Visa, oh, visa
Sampai kapan ya fleksibilitas kita (baca: WNI) buat "terbang" lintas negara nggak dikekang dengan yang namanya "visa". Buat warganegara tertentu (dan tentu saja Indonesia :-S), pergi ke luar negeri nggak bisa dilakukan semudah itu. Terlepas dari kondisi finansial, dan lain sebagainya, urusan birokrasi satu ini memang seringkali mengesalkan dan membuat hati harap-harap cemas. Sahabat saya di sini, seorang Yunani, ternyata juga mengalami hal yang sama, ... dan kami sama-sama "iri" terhadap pacarnya, yang kebetulan warganegara Amerika, yang mudah sekali melakukan perjalanan lintas benua.***
Urusan visa = sediakan waktu Empat tahun berturut-turut saya selalu olahraga jantung di saat masa-masa musim panas-nya orang-orang Northern Hemisphere. 4 tahun yang lalu, aplikasi visa UK saya dari kedutaan Inggris di Jakarta tidak bisa keluar di saat yang diperkirakan. Untuk mendapatkannya, saya harus menghadiri wawancara yang dijadwalkan 3 minggu setelah jadwal keberangkatan. Perjalanan ke UK yang sebelumnya direncanakan bersamaan dengan diundangnya saya oleh tante di Belgia terpaksa dibatalkan karena saya tidak bisa mundur hanya untuk satu visa UK tersebut.
Satu tahun setelahnya, ketika saya bersama-sama grup muhibah kesenian akan berangkat ke Eropa, urusan visa ini lagi-lagi membuat hati berdebar-debar. Keharusan membuat 4 visa (karena negara yang dikunjungi tidak semuanya dalam kawasan Schengen), membuat visa kami baru selesai di saat-saat terakhir. Belum lagi setelahnya pulang dari Eropa, saya hanya punya waktu satu minggu untuk membuat visa Jepang, padahal tiket keberangkatan ke Jepang sudah ada di tangan. Untungnya, tidak seperti lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengurus visa ke negara-negara Eropa, mengurus visa Jepang di Indonesia hanya membutuhkan waktu tiga hari jika semua dokumen sudah siap.
Tahun lalu, saat-saat yang mendebarkan ketika saya harus menunggu visa student dari Belanda (dan ini memakan waktu 5 minggu!) dikombinasikan dengan keberangkatan ke Jepang. Terlambatnya satu visa akan membuat semua rencana perjalanan harus diatur ulang.
Syukurnya, pengalaman 3 tahun berturut-turut tersebut adalah pengalaman di Indonesia, di mana travel agent lebih ramah dan lebih fleksible dalam masalah mengatur tanggal keberangkatan. Tahun ini, saya harus mengatur keberangkatan lagi dengan kombinasi yang lebih banyak: pembuatan paspor baru (paspor saya hampir habis), perpanjangan residence permit di Belanda, visa Jepang, visa trainee Australia, dan tiket pesawat yang harus dibayar dan setelah itu tidak bisa diubah tanggal (bisa diubah, tapi harus bayar 100 euro + perbedaan harga saat itu). Visa Jepang, seperti biasa tidak ada masalah. Di kedutaan Jepang di Denhaag, visa Jepang bisa selesai dalam satu hari. Tapi yang lain, cukup rumit dan tunggu menunggu. Sebelum aplikasi visa Australia bisa dikirimkan, saya harus menunggu approval nominasi dari pemerintah Australia di Australia. Setelah itu, proses pembuatan visa trainee Australia akan memakan waktu 4 minggu. Proses perpanjangan residence permit sudah memakan waktu 2 bulan (well, IND -pihak yang mengurus ini, bilang minimal 3 bulan baru akan selesai). Kedutaan Australia meminta perpanjangan residence permit saya harus sudah ada sebelum mereka bisa mengeluarkan visa. Hari ini saya telpon IND, alhamdulillah, mereka bilang dalam 2 minggu kartu residence permit saya harusnya sudah siap.
Keberangkatan tinggal 5 minggu lagi. Paling lambat minggu depan saya harus memasukkan aplikasi visa Australia. Artinya, paling lambat saya harus menerima approval dari pemerintah Australia minggu depan. Minggu depan, saya juga harus membayar tiket. Semoga penantian yang mendebarkan ini berakhir dengan baik.
Dari pengalaman-pengalaman ini, saya rasanya ingat saya pernah berkata pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak mau terlibat lagi dalam debar-debar jenis ini. Tahun ini saya sudah mulai urus segala rupanya sejak 4 bulan sebelum keberangkatan. Ternyata, butuh 4 tahun untuk benar-benar sadar bahwa : visa = birokrasi. Birokrasi = makan waktu!! :((
***
Urusan visa = (tidak selalu berhadapan dengan) orang-orang yang "sulit"
Pengalaman-pengalaman per-visa-an, selain masalah waktu yang mendebarkan, adalah petugas yang dalam bayangan saya: tidak helpful, galak, dan tidak menyenangkan. Kenapa bisa begini? Mungkin ini adalah trauma saya ketika bertemu petugas kedutaan UK di Jakarta 4 tahun yang lalu, petugas galak yang membuat saya bergeming di depan loketnya kehilangan kata-kata. Itu pengalaman pertama saya ke kedutaan! Kalimat ini yang saya ingat yang diucapkan dengan tidak menyenangkan, "Ya, itu urusan Anda kalau Anda tidak bisa berangkat sesuai jadwal!" Petugas lain di konsuler Belanda di Bandung yang menempatkan saya di posisi seakan-akan "pemohon visa adalah bersalah". Saya waktu itu mengisi form di depan petugas tersebut. Saya bilang, "Saya ke Belanda diundang ke universitas bla-bla-bla... sebaiknya saya isi apa bagian purpose ini?" Saya bertanya karena kondisi saya memang sedikit "spesial" waktu itu. Dan jawaban yang saya terima, "Anda yang akan berangkat, Anda yang tahu tujuan Anda, jangan tanya saya!" Ups!
Pengalaman-pengalaman ini membuat saya selalu berpikir bahwa petugas-petugas di konsuler memang diharuskan seperti itu. Ternyata saya salah (ga tau ya kalau kedutaan Amerika :D) Petugas konsuler di kedutaan Jepang yang saya datangi di DenHaag, petugas konsuler di kedutaan Australia di Berlin (iya, dari Belanda apply visa Australia harus ke Berlin), petugas di IND tadi pagi ternyata sangat helpful.
Tapi, kesimpulan saya saat ini menjadi lebih tidak menyenangkan:
1. Petugas-petugas konsuler "galak" hanya saya temui di Indonesia
2. Petugas-petugas di Indonesia tersebut adalah orang Indonesia
3. Petugas-petugas di Indonesia kurang helpful
Jadi... petugas konsuler di Indonesia, yang notabene adalah orang Indonesia, tidak helpful terhadap warganegaranya sendiri. Oh negeriku :(.
Anyway semoga ini salah.
Oh iya, satu hal yang semoga bisa memperbaiki image kedutaan Indonesia di luar negeri: beberapa saat yang lalu saya pergi ke KBRI di Denhaag, dan petugas yang saya temui di bagian paspor adalah orang-orang yang baik dan sangat membantu kok. Ini berkebalikan dengan cerita-cerita tentang KBRI yang sering saya dengar dari khalayak ramai, yang membuat saya deg-deg-an sejak sehari sebelum ke KBRI. :).
Beberapa pengalaman baik ketika di Belanda ini membuat saya lebih mempunyai kepercayaan diri dalam berbicara dengan para birokrat pervisaan. Beberapa bulan yang lalu saya deg-deg-an sebelum ke KBRI dan ke kedutaan Jepang.. beberapa hari yang lalu saya perlu menulis "konsep" dulu apa yang akan saya tanyakan ke kedutaan Berlin (termasuk mereka-reka mereka akan menjawab apa!) dan ke IND. Ternyata, saya memang harus lebih tenang dan lebih berprasangka baik. Seberapapun "ribet"-nya urusan permohonan visa... orang-orang yang ada di sana ternyata tidak selamanya orang yang menempatkan pemohon dalam posisi "itu urusan Anda, saya tidak peduli".
***
Hmph, mohon maaf dengan mumbling yang tentu saja tidak jelas ini. Dan terimakasih banyak kalau sampai ada yang membaca sampai ke bagian ini (ini curhatan yang panjang banget). Mohon maaf dengan nada negatif yang terdengar di sini. Saya lelah selama 4 bulan ini kepala saya dipenuhi urusan ini. Saya cuma perlu memiliki lebih rasa optimis menghadapi birokrasi.
Oh ya, tolong doakan minggu depan approval nominasi dari Australia sudah bisa saya terima, ya. Saya sudah tidak sabar membayangkan pertemuan dengan sang kekasih, ...
dan juga orang tua dan adik tercinta.
image dari: http://members.shaw.ca/


0 Comments:
Post a Comment
<< Home