Tuesday, August 22, 2006

Si peko dan si poko


Seperti adil itu tidak selalu harus sama,
ideal juga tidak harus selalu sempurna.



Si merah peko dan si hitam poko di atas, hadiah nikah dari seorang teman Jepang. Si poko sekarang jadi milik saya, sedangkan si peko milik suami.

Saat ini, si poko dan si peko terpaksa tidak bisa disimpan berdampingan, ya. Si poko dan si peko sedang diberi kesempatan untuk belajar banyak bersabar. Masih ada peran --yang sayangnya di tempat yang terpisah, yang perlu ditunaikan.

Si poko besok akan menemani pemiliknya menyeberangi lautan. Sedangkan si peko, insya Allah, tetap di sini hingga saatnya si poko kembali... Untuk kemudian bersama-sama meneruskan langkah, merengkuh cita.

Mohon doanya, ya...

5 Comments:

Blogger sitaslide said...

iyaya...
si poko dan si peko harus banyak bersabar..
insya Allah pasti ada ganjaran dari kesabarannya itu..
hehe..
ttdj ya des..
really miss u..
hope can visit u someday..
:)

takecare..
am..

6:18 PM  
Blogger Yustika said...

ati2 ya, say...

sabar itu buahnya manis, nggak akan lari ke mana...

8:01 PM  
Anonymous Anonymous said...

Alhamdulillah, Peko senang sekali mendapat kabar dari Mas Zalfany kalau Poko-chan sudah selamat sampai di Eindhoven.

Tatatata.. selamat berjuang, belajar yang baik ya.. Peko kangen sekali sama Poko-chan, ditunggu kedatangannya di Tokyo :)

11:08 PM  
Anonymous Anonymous said...

waduh, panggilannya pada berubah yah? apa harus ganti manggil dengan peko dan poko??:D
Des, udah berangkat kah? ganbatte ne disana...

Iman

12:42 AM  
Blogger fuzzydesi said...

Alhamdulillah saya (dan Poko-chan :p --jadi saya itu bukan Poko-chan :d) sudah sampai di Belanda. Makasih banyak atas doanya, ya...

PS: Poko bukan cuma kangen sekali sama Peko-chan, tapi juga sayang sekali katanya. :)

7:08 AM  

Post a Comment

<< Home