Thursday, August 31, 2006

master intro (1) - multicultural awareness


Dari hari Jumat yang lalu, saya (sok) sibuk dengan kegiatan "master intro" untuk international master students di TU/e. Kegiatannya: mulai dari membereskan paper works, short lectures, olahraga, game dan simulasi, dan juga besok: mengunjungi Dutch cheese farm!! Yuhuuu...

Kuliah singkat yang paling menarik kurang lebih adalah mengenai budaya Belanda. Selain itu, ada juga permainan, simulasi, dan diskusi mengenai masalah-masalah yang mungkin akan timbul ketika kita bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda latar belakangnya. Ternyata, bagaimana pun.. orang akan bertindak (atau bereaksi) terhadap suatu keadaan berdasarkan basic dan common knowledge yang ia tahu. Dan ini, biasanya ia dapatkan di tempat ia dibesarkan. Ketika ia "hidup" bersama-sama dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda, bentrokan atau kesalahpahaman mengenai satu sama lain rawan untuk terjadi karena masing-masing memiliki common knowledge yang berbeda.

-----
Menarik sekali untuk melihat realita tersebut dalam sebuah simulasi sore tadi. Kami dibagi dalam kelompok, yang setiap kelompoknya terdiri atas empat orang. Kami akan bermain kartu di tiap kelompok ini. Setiap kelompok diberi selembar kertas yang berisi peraturan permainan. Kemudian ketika semua orang telah memahami permainan ini dengan baik, permainan dimulai. Dan, tidak boleh ada komunikasi sama sekali.

Permainannya kurang lebih seperti ini: setiap orang harus mengeluarkan kartu. Orang dengan nilai terbesar (untuk jenis kartu yang sama), boleh mengambil seluruh kartu yang dikeluarkan oleh orang lain. Permainan berjalan lancar, karena semua memahami peraturan di kelompoknya masing-masing dengan baik. Beberapa saat, dua orang dari setiap kelompok diminta bergeser ke kelompok lainnya. Permainan dimulai kembali dan tetap, tanpa komunikasi. Permainan berjalan baik hingga seluruh pemain mengeluarkan kartunya, namun pada akhirnya, dua orang teman saya berebut kartu. Satu orang beranggapan dia yang menang, dan satu yang lain beranggapan dialah yang harusnya menang. Olala, tahu kenapa? Karena untuk satu orang, As adalah nilai tertinggi, sedangkan untuk yang lainnya As adalah nilai terendah. Ternyata setiap kelompok diberi peraturan yang berbeda!!

Lucu. Kami sadar peraturan kami berbeda, tapi kami bingung harus bermain dengan cara seperti apa. Komunikasi verbal sama sekali tidak diizinkan. Cara tiap kelompok mengatasi ini berbeda-beda. Ada yang akhirnya pendatang mengikuti peraturan di kelompok yang didatangi, ada juga yang malah pendatang yang mengambil alih peraturan. Bagaimanapun caranya, pada akhirnya kami berhasil bermain. Semua senang.

Tapi itu tidak berjalan lama. Lagi-lagi, beberapa orang diminta pindah. Dan saya langsung sadar, kita akan bermain dengan perbedaan peraturan yang lebih banyak lagi! Dan apa yang harus saya lakukan? Mengikuti peraturan di kelompok asal saya, atau di kelompok saya yang baru, atau berusaha untuk mengerti dulu peraturan si pendatang baru?

Menarik.
Pada diskusi di akhir permainan, semua orang ditanya perasaannya. Ada yang kesal, merasa dicurangi, frustasi, merasa orang lain itu salah, merasa orang lain itu aneh, dan lain-lain. Kemudian juga, kami ditanya tentang bagaimana mengatasinya. Ada yang beradaptasi, ada yang berkompromi, ada yang menyerah, ada yang mengambil alih. Sebenarnya, itu yang terjadi ketika kita dihadapkan dengan orang dengan latar belakang berbeda. Bedanya, tadi itu dalam permainan dan bisa langsung ditebak. Bagaimana dengan kehidupan nyata? Yang malah kadang-kadang perbedaan-perbedaan nilai itu tidak bisa langsung disadari. Ditambah dengan sulitnya berkomunikasi karena bahasa yang berbeda, situasi terkadang menjadi tambah buruk:). Jadi inget ini, "kucing, kucing, bahasa kita berbeda..."
-----

Labels:

4 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Wah senangnya yah kalo kuliah seperti ini. Hehehe..games seperti ini akan jadi makananku sehari hari nantinya, Insya Allah ;) Jadi gak sabar pengen cepet belajar mata kuliah itu :)

Gak nyangka juga. Bangga rasanya kalo games2 seperti ini dimasukkan dalam program perkuliahan. Padahal bidang ilmu Tata gak related langsung dgn games seperti ini kan? ;) Syukur alhamdulillah jika disadari bahwa pelajaran2 seperti ini diperlukan oleh setiap orang. Apalagi untuk para ilmuwan generasi muda. Agar ilmu yang didapat bisa diaplikasikan tidak hanya secara tehnik tapi juga dengan rasa tanggung jawab dan moral2 manusia yang ada. It teaches us how to live :)

Pantesan juga..Belanda jadi kiblat psikologi dunia kalo gini ceritanya :)

Take care

7:14 AM  
Blogger fuzzydesi said...

Iya, Wit.. Memang penting ya :)

Tapi kegiatan seperti itu bukan perkuliahan, seminggu ini kita (mahasiswa asing) diberi kegiatan "introduction", salah satunya adalah "short lecture" tentang itu. Mungkin diberikan untuk mempersiapkan kita dengan perbedaan budaya yang cukup besar.

Saya nggak tahu apa mahasiswa lokal juga dapat seperti ini. Mungkin juga dapat karena di sini ada project kuliah yang harus dilakukan oleh mahasiswa tiap tahun, sebisa mungkin yang berbeda latar belakang dan jurusan, namanya "Multicultural and multidisciplinary project". Di project itu, kemungkinan besar perbedaan latar belakang sekecil apapun akan bisa terasa ya :)

Anyway, kapan-kapan kalau Wita dah dapet kuliahnya, bagi-bagi ceritanya, ya!

10:44 AM  
Anonymous Anonymous said...

Oke ta! Begitu aku dapet kuliah itu, tata akan jadi orang pertama yang tau ceritanya. Hehehe.. Tapi masih lama kok. Baru dapet mata kuliah itu tingkat 3 nanti :)

Hmm..walau begitu, saya sering merasa ketidakefektifan dari games dan training seperti itu. Mungkin ini karena keyakinan saya, tidak semudah dan sekejap itu saja merubah watak atau sudut pandang seseorang. Tapi apapun itu, usaha untuk membantu seseorang menjadi lebih baik toh tidak boleh berhenti. Maybe exploration and continuity are highly required utk usaha itu :)

Semoga saya bisa mempertanggungjawabkan ilmu saya nantinya :) Mohon doa Tata ya..

Thanks..

2:10 PM  
Anonymous Anonymous said...

Mau nambah. Baru kepikiran ;p

Mungkin saya merasa tidak efektif itu karena kalo saya ikutan training gitu, asa gak ada efek ke sayanya. Mungkin saya nya yang bandel yah. Dan saya gak boleh gitu lagi sepertinya. Mengingat kalo saya nanti jadi trainer, saya bakal kewalahan kalo ngasuh orang kayak saya. Hehehehe..

Satu lagi, menurut saya, konsistensi juga diperlukan. Betapa jadi psikolog artinya menasehati seseorang untuk sesuatu yang baik. Berarti saya juga harus bisa dulu memperbaiki diri saya. Kalo gak, saya bisa diprotes ama klien saya ;p

Hmm..ternyata ilmu saya mengemban amanah yang sangat besar yah. Ingin juga mengatakan psikolog juga manusia :) Tapi semoga, justru inilah jalan saya untuk selalu memperbaiki diri saya :)

2:21 PM  

Post a Comment

<< Home