transisi
Saya sudah tiba di Belanda 2 hari yang lalu :), dan sekarang saya mengalami lagi masa-masa transisi sebelum kehidupan yang normal dimulai kembali. Ini bukan pertama kalinya saya sendirian tinggal di tempat baru. Tapi tetap saja, semua hal-hal yang berhubungan dengan settling in terasa melelahkan. Hal-hal yang mendukung hidup: alat masak, rekening, koneksi internet yang stabil, teman baik, belum ada di sana. Setiap hari tas saya berat sekali karena barang-barang yang baru dibeli. Dan entah kenapa, aktivitas bersepeda kali ini juga begitu menyebalkan. Sepeda saya yang dulu terlihat bagus sekarang bannya selalu kempes setiap beberapa meter membuat saya harus selalu memompanya atau menuntunnya pulang. Gudang sepeda yang terletak di bawah tanah, membuat badan saya pegal-pegal karena harus mengangkatnya menaiki dan menuruni tangga.
Ritme hidup juga harus disesuaikan kembali. Begitu pula dengan kebiasaan-kebiasaan hidup, sekalipun saya pernah tinggal di sini beberapa bulan. Seringkali sedih, di kala orang-orang di sekitar beranggapan saya seharusnya tahu soal hal-hal yang saya tidak tahu. Kadang saya masih lupa tentang cara hidup di sini. Hasilnya kadang-kadang tidak menyenangkan, seperti dimarahi oleh seorang kasir ketika saya lupa bahwa seharusnya saya mengeluarkan barang-barang belanjaan saya dari keranjang. Ya, memang dia berbicara dalam bahasa Belanda. Saya tidak mengerti sepenuhnya, tapi saya bisa membaca tatapan matanya. Hmph. Orang-orang itu mungkin hanya belum pernah merasakan rasanya tinggal di dunia baru yang berbeda...
Ya, jadi mungkin itu salah satu manfaatnya tinggal di luar negeri. Atau setidaknya, tinggal di tempat yang berbeda. Saya belajar untuk lebih sensitif terhadap orang lain. Saya juga belajar bahwa orang lain berhak untuk tidak selalu tahu. Saya juga belajar untuk lebih ramah dan memperlakukan semua orang dengan baik. Karena saya ingin ketika saya berada di posisi mereka, orang lain juga berusaha mengerti perasaan saya.
Lelah.
Dan di saat-saat seperti ini, ingin sekali rasanya bisa "pulang" ke tempat yang nyaman. Ingin sekali bisa memeluk seseorang dan melepaskan perasaan-perasaan ini. Ingin sekali, ketika dunia luar itu sepertinya menyakiti saya, saya bisa sekedar menangis di pundaknya untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Atau setidaknya, ingin sekali bisa melihat senyumnya karena untuk saya, itu sudah cukup untuk memberi tambahan energi karena saya tahu saya tidak sendiri. *Duh, kangeeeeen sekali sama suami tercinta*
Tapi apa betul ya saya sekarang sendirian?
Sepertinya tidak. Di saat-saat seperti ini juga, justru saya semakin merasa bahwa selalu ada yang menemani dan menjaga saya. Saya diberi housemate yang sangat membantu dan menyenangkan, dan semuanya perempuan. Di sini, banyak juga yang dalam satu apartemen ditinggali oleh laki-laki dan perempuan, dan kita tidak bisa mengatur itu karena semuanya diurus oleh perusahaan perumahan. Saya dapat beasiswa yang mencukupi untuk semua kebutuhan saya. Saya punya profesor yang begitu perhatian. Saya datang saat ini bersama banyak mahasiswa asing yang sama-sama mengerti. Saya juga merasa cocok dengan seseorang yang akan menjadi teman satu project saya nanti. Saya juga merasa bahwa saya akan senang di sini. Dan di kala saya benar-benar merasa capek, saya seringkali bertemu dengan ibu-ibu berjilbab yang tiba-tiba lewat dan tersenyum di depan saya. Hangaaat sekali rasanya.
Semua hal tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja. Dan itu artinya saya tidak pernah sendirian. Allah selalu menjaga saya. Allah selalu mengirimkan hal-hal yang baik untuk saya melewati semua kesulitan-kesulitan. Namun seringkali saya lupa dan terlalu fokus pada kesulitan-kesulitan tersebut. Dan ketika itu terjadi, saya lupa untuk mensyukuri semua nikmat-Nya ini. Astaghfirullah...
Besok, dan besoknya lagi.. Masa-masa ini masih harus dilalui. Entah sampai kapan. Tapi saya tahu, saya akan menikmati semuanya ini. Alhamdulillah :)
Labels: master journey


0 Comments:
Post a Comment
<< Home