berbagai warna
Tinggal bersama-sama dengan orang lain dalam satu rumah adalah hal yang tidak mudah, namun juga menarik. Pasti saja ada perbedaan-perbedaan yang membuat kita mengangkat alis, terheran-heran, dan tidak bisa mengerti akan apa yang mereka lakukan. Tinggal dengan suami sekalipun, yang insya Allah telah dipilih untuk hidup dengannya seumur hidup. Apalagi ketika teman itu adalah orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya, ditambah lagi mereka datang dari negara yang berbeda, dan tentu saja: dengan nilai-nilai yang berbeda.
Dua tahun yang lalu ketika YSEP di Jepang, saya tinggal berdua bersama seorang teman dari Korea. Berbagi dapur, toilet, ruang makan, dan sekaligus ruang belajar, tempat kita banyak menghabiskan waktu bersama jika ada di rumah. Kamar tidur saat itu hanya seukuran tempat tidur, dan tentu saja bukan tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk menghabiskan waktu. Privacy adalah hal yang mahal, dan karenanya beberapa hal sempat menimbulkan gesekan, walaupun itu membuat kami menjadi lebih bersahabat pada akhirnya.
Saat ini, saya tinggal di sebuah apartemen, bersama dengan satu orang teman dari Cina, dan satu orang dari Perancis. Kali ini kami mempunyai privacy kami sendiri karena setiap orang memiliki sebuah kamar yang cukup bukan saja untuk tidur, tapi juga untuk menaruh meja belajar, lemari, dan rak buku. Kontak dengan mereka hanya ketika masak di dapur, atau ketika kami keluar dari kamar. Masalah kurang lebih banyak terhindari, namun teman kami dari Perancis itu sangat-sangat sensitif terhadap suara. Semua harus senyap ketika dia sudah tertidur, dan tinggallah kami berdua kebingungan.
Batas-batas nilai mengenai apa yang baik atau tidak, apa yang sopan atau tidak, juga tidak sama. Salah satu contohnya, adalah mungkin teman saya itu berpikir kami yang tidak bisa menghargai waktu tidur dia, tapi di sisi lain kami juga berpikir bahwa caranya untuk memberitahu kami bahwa dia terganggu -yaitu dengan mengetok-ngetok dinding, juga tidak sopan. :). Beberapa saat di awal, kami masih bisa mengerti, hingga akhir-akhir ini kami lama-lama juga bingung dengan ulahnya. Berbicara langsung dengannya? Mmm.. saya dan teman saya satu itu, yang berbudaya Timur ini, merasa itu bukan hal yang paling baik untuk saat ini.
Tinggal dengan orang yang berbeda latar belakang, memang banyak seninya. Dapur kami selalu harum dengan berbagai macam masakan: Perancis, Cina, dan tentu saja Indonesia :). Tapi itu juga berarti, kehidupan kami setiap harinya juga punya berbagai warna: Perancis, Cina, dan Indonesia. Dan sayangnya, mencampur warna agar menjadi indah itu memang dibutuhkan kehati-hatian yang banyak. Menarik, menantang, tapi juga melelahkan.
Labels: master journey


2 Comments:
wah, hampir sama pengalaman kita. dulu aku pernah tinggal di asrama. satu kamar isi enam orang! hampir tiap hari selalu ada friksi.
kalo ada yang bertengkar, biasanya aku keluar kamar dan ngelayap ke mana gitu, saking males ngedengerin. aku sih contoh yang pendiam, jarang ikut2an bikin masalah, hehehehe.
ketika aku keluar dari asrama, aku langsung menyadari bahwa aku bukan tipe orang yang bisa dan suka berbagi kamar. akhirnya ya cuma waktu itu aja aku sekamar dengan lebih dari satu orang. seterusnya... sendiri terus bo.
Subhanallah.. iya ya. pengalaman tinggal dengan orang lain memang penuh warna. Kadang menghiasi hari dengan warna2 cerah penuh canda tawa, kadang2 malah merundung kita dengan konflik2 yang kusam.
Alhamdulillah, Allah mengajar kita dengan sangat bijak. Selain diberi kesempatan utk mengenal kebiasaan & budaya orang lain, melatih kesabaran dalam menjalin persaudaraan dalam perbedaan, kita juga diberi kesempatan utk bercermin & mengenal diri sendiri. Kadang merasa diri sudah baik, tapi ternyata masih perlu belajar menahan ego. Apalagi kalau iman sedang turun.. duh.. Moga2 jadi lebih sensitif dengan fluktuasi iman kita..
Semoga Allah beri kita kemudahan utk belajar dan terus memperbaiki diri..
Post a Comment
<< Home