Luck?!
Akhir-akhir ini jadi memikirkan satu kata: luck.
Orang sering bilang, "Good luck!", ketika kita akan ujian, misalnya. Sebenernya betulkah yang kita butuhkan itu (semata-mata) luck? Toh banyak juga hal lain yang mempengaruhi keberhasilan seseorang, usaha, kerja keras, dedikasi juga doa? Tapi kenapa "good luck"?
Apakah artinya setelah sedemikian banyak usaha yang dilakukan, masih tetap ada unsur "luck" yang juga berpengaruh? Atau sesuatu yang lebih daripada luck?
***
Hari ini saya bersama dengan mentor saya punya eksperimen besar. Repetisi dan optimalisasi dari eksperimen sebelumnya. Persiapan eksperimen ini memakan cukup banyak waktu. Kami harus mengurusi 27 tabung kultur sel. Jam 4.30 sore kami melakukan eksperimen terakhir, yang melibatkan 15 dari total tabung tersebut. Pada satu langkah, kami harus memasukkan tripsin ke dalam tabung tersebut. Beberapa langkah setelah itu, kami akan men-fiksasi sel-sel tersebut, dengan paraformaldehide. Tripsin dan paraformaldehide tentunya dua hal yang jauh berbeda, namun sayangnya, botolnya sama. Tulisannya cuma pake tulisan tangan. Dan kecelakaan pun terjadi. Bukan tripsin yang masuk, namun paraformaldehide. Sel bukannya bekerja seperti yang diharapkan, tentu saja, sel-sel di 15 tabung itu semua mati. :-(.
Kalau sudah begini, apa ini yang namanya ga punya luck?
Atau kurang usaha dan doa?
Entah apa jawabnya.
Anyway, saya tadi ga tahu harus ketawa atau nangis. Atau lega. Lega karena rasanya ga akan ada hal yang lebih buruk dari ini yang bisa terjadi (?). Supervisor saya juga sedih, dan sepertinya juga merasa bersalah. Saya memang yang jelas-jelas salah memberikannya pada dia, tapi dia ikut merasa bersalah karena ga dobel cek. Dia mungkin lupa kalau mahasiswanya ini sering eksperimen sambil absent-minded.
Nah, mungkin terlepas dari masalah tadi luck atau bukan: saya harus belajar ga boleh absent-minded.
***
Mohon doanya. Setiap hari lihat kalender, waktu kok kayaknya seperti terbang, dan dengan hal-hal yang seperti saya ceritakan tadi, kok rasanya saya jadi makin merasa seraaam.... :-)
PS: untuk yang penasaran gmn reaksi saya tadi, beberapa potong percakapan:
saya: (sambil senyum) Yaah... setidaknya saya benar soal satu hal: eksperimen kali ini selesai lebih cepat.
dia: Yah, setidaknya kamu bisa senyum.
saya: Memangnya kamu mengharapkan saya nangis ya?
dia: Ya nggak, tapi juga nggak mengharapkan kamu senang.
saya: Saya nggak senang kok, senyum ga berarti senang, lho. Tapi ya, apa yang bisa kita lakukan sekarang. Ga akan ada yang berubah.
dia: Bener juga, daripada sedih lebih baik senyum aja.
... dst... dilanjutkan pembicaraan-pembicaraan lebih serius.
tapi kemudian setelah dia pergi (tapi tiba-tiba dia muncul lagi di belakang saya :D), saya ketemu anak PhD lain yang kita sering curhat-curhat.. saya bilang: duh, ga tau lagi harus nangis atau ketawa.. terus saya ketawa, tapi kok dalam hati rasanya sediiiiiiiiih banget ya. Ironis.
Yosh, masih ga tahu harus merasa apa, tapi yang paasti: sekali lagi mohon doanya.
Jumat ini saya (dengan senang hati) akan mengulang eksperimen ini lagi.
Labels: master journey, thesis


2 Comments:
:) ikhtiar terus ya tatachan.. smua yang terjadi pasti ada hikmahnya
Amiiin....
Post a Comment
<< Home