Tuesday, February 16, 2010

tentang hamil di belanda: home delivery

Ketika saya pertama kali datang ke Belanda, cerita tentang ibu hamil di Belanda selalu membuat saya menyerengitkan alis. Manajemen kehamilan di Belanda berbeda dengan di Indonesia, dan berbedanya ini sering membuat saya berkomentar: yang bener aja?! Hehehe. Terutama tentang ini nih: "home delivery".

Di Belanda, dalam keadaan normal (sehat, tidak ada komplikasi, sejarah kehamilan yang lalu baik) ibu hamil ditangani oleh bidan. Dan dalam kondisi "ideal" seperti ini, default-nya, ibu hamil akan melahirkan di rumah, kecuali jika ibu hamil tersebut meminta untuk melahirkan di klinik atau di rumah sakit. Dalam proses kelahiran di rumah sakit yang seperti ini, tetap bidan yang akan menangani ibu hamil tersebut. Dokter hanya akan menangani jika ada alasan medis.

Butuh waktu 2 tahun untuk menerima ide ini (dengan banyak mendengar pengalaman orang-orang, baca-baca, dan diskusi di kelas bahasa Belanda), sampai akhirnya sebelum saya hamil saya sudah yakin bahwa jika saya hamil saya ingin melahirkan di rumah.


Nah, apa yang membuat saya merasa yakin untuk melahirkan di rumah?

Alasan utama sih karena: nyaman! Saya bisa membuat kondisi rumah dalam keadaan senyaman mungkin dengan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Coba bayangkan bedanya dengan atmosfer rumah sakit?

Bagaimana dengan masalah aman? Apa melahirkan di rumah aman? Saya pernah baca artikel bahwa melahirkan di rumah tidak lebih tidak aman daripada melahirkan di rumah sakit, jika kehamilan tidak bermasalah. Dan saya pun mengamati bahwa bidan di sini cukup berhati-hati. Jika mereka mendeteksi ada masalah sedikit saja dalam proses melahirkan (dari awal pembukaan misalnya), ibu hamil akan segera dibawa ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter.

Selain itu, urusan harus pergi ke rumah sakit ini ga praktis. Berbeda dengan di Indonesia misalnya, dimana ibu hamil tetap diterima di rumah sakit ketika kontraksi masih jarang misalnya, di sini, ibu hamil baru boleh datang ketika kontraksi sudah intens. Mengenai intens itu kapan, saya tidak pernah mencari infonya baik-baik sampai ketika saya melahirkan. Ketika saya sudah bukaan 7-8, bidan bertanya pada saya apa saya berencana melahirkan di rumah sakit atau di rumah. Artinya, kalau saya berniat melahirkan di rumah sakit, maka saya akan pergi ke rumah sakit di kala saya ga mau lagi pergi dari rumah. Jangankan keluar rumah, pindah posisi saja rasanya ga mau! Begitu pula dengan waktu keluar dari rumah sakit. Jika semua lancar, dalam 3-4 jam setelah melahirkan ibu baru (sekarang bukan ibu hamil lagi) harus pulang.

Alhamdulillah semua lancar dengan proses kehamilan dan kelahiran Mentari. Pengalaman melahirkan bulan Des lalu (insya Allah detilnya menyusul, ya) menjadi pengalaman home delivery yang sangat menyenangkan :).

Labels: ,

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

dess, enaknya bisa home delivery, pengen jg,,, cuman kultur disini mengatakan itu tidak lazim untuk dilakukan,,, *sigh* alhasil kita dibuat agar berpikir lebih aman untuk lahirin di rs dengan segala kelengkapan peralatannya, padahal pada dasarnya melahirkan itu kan proses alami dalam keadaan sehat, so kita bukan orang sakit yg musti dirawat di rs kan hehhe,,,, btw mentari cepet gedenya yaa

7:34 AM  

Post a Comment

<< Home