hal itu. Berkomunikasi dengan semuanya bukan hal yang mudah, terutama karena satu hal berhubungan dengan yang lain, dan saya yang harus menjadi "mediator"-nya. Tapi memang, menyenangkan sekali mengerjakan sesuatu yang dinamis seperti ini. Saya belajar banyak, insya Allah, termasuk belajar mengenai diri saya sendiri... :-)
Jadi kalau melihat kalimat di vacancy di atas, saya jadi berpikir: memang benar, berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda itu, ... sama sekali bukan hal yang mudah. Kadang-kadang bikin frustasi, tapi kalau saya diberi kesempatan untuk melakukannya lagi, ... saya ga akan ragu-ragu untuk mengambilnya.
Labels: inspiration, master journey, thesis
Thursday, April 03, 2008
9-to-5
Pergi lebih pagi, pulang lebih malam.
Ditambah dua tempat kerja yang terpisah kurang lebih 7 km, kebutuhan untuk datang di dua tempat dalam satu hari membuat lebih banyak waktu terpakai untuk perjalanan, dan energi terpakai untuk bersepeda. Pulang-pulang sangat lelah. Namun dalam tidur pun banyak hal terpikirkan.
Kata siapa masa-masa mengerjakan project itu 9-to-5? :)
***
Note: bukan protes, karena kok hari-hari seperti ini lebih menyenangkan daripada duduk tenang di depan komputer berjam-jam, ya? :)
Labels: master journey, thesis
Friday, January 25, 2008
curhat akhir minggu
Alhamdulillah.. mengakhiri minggu yang sibuk ini dengan berkencan ;)). Walaupun bukan dia yang menginisiasi (karena dia sering bilang dia lebih seneng makan masakan istrinya di rumah ;)) hehe, pinternya suamiku :), seneng sekali juga rasanya. La-la-la. Bisa ngobrol sambil makan, 3 jam! (Ya, sebenernya, setiap hari juga kerjaan kita ngobrol terus juga sih :D). Ga rugi (walaupun agak nyesel) bayar mahal, karena udah lama sekali juga nggak makan di luar dengan "proper course". Kita makan masakan india, setelah cari-cari ternyata ada restoran India yang menyediakan makanan halal di Eindhoven, silakan buka di sini. ***
Dua minggu ini padat sekali. Minggu lalu kursus di universitas, jadi setiap pagi bersepeda 20 menit ke universitas, di siang hari 30 menit kembali ke tempat kerja, dan sore hari 15 menit pulang ke rumah. Setelah sering bersepeda, akhirnya kemampuan bersepedaku bertambah juga (dulu, orang tua aja bisa nyusul aku, sekarang udah bisa nyusul dong :D). Jadilah minggu lalu itu banyak kesana kemari, dan rasanya riweuh. Kursus padat, termasuk harus presentasi progress dan rencana riset di grup, juga eksperimen yang masih pengen dikejar. Awal minggu ini dilalui dengan perasaan bahwa minggu ini akan lebih ramah, tapi ternyata salah :D. Hari senin dimulai dengan menyiapkan sampel dan memang, sedikit bisa bersantai :). Tapi kemudian, hari selasa diawali dengan menyadari kalau 20 tube sampel semuanya salah hitung! :-( Habislah setengah hari untuk membuat sampel ulang (mana pake tumpah segala, huahua). Siangnya, ngukur di lab MRI. Dan ngukur 20 tube artinya: nyalain komputer, buka pintu ruang scanner yang berat itu, jalan beberapa meter, masukin sampel, jalan lagi, tutup pintu ruang scanner (masih yang berat itu juga), jalanin scanner, tunggu 2 menit, buka pintu ruang scanner, jalan lagi, ganti sampel, tutup lagi, seterusnya 20 kali bulak balik. Kalau kayak gini setiap hari, aku bakal sehat kuat! :D. Hari rabu dan kamis, nggak jauh-jauh dari scanner, walaupun dengan pekerjaan yang sedikit berbeda. Baru hari jumat ini, akhirnya bisa duduk lega di depan workstation (istilahnya..), baca paper, bales email, mrogram sedikit. Oh, hidup ini memang bisa terbalik-balik. Beberapa saat yang lalu rasanya saya bosan sekali duduk di meja kerjaku, tapi malah beberapa hari terakhir ini, bisa duduk sambil membaca dengan tenang adalah hal yang mahal!
***
Sangat bersyukur, bahwa saya mendapatkan supervisor baik yang juga seorang pendidik. Seseorang yang bukan saja bisa menjadi guru dan teman diskusi yang bisa membantu saya untuk memahami sesuatu dengan lebih mudah dan menjaga arah pekerjaan di jalan yang semestinya. Tapi juga, seseorang yang mengerti bahwa proses belajar itu tidak akan pernah berhenti, yang menghargai bahwa saya sedang berusaha sebaik-baiknya, dan yang memahami bahwa seorang motivator akan membantu saya untuk optimis bukan saja dalam bermimpi, tapi juga: untuk bangun dan mewujudkan mimpi saya.
***
Ya Allah, berkahilah,.. dan mudahkan proses ini.
Izinkanlah agar kami semua menyadari akan ilmu-Mu dan tunduk akan kebesaran-Mu.
Labels: master journey, thesis
Monday, November 26, 2007
minggu-minggu awal kembali...
Sudah 3 minggu sejak kembali settle di Belanda. Minggu pertama diisi dengan kesibukan mencari dan beres-beres rumah. Alhamdulillah dapet rumah ga terlalu jauh dari tempat kita berdua kerja (ok.. saya belum kerja, tapi anggaplah thesis internship sebagai bekerja juga).
Belanda sudah mulai musim dingin. Musim dingin ini tampaknya lebih dingin dari musim dingin tahun lalu. Akhir-akhir ini di Belgia dan Jerman sudah mulai bersalju, .. kapan ya salju datang ke Belanda? :). Di Belanda seringkali suhunya dan anginnya saja yang dingin, tapi salju selalu malu-malu turun. Sekalinya turun, ga bertahan lama karena langsung diguyur hujan.
Mulai November ini tesis sudah dimulai. Belum ada yang spesial, kecuali baca paper-paper setiap hari :D. Dalam satu minggu, 4 hari di perusahaan, dan satu hari lainnya di grup di universitas. Kombinasi yang baik. Berbeda dengan keadaan di grup di universitas, di mana saya adalah satu-satunya mahasiswa asing (kecuali satu orang lainnya, yang adalah PhD student), di perusahaan ini justru didominasi oleh mahasiswa asing! Dari sekitar 20 orang mahasiswa yang sedang internship, hanya beberapa orang Belanda, yang lainnya orang Perancis, orang Jerman, Spanyol, Portugis, Cina, dan tentunya Indonesia :). Alhamdulillah, saya dapat grup yang menyenangkan, dan perbedaan latar belakang ini membuatnya lebih menarik.
Tesis ini akan banyak melibatkan eksperimen, dan karena itu di awal-awal seperti ini belum bisa mandiri :(. Jadwal harus disesuaikan dengan jadwal orang-orang yang akan me-mentor-i, dan juga, jadwal kalau mesinnya ga lagi ngadat :). Tapi dua minggu ke depan ini, insya Allah eksperimen sudah mulai bisa berjalan. Besok buat campuran, besoknya lagi pengukuran, besoknya lagi buat emulsi, dan minggu depannya, MR scanner sudah di-book untuk saya pakai setiap hari! Exciting!! Belum lagi juga rencana untuk "jalan-jalan" ke Belgia, karena alat yang diperlukan untuk salah satu pengukuran tidak ada di Belanda. Wah, semakin menarik :D Hehe, mudah-mudahan bukan hanya impian, karena kesempatan untuk bisa berkolaborasi seperti ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga. Tapi di atas itu semua, mudah-mudahan rencana eksperimen pertama ini bisa berjalan lancar sesuai rencana. Amiiiin.
Dari beberapa minggu awal ini, saya juga belajar kalau kita ga boleh diam saja untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau kita ga mengkomunikasikannya dengan baik, orang lain juga ga akan tahu. Dan mereka ga punya kewajiban untuk mencari tahu, tentunya. Dan karena kita sendirilah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kita sendiri --dan bukannya orang lain, kita yang harus memastikan bahwa setidaknya kita sudah berusaha untuk mendapatkan apa yang memang layak kita dapatkan.
Tiga minggu pengalaman baru --di tempat baru, baik rumah maupun tempat kerja, alhamdulillah. Memang ya, ada seseorang ketika pulang ke rumah (atau bahkan seseorang yang menemani pulang di sore hari :), ada seseorang yang membuat malam-malam tidak dilalui dalam kesendirian.. sungguh.. adalah kenikmatan yang betul-betul perlu disyukuri.
Labels: master journey, thesis
Friday, October 19, 2007
On loving your life
My supervisor from the Netherlands visited me at the Howard Florey Insitute (HFI) today. He came to Australia for a series of lectures and conferences, and this afternoon at Neuro Imaging Group, HFI was one of them.
Talking about my supervisor, I think I learned a lot of things from him. Since the first time I met him last year, when I visited his lab during my first visit to the Netherlands. The very first thing I learned from him is being a good listener. I remember him asking me, at that time, about what I expected to have in my master degree. I was impressed that he was really willing to listen to everything I said, very carefully, and gave very supportive comments. Another surprise came by the fact that he learned about myself before meeting me; he said several things that no way he could say it unless he has gone through my application thoroughly.
Few months later I started my master, officially under his supervision. He was the one to whom I could talk when deciding what subjects to take, etc. I had more contact with him when I took a short internship project under his supervision. He was really a great supervisor; he made me work independently while also gave something to hold on. Every meeting we had was so motivating; his questions were always intriguing. I walked out his office, always, with more enthusiasm in digging the project much more.
What I admire most from him, is how he spreads his passion in his expertise to other people. I can always feel that he loves what he is doing. He adores the science --the field-- he is working on; he tells people that he found it amazing. He taught people interesting concepts and not making them bored, because I can feel that he himself thinks that it is interesting.
Do what you really love. That's what he advised me this afternoon when I said that I was still floating of what I want to be in the future. I had a chance to talked to him privately on my desk this afternoon during his visit. I also told him what I have decided for my master thesis, which would unfortunately not be under his supervision --I have decided to have broader view in the field also to really find out what I enjoy most. I am very happy that he was on my side, and that he also looked happy with my choice. I should have told him that I appreciated it a lot.
He told me that he was never stressed. That he always enjoyed his work. "I never work, I do my hobby every day," said he, "never I said: 5 o'clock already, time to start my other life." "For me, this work is part of my life."
***

Dedicated to Prof. Bart ter Haar Romenij.
For the life lessons I always learn everytime we talked
Labels: inspiration, master journey
Saturday, September 08, 2007
half way greetings
Time flies --I know this may sound cliche, but really it's already a half of my stay in Australia. Neuro Imaging Group at the Howard Florey Institute is really a wonderful place to work. Comfortable environment, nice project, and lovely people. The project is interesting and challenging; I don't get bored at all! The people too seem to put much interest to what I am doing, and they are really eager to brainstorm with me. In short, I am more than happy and enjoying it a lot. I really hope I can get good result; I'll see in a couple weeks.
I don't do much traveling anymore during weekend, only a relaxing one in the city. Trying various yummy food --there are a lot of halal restaurants in Melbourne, amazing! Here is the list in case you want to give it a try, too ;).
I think I'll miss Melbourne --agree to a survey result that Melbourne is the most livable city in the world.
Labels: australia, master journey
Wednesday, August 01, 2007
Australia, the very first impression
Today was my first day working in Australia. I was a bit anxious this morning (and my parents called me before I left, thank you :*), but it turned out that I was worried for no reason. My supervisor is very helpful and the other colleagues are also very nice. The project also looks very interesting; I hope three months will not be too short to complete it.The institute where I work for my internship is an institute associated with the university of Melbourne, the Howard Florey Institute. The main focus in the institute is on the neuroscience and related field; and therefore, I am also working on the brain, in the neuroimaging group.
***
I think Australia is very multicultural (or perhaps it is only the case for Melbourne). I always hear a lot of strange languages in the tram (and one of them is Greek; I got the clue because the people who were speaking was holding a Greek newspaper :D). Furthermore, it seems that the multicultural environment also gives people more understanding about other people and their culture.
As for a simple example (for me), there are a lot of restaurants (I really mean A LOT, and even in the city centre, it is very easy to find) which offer halal food. The group leader in my workplace was also aware about this, as she told me some places around the campus that sells halal food. She even asked me whether I would like to have a prayer room inside the building, to which I replied yes :). There are other prayer rooms inside the university, a very big one, which is also nice that a lot of people gather during prayer time.
The image that I got from the people in the Australian embassy still stay the same. I still find that people are very friendly (which might also be that they are used to multiculture? No idea). They still somehow greet you on the street. People still say thank you to tram driver. Younger people still give up the seat to older people in the train.
The city is (very?) big. The architecture of the buildings in the city is somewhat unique, eventhough I think the suburb area (where I live) has the same atmosphere as Cianjur :D, a place between Bandung and Jakarta in Indonesia. The university is very old; the buildings are old for sure (except a few of them including my office). The university has different atmosphere that I used to have in Indonesia, Japan, or the Netherlands, and I like it. I don't know how to explain it, but I hope I will have a chance to take some pictures and share them here. I walked around the university yesterday; students were walking from one building to another carrying thick textboox and notes, some of them were having lunch with some friends on the bench. I miss university, for sure, friends, lectures, all of them!
***
My first impression to Australia is still good until now (ouch, except that the money exchanger takes very high handling fee, and you can bargain it!). Hopefully three month stay will be meaningful and enjoyable. :).
Picture: Alan Gilbert building, my office.
Labels: australia, master journey, travel
Thursday, June 28, 2007
Leganya...
Alhamdulillah, legaa... Selesai (juga) internship di rumah sakit ini. Apa ya yang udah didapat? Banyak.
Dari sisi teknis, belajar tentang format standar untuk menyimpan data berupa sinyal fisiologis, belajar tentang CFM (cerebral function monitoring) untuk bayi-bayi yang baru lahir, ngotak-ngatik filter di Matlab lagi, belajar melihat sinyal-sinyal dan mengenali maksudnya, melihat pengukuran sinyal fisiologis pada pasien (EOG, EEG, EMG), ...
Dari sisi lain, belajar "fit in" di lingkungan yang beda (contohnya: duduk satu meja setiap makan siang, semua orang bicara dengan bahasanya, saya ya.. ya.. pusing mendengarkan :D), belajar sabar, belajar mengenali keinginan sendiri (sulit ternyata ya), belajar bertanggung jawab pada pilihan, belajar bersyukur, dan... apalagi ya? Oh ya, tentu saja: belajar mengenai ritme hidup rumah sakit dan bertambahnya list orang-orang yang perlu dikontak di masa yang akan datang! Insya Allah.
Lebih banyak seharusnya yang bisa didapat.. andaikan saya yang mengejarnya, dan tidak menunggu mereka datang. Dan.. ups, andaikan saya lebih mau mensyukuri dan menikmati apa yang dimiliki.
Tapi, ga ada penyesalan sama sekali. Semuanya adalah proses. Dan saya bersyukur salah satunya telah dilalui. Dan mudah-mudahan banyak manfaatnya.
Dan hari ini, setelah menyerahkan semua laporan, ditutup dengan satu box strawberry pie ... (dan kali ini perbincangan di meja makan berbahasa Inggris, hihi :P) hari-hari (panjang) ini selesai. Alhamdulillah...
MMC Veldhoven, 28 Juni 2007
Labels: daily, master journey
Wednesday, June 27, 2007
Waktu: berlari sekaligus merangkak
Baru aja pulang dari kampus. Malam-malam buta. Iya ya, waktu itu memang cepaaaaat sekali berlalu. Sambil bersepeda pulang saya berpikir, kapan ya terakhir kali pulang dari kampus malam-malam begini, karena panik mau ujian dan belajar sama teman-teman sampai malam. Terakhir kali rasanya sudah beberapa bulan yang lalu. Setelah itu, sibuk dengan ritme hidup yang lain untuk beberapa bulan.. sampai akhirnya malam ini, kembali lagi ke kampus.
Hmmm,... mungkin ini terakhir kalinya seperti ini ya... Ujian lusa adalah ujian terakhir tahun ini. Yang juga formalnya adalah ujian terakhir masa-masa harus mengambil matakuliah. Karena tahun berikutnya akan diisi oleh tesis. Dan sekalipun ada kuliah yang diambil, mungkin suasananya nggak akan sama seperti saat ini. Hmm.. hontouni saigo kana... :)
Waktu terus berjalan, hidup juga harus terus maju,... dan artinya peran dalam hidup ini juga akan bergilir dan berganti.
Sekarang mahasiswa, besok bekerja. Sekarang jadi istri, besok jadi ibu (dan insya Allah masih jadi istri juga :). Sekarang hidup, besok mati. Duh, semoga hidup ini penuh manfaat dan hanya untuk mencapai ridho-Nya saja
***
Ironis ya, di saat tiba-tiba tersadarkan bahwa waktu itu berjalan cepat sekali... di sisi lain saya malah sedang merasakan detik-detik yang rasanya lambat sekali berganti.
Menanti hari.
Hmph, mohon doanya Jumat ini suami saya sampai di sini dengan selamat ya. Amin.
Labels: inspiration, master journey
Tuesday, June 26, 2007
Student house
Hampir setahun ini saya tinggal di sebuah student house, bersama-sama dengan dua orang mahasiswa asing lainnya. Satu mahasiswa master yang satu angkatan dengan saya dari Cina, dan satu lagi mahasiswa Erasmus exchange* dari Spanyol. Tahun yang lalu ketika saya melamar akomodasi di sini, saya meminta pihak universitas untuk mencarikan saya tempat di space box. (Sesuai namanya, memang ini adalah box besar, satu ruangan berisi segala macam: tempat tidur, dapur kecil, dan shower room kecil). Saya ingin tinggal di space box, karena selain letaknya di dalam kampus, juga karena sepertinya saya akan lebih punya privacy. Apa boleh buat, ternyata saya mendapatkan sebuah student house, bukan space box seperti impian saya. Di student house ini saya berbagi living room, dapur, dan kamar mandi. Namun demikian, berbeda dengan pengalaman saya tinggal di ryuugakukan (dormitory) di Jepang dulu. Di sini saya punya kamar (dan benar-benar kamar dalam arti bisa dikunci, cukup besar, dan cukup leluasa untuk menyimpan segala macam barang) sehingga saya tetap punya privacy. Selain itu, ternyata tinggal bersama-sama teman asing lain membuat saya menjadi lebih nyaman dan tidak kesepian. Dan alhamdulillah, housemate saya tersebut perempuan semuanya**.
Teman Spanyol saya hampir setiap weekend ada di rumah. Menemani weekend saya yang lebih banyak di rumah juga. Kadang-kadang kami bertukar resep juga (masakan-masakan ala mediteraniannya wangiii :). Sedangkan dengan teman Cina, kami sering mengobrol hal macam-macam, dari yang kecil sampai penting (seperti masalah perjodohan :D hehe, itu penting ya).
Sudah seminggu ini, ibu teman Cina saya datang dan tinggal di rumah kami. Dengan datangnya sang ibu, rumah kami jadi tambah ramai. Setiap malam selalu saja banyak teman Cina yang datang untuk makan malam bersama sang ibu (saya juga kadang-kadang kebagian :D). Ibu tersebut terlihat menikmati hari-harinya di sini. Saya sering berkomunikasi dengan sang ibu dengan bantuan terjemahan teman Cina saya. Dan ternyata, berkomunikasi itu tidak selalu harus mengerti bahasa mereka ya, dengan keinginan untuk mengerti (dan tahu konteksnya) ternyata bisa juga mengerti. Kemarin saya ikut di dapur ketika sang ibu membuat pancake (bahasa aslinya: Jian bing 煎饼 ) , ibu tersebut memberikan mangkok kepada saya dan mengatakan sesuatu. Entah kenapa, saya mengambilnya dan menuangkan air ke dalamnya. Ketika ibu itu bilang sesuatu, saya berhenti. Sang ibu lalu tertawa. Katanya, saya seperti betul-betul mengerti apa yang beliau katakan. :D
Ah, tak terasa sebentar lagi saya akan meninggalkan student house ini, sepertinya saya akan merindukan suasananya...
****
Catatan:
*) Mahasiswa-mahasiswa di Eropa seringkali melakukan exchange pada satu waktu di dalam masa studinya. Hal ini memungkinkan karena adanya Erasmus program, pertukaran antarmahasiswa di negara Eropa selama 6-12 bulan
**) di Belanda adalah hal yang biasa jika di dalam student house laki-laki dan perempuan tinggal bersama-sama, dan untuk saya yang baru saja datang, memilih rumah tidak bisa dilakukan tawar-menawar. Ditawari, kalau suka silakan ambil, kalau tidak silakan cari sendiri --wah, repot kalau ini urusannya.
Gambar: Apartemen yang menjadi student house saya. Saya tinggal di lantai 3.Labels: daily, master journey, netherlands
Saturday, June 16, 2007
broodje kaas
Next Tuesday I will have an oral exam for my Dutch course. I am supposed to prepare two topics: one is chosen from a text in the course book, and another one can be any that I would like to talk about.

For the first part, I chose a text about Dutch culture. The title of the text is "De broodlunch als struikelblok", or translated as "The bread lunch as an obstacle". Why does the bread lunch give the obstacle, anyway? Well, I think the title was inspired from the fact that foreigners cannot get used to (or even cannot stand) having bread for lunch. Very typical Dutch lunch: broodjekaas (cheese sandwich) and milk. No warm meal for lunch.
The Netherlands is very multicultural. Almost 3 millions foreigners live there (and if you are wondering, the total population is about 16 millions; so, 3 millions is significant). For a foreigner who has just come, it is not only the original Dutch culture itself he has to deal with, but also with the multi-culture. So, it is often the case that the company where these expatriates work offer a culture-shock training. The cost for expatriate is high (both from financial and time point of view), and thus losing an expatriate due to cultural problem is certainly something they want to avoid. Anyway, recent statistics have shown that about 10% from the expatriates (from 159 countries!) was unsuccessful to cope with this cultural problem.
*Uh, I do hope you (or we?) will do fine, honey!*
So, what are the main obstacles for foreigners living in the Netherlands?
1) Nederlandse overleggen
Um, I don't know what is the correct translation for this. But it's mainly about the "discussion" culture. The endless meeting, the other discussion at the end of the meeting (eventhough the decision has been made), everyone-should-speak rule. In short, they do decide everything together!
2) Directheid
The people are direct in speaking out their mind. So, often foreigners need to aware of this for not to regard it offensive. The flat hierarchy in the society gives freedom for people to address their opinion to just anyone. For example, in professors - students relationship, there is almost no barrier and informal.
3) Gereserveerheid
Keeping the distance. There is a border between work and private life. Your colleagues at work are not your friends outside work. They don't hang out together after work, for example. *Hmm, this reminds me of Japanese culture which is completely opposite :D* Activities out of work are never spontaneous, and appointment is always needed. *Well, in Holland, even when you want to get your hair cut (!), you should make an appointment. It's just the way how they manage time*
Interestingly, Meg Lota Brown, an American from the Holland Relocation, explained the reasons behind these consensus. She looked at the geography of the Netherlands: no mountains, densely populated, and surrounded by sea. No mountains, no place to hide. Therefore, people are direct. Densely populated: the physical space to live in is limited. Therefore, psychological space needs to balance. Privacy is highly valued. Surrounded by sea (and with the northwestern part is under the sea level), flood threat! They cannot work against it unless they cooperate, so, here it comes the endless discussion culture.
===
As for me, the culture shock surely came (or keep coming) to my way, ... but I don't take it too hard. Living (or at least spending time) together with other foreign students share the feeling and make me at ease.
I do hate the bureaucracy (everything takes too much time), and keep me hoping "I wish I were in Japan" (everything so fast there!); but I love the coffee time here where everyone at work can get together (regardless how much time you spend on talking something unimportant, or as for me, only sitting around listening to no words :D) . The people are indeed direct and sometimes what they say can hurt, but forget it, they are nice on the other way.
Oh yes, and I love bread + cheese (including for my lunch). It's easy and fast.
So, life here is not bad at all. I enjoy every single time I have here, and I hope when my beloved comes it will be more enjoyable.
excerpt from Berna de Boer, Birgit Lijmbach. Nederlands in actie. Uitgeverij Coutinho.
Labels: master journey
Thursday, June 14, 2007
Vertel me...
While I was taking a little bit rest for my eyes, which are suffering from looking at the signal for hours, I caught a disturbing --and yet interesting-- sentence on a board in my room:
"Vertel me nog eens wat een geluk ik heb om hier te mogen werken..."Hehe, I think that suits me a lot (very often and) at the very moment. :D
"Ik vergeet het steeds"
Labels: inspiration, master journey
Wednesday, June 13, 2007
Run (not) away!
Everyday I need much more energy than I have.
It is just two and a half weeks until the semester ends. The load of work in the hospital is increasing. More deadlines are approaching! I have Dutch exam tomorrow, in which I dedicated too little time for it. I hope being exposed to the Dutch speaking environment --at least every lunch time, will help me to survive in the exam. Deadline for image analysis project. There are still SO MUCH to do, the program just doesn't run in the way that we expected. The exam that is also scheduled in the same day of the project deadline just makes it worse. Piles of papers to read just make us anxious before we can even try to turn the first page.
Really hope two and a half weeks will pass so fast. I am just very exhausted at the moment. Need to run (not away :P), just to be sure that I won't miss the next stop.
Goodluck for all of you, too.
===
PS.
more energy is needed since I have started enjoying biking 1,5 hours a day to (and from) my workplace. ;).
Labels: master journey
Monday, May 07, 2007
Dokter-engineer relationship
Internship hari pertama saya di rumah sakit, di Maxima Medisch Centrum Veldhoven, disambut dengan cuaca Belanda yang kembali normal. Kembali normal di sini, artinya: hujan seharian, berawan, dan berangin! :) Sudah satu bulan kurang lebih semua orang "mengeluhkan" cuaca yang tidak seperti biasanya, walaupun keanehan yang berupa matahari bersinar tiap hari tanpa hujan adalah hal yang juga perlu disyukuri. Bulan April lalu memang ekstrim menurut ukuran Belanda, sangat panas (hingga 25 derajat, normalnya 12-15 derajat untuk bulan April) dan sangat kering (curah hujan 0.3mm, normalnya 40 mm). Hari ini sudah saya tunggu-tunggu sejak lama, internshipnya tentunya --bukan cuaca yang kembali ke normal :). Salah satu yang ada di bayangan saya ketika mendaftar ke jurusan Biomedical Engineering adalah "bekerja" di rumah sakit. Saya pernah (dan masih) bermimpi bahwa para dokter bisa bekerja berdampingan dengan engineer, dan sebaliknya. Di Belanda ini saya melihat mimpi saya itu bukanlah mimpi. Dalam kuliah-kuliah saya, kadang dokter-dokter diundang untuk mengisi beberapa sesi kuliah. Sebaliknya, terdapat pula departemen riset di rumah sakit di sini. Engineer memiliki tempat yang baik di rumah sakit, sebagai partner dokter. Dokter juga terbuka untuk belajar teknologi dan bersedia untuk berkonsultasi dengan engineer (dalam kasus yang lebih spesifik:clinical/medical physicist) dalam hal yang berhubungan dengan teknologi, seperti: bagaimana caranya agar sinyal otak bayi ini bisa ditangkap dengan baik, bagaimana set-up mesin MRI ini supaya "lesion" ini terlihat dengan lebih jelas, dll. Dokter bekerja sama dengan engineer untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasiennya.
Ternyata mimpi yang sudah bukan mimpi di Belanda ini, berdasarkan penuturan teman-teman dari negara lain di Eropa ini, belumlah menjadi kenyataan di negara-negara lainnya (kecuali Inggris? --Inggris kabarnya lebih maju daripada Belanda untuk masalah seperti ini). Seorang teman dari Portugal juga mengagumi hubungan dokter-engineer di Belanda ini. Untungnya, negara-negara yang tergabung dalam European Union terikat dengan regulasi bahwa ke depannya rumah sakit haruslah memiliki hubungan dokter-engineer yang ideal seperti ini. Tapi intinya, Indonesia tidaklah tertinggal jauh untuk membangun hubungan ideal seperti ini.
Hubungan dokter-engineer yang baik akan memungkinkan keterlibatan teknologi yang lebih maju dalam pelayanan kesehatan, tapi untuk mewujudkan ini, dibutuhkan juga proses transfer teknologi ke dunia nyata (baca: rumah sakit). Dibutuhkan usaha yang persisten untuk membuat semua pihak yang terlibat dapat menggunakan teknologi yang ditawarkan. Para dokter, residen, dan tentu saja perawat, perlu diajarkan bagaimana untuk memanfaatkan teknologi ini dengan baik. Saya ingat ketika terlibat kecil-kecilan ketika BME ITB membuat program komputer untuk diterapkan di pusat kesehatan, beberapa training rutin dilakukan untuk para dokter untuk memakai program ini. Begitu pula di sini, training dilakukan untuk para medical practitioner untuk transfer teknologi ini. Perlu banyak effort, tapi satu yang saya salut: dokter yang "dituakan" yang justru mendorong supaya teknologi ini diterapkan :)
Dokter yang mau membuka diri terhadap teknologi, dan engineer yang mau mengerti bahwa dokter memakai "sense" dalam memecahkan masalah, adalah kombinasi yang saya yakin baik untuk mencapai hubungan dokter-engineer yang ideal. Masing-masing pihak harus mau beritikad baik (hehe, bahasa pancasila banget :p) untuk bekerja sama. Membuka hati dan pikiran, dan terbuka untuk menerima kehadiran pihak yang lain. Di Indonesia hubungan ini sedikit demi sedikit sudah mulai dibangun. Saya yakin, suatu saat --demi kemajuan dan kemaslahatan bersama, dengan usaha yang konsisten dan niat yang baik, hubungan dokter-engineer yang ideal ini akan (atau harus!) tercapai.
Para (calon) dokter, --dan engineer, ada komentar? :)
*** Disclamer: hanya ungkapan pikiran, bukan umbar janji bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam pelaksanaannya :)
gambar dari: www.win.tue.nl
Labels: master journey




