Thursday, January 18, 2007

badai


Sungguh Allah Maha Besar...

Angin kencang sekali menerpa tubuhku. Aku di bawah sebuah lorong di antara dua gedung tinggi. Kemana ilmu yang aku pelajari selama ini? Tidak sadarkah aku bahwa angin lebih kencang di dalam pipa? Tapi aku tak sanggup lagi bergerak! Perlahan aku berbalik arah, dan angin mendorongku dari belakang. Setidaknya aku keluar dari pipa besar itu. Pipa besar dengan suara angin yang menderu-deru. Begitu menakutkan.

Berjalan ke luar kampus melalui jalan lain tetaplah tidak mudah. Aku masih berada dalam pipa. Pipa yang lebih besar tampaknya, tapi tetap aku berada dalam pipa. Angin malam ini bukanlah tandinganku. Sungguh. Kali ini angin lebih kencang, sepedaku betul-betul hampir terbang. Ya Allah, kemana aku harus berpegang? :(

Aku takuuuuut sekali. Maha Besar Engkau, ya Allah.
Dengan susah payah aku sampai di perempatan jalan depan kampusku. Sepi sekali. Hampir tidak ada mobil. Senyap. Hanya suara angin yang terdengar, dan beberapa bekas pohon tumbang di jalan aku masih bisa melihatnya. Berpikirlah, berpikirlah, otakku berkata. Aku harus pulang dengan selamat. Dan aku tidak boleh salah mengambil keputusan. Jalan pulang ke rumah adalah lagi-lagi, pipa-pipa. Sungguh, aku ingin menangis. Aku hubungi suamiku di sana.

----

Hujan badai baru saja menerpa Eropa. Sungguh besar. Badai sebesar ini terakhir terjadi tahun 2002, kata berita. Semua kereta dibatalkan. Hampir semua bus berhenti beroperasi. Bahkan, penerbangan pun dibatalkan. Sore tadi aku di Maastricht untuk ujian, alhamdulillah, aku masih bisa pulang tadi! Keretaku tadi berhenti tepat di Eindhoven, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya.. Sayang, aku tidak berpikiran sama untuk tidak melanjutkan perjalanan. Bukannya pulang ke rumah, aku malah kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas-tugas semester ini.


Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.
Aku di rumah sekarang, bisa berbagi cerita. Namun aku masih bisa merasakan angin-angin itu ingin menerbangkan tubuhku. Aku masih merasakan tusukannya di mukaku. Dan deru angin di luar masih bisa terdengar...

Akhirnya aku putuskan untuk naik taksi tadi. Rasanya terlalu berbahaya untuk pulang berjalan kaki, dan berhemat di saat seperti ini bukanlah ide yang bijak, pikirku. Perjalanan ke rumah berjalan kaki dalam keadaan normal akan memakan waktu 30 menit. Dalam angin yang sangat tidak ramah ini? Aku tidak tahu. Aku harus selamat.

----

Apalah kekuatan seorang manusia? Mengapa seringkali manusia bersombong diri?
Sungguhlah, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.

Beberapa hari ini pikiranku sudah melayang, terbang jauh, membayangkan hari-hari yang akan kulalui bersama suamiku... Aku merangkak perlahan melalui hari, menjalankan ujian dan tugas-tugas akhir semester, dengan satu penantian bahwa aku akan bisa memeluknya sebentar lagi. Insya Allah.

Besok pagi, insya Allah jadwal pesawatku untuk terbang ke Jepang. Membayar gulungan-gulungan waktuku beberapa minggu terakhir ini. Tapi sungguh, malam ini aku disadarkan. Allah-lah yang maha perencana. Allah maha mengetahui segala kebaikan. Hanya Allah-lah sang penguasa. Kita, manusia, hanyalah bisa berencana.

Seluruh kereta dibatalkan malam ini. Banyak penerbangan dibatalkan malam ini.
Mudah-mudahan Allah meridhai kereta untuk beroperasi kembali besok pagi. Mudah-mudahan pesawatku bisa terbang besok, dan tiba dengan selamat.

Semoga segala ketakutan malam ini, pergi besok seiring dengan perginya sang badai...
Malam ini,... badai ini,...
Rasanya Allah ingin menunjukkan padaku... sungguh, Allah-lah maha perencana.

*Ya Allah, izinkan aku untuk memeluk suamiku kembali...*
...

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home