Maaf
Maaf.
Sepertinya maaf itu salah satu kata sakti, ya. Satu kata yang jika diucapkan pada tempatnya bisa menentramkan hati, menghangatkan si lawan bicara, dan juga mempererat silaturahmi.
Jadi berpikir, kapan ya saya pertama kali belajar mengucapkan kata maaf? Karena sedemikian saktinya si kata ini, saya ingat saya pernah mengalami saat-saat sulit untuk mengucapkan kata ini. Saya ingat ketika SMP dulu, ketika saya tahu saya telah menyakiti teman saya, yang saya lakukan adalah berusaha berkata-kata lembut, menghiburnya, dan sibuk memastikan kepada diri sendiri bahwa teman saya itu sudah baik-baik saja. Saya berusaha meminta maaf dengan berkata-kata dan berperilaku yang lain, tapi tidak pernah ada kata maaf terlontarkan, sekalipun di hati ini rasanya menyesal sekali.
Kata maaf itu susah sekali diucapkan, mungkin karena banyaknya arti yang dikandungnya. Salah satunya adalah pengakuan atas kesalahan. Benarlah ungkapan bahwa mengakui kesalahan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berjiwa besar.
Kesaktian si kata ini juga pernah saya rasakan sendiri ketika saya berteman dengan seseorang yang juga sepertinya tidak memiliki kata "maaf" dalam kamusnya. Kami sudah berteman lama, sehingga saya cukup tahu perilakunya tentang satu hal ini. Suatu saat dia rasanya pernah sangat menyinggung saya, sehingga saya betul-betul merasa marah. Berkata-kata pun rasanya sudah tidak sanggup, hingga akhirnya saya lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Saya berusaha menenangkan emosi yang betul-betul tidak menyenangkan itu. Beberapa lama setelah itu, HP saya berbunyi. Sebuah SMS dari teman saya itu masuk. Sebuah SMS yang berisi permohonan maaf. Nyes... ada perasaan hangat di hati ini. Semakin hangat karena saya tahu dia bukan orang yang biasa mengucapkan kata ini. Dia pasti telah berusaha keras untuk mengalahkan egonya. Semua perasaan marah hilang seketika, tanpa perlu rangkaian-rangkaian kalimat panjang yang indah dan rumit. Cukup dengan satu kata itu saja, hati saya menjadi tenaaang...
Dengan pengalaman-pengalaman seperti itulah saya belajar untuk menguatkan hati untuk mengucapkan kata itu. Awalnya sungguh sulit, tapi rasanya sungguh menenangkan... Saya tidak perlu bertanya-tanya dalam hati apakah dia memaafkan saya, apakah dia tersakiti, atau pikiran-pikiran lainnya... Sungguh, kata maaf itu sakti.. :) tapi tentunya, haruslah diucapkan juga oleh hati...
Alhamdulillah, baru saja ada pengalaman lain lagi yang membuat saya semakin banyak belajar tentang pentingnya untuk mengucapkan kata maaf... tapi ups, rasa-rasanya.. ketika ucapan itu ditujukan untuk orang tua saya, kenapa rasanya masih berat sekali lidah ini ya...
Astaghfirullah..
Labels: inspiration


1 Comments:
Kalau untuk orang tua masih berat ya??
Tapi ada yg perlu diketahui, orang tua itu akan selalu memaafkan dan kasih sayangnya tidak akan pernah berkurang sedikitpun walau tidak ada ucapan maaf dari anaknya (atau malah tidak pernah menganggap perlu ada kata minta maaf dari anaknya).
Kasih sayang orang tua itu saaangaaat besar tapi kita sering2 tidak menyadari atau malah salah menerimanya, dan baru sadar jika kita sendiri punya anak (mudah2an saat itu orang tua kita masih ada di dunia ini).
Dengan begini, mungkin tidak akan berat lagi mengucapkan kata maaf kepada orang tua ya ??( itu kalaupun ada hal yg perlu di"-maaf-memaaf"kan- ; tapi cobalah komunikasi, siapa tahu juga ternyata dr fihak orang tua sih ga ada apa2 :) ...)
Post a Comment
<< Home