Monday, March 08, 2010

labour!

Akhirnya, setelah lewat berminggu-minggu saya pengen cerita tentang proses kelahiran Mentari. Karena sebelum melahirkan saya senang mendengar cerita-cerita proses kelahiran orang lain, mudah-mudahan cerita ini juga ada manfaatnya untuk ibu hamil di manapun anda berada :). Selain itu, kalau ga ditulis, bisa-bisa pengalaman ini akan terlupakan begitu saja (bahkan sekarang pun banyak detil yang ga terlalu ingat lagi!).

Mentari lahir term, 37 minggu lebih 5 hari. Ga diduga-duga karena semua orang bilang kalau anak pertama biasanya lahir telat (he eh, kata siapa coba?). Prosesnya dimulai dengan air ketuban yang pecah tanggal 17 Desember (kamis) jam 1 pagi. Sebenernya kalau diinget-inget mungkin dari tanggal 16 Des (rabu) sudah ada tanda-tandanya karena seharian rasanya perut sakit, tapi saya ga curiga sama sekali karena saya pikir itu dari teri aceh Kak Renni yang super pedas, yang memang saya makan terus-terusan beberapa hari terakhir itu.

Air ketuban pecah?

Jam 1 pagi itu saya terbangun karena rasanya nggak nyaman. Mungkin karena memang tempat tidur basah karena air ketuban. Untungnya, sejak hamil 37 minggu saya sudah mulai memasang plastik di bawah seprai untuk jaga-jaga jika hal ini terjadi. Hal yang pertama kali dilakukan: kaget (my life was about to change very soon, I thought :). Hehe, terus refleks langsung mengecek warna air ketuban. Alhamdulillah, bening. Ini warna normal, kalau warna hijau/coklat, kata bidannya harus ke rumah sakit. Dan alhamdulillah dari hasil kontrol 2 hari sebelumnya, posisi kepala bayi sudah terkunci di jalan lahir, sehingga walaupun air ketuban pecah, saya boleh bergerak leluasa. Kalau kepala bayi belum terkunci, saya harus berbaring jika air ketuban pecah untuk menjaga agar jalan keluar bayi tidak terganggu.

Setelah itu saya telpon bidan. Kebetulan yang on-call malam itu adalah bidan yang baru saja mengecek saya 2 hari sebelumnya ketika kontrol rutin. Bidannya bilang, silakan tidur lagi saja.. kita tunggu kontraksinya datang dalam waktu 24 jam ini. Bidannya berpesan, kalau kontraksi datang, boleh mandi/shower untuk mengurangi rasa sakitnya.

Setelah itu saya langsung menelpon orang tua dan adik (untungnya di Indonesia/Australia pagi hari, ya, bukan tengah malam buta). Mohon didoakan semoga semua lancar. Saya kabarkan ke ibu saya yang akan datang 3 hari kemudian, bahwa insya Allah bayinya kelihatannya ga mau nunggu neneknya. Karena kalau air ketuban sudah pecah, dalam 24 jam bayi harus dilahirkan untuk menghindari resiko terinfeksi dari luar.

Oh, ini yang namanya kontraksi...

Sampai jam 3 pagi rasanya aman-aman. Ga ada kontraksi, saya masih bisa santai-santai. Lalu mulai jam 3 pagi rasanya perut mulai kram seperti ketika sedang menstruasi. Tapi saya ga yakin, apa ini kontraksi bukan ya. Karena mulai agak sakit, saya coba untuk shower dengan air panas. Ternyata, malah makin sakit! Kayaknya tips untuk shower ga bekerja untuk semua orang, nih. Setelah itu rasa sakitnya periodik, dan setelah itu saya mulai yakin kayaknya ini yang namanya kontraksi!


Kontraksi periodik ini dimulai dengan kontraksi selama kurang lebih 1 menit, lalu istirahat 3-4 menit, lalu kontraksi lagi 1 menit, dan begitu terus. Sewaktu ga ada kontraksi rasanya seperti ga ada apa-apa. Pesan bidannya, kalau kontraksinya sudah selang 3 menit dan berlanjut selama 2-3 jam itu saatnya untuk telpon bidan. Mas Zalfany ambil HP untuk menghitung waktu kontraksi, tapi ga terlalu sukses karena saya ga tahu pasti kapan kontraksi itu betul-betul dimulai dan selesai. Tapi kira-kira begitu deh, dan karena sudah sakit juga jam 6 pagi saya telpon bidan lagi, bilang sepertinya kontraksi sudah berlangsung sekitar 3 jam. Bidan bilang, ia akan datang 1 jam lagi ke rumah. OK.

Selama kontraksi ini rasanya kram sekali dan sakit. Setiap kali kontraksi datang saya berusaha untuk napas perut dengan baik, dan ini betul-betul membantu meringankan rasa sakit. Malah untuk beberapa kontraksi rasanya ga terasa sakit.

Bidan datang

Jam 7 pagi bidan datang, lalu melakukan periksa dalam. Ini pertama kalinya saya diperiksa dalam, karena di Belanda ga pernah periksa dalam selama kontrol (dan saya bersyukur karena ini, karena ternyata periksa dalam ga nyaman, ya!). Alhamdulillah, sudah pembukaan 3 cm, katanya. Saya betul-betul lega karena saya sudah menguatkan hati kalau-kalau bidan bilang pembukaan baru 1 atau 2 cm (saya banyak baca/dengar cerita pembukaan yang berjalan lamaa sekali). Bidannya melihat keadaan saya ketika saya kontraksi dan napas perut, dan dia bilang, "goed gedaan!" Bagus, ga ada masalah apa-apa, dan katanya, terus napas seperti itu ya. (iya, pikir saya, karena beberapa kali saya "lupa" gimana caranya napas seperti ini rasanya ga tahan deh! Makanya untung juga Mas Zalfany ikut maternity class, jadi dia bisa ngingetin/ngajak napas sama-sama).


Setelah itu bidan bilang bahwa kontraksinya akan semakin kuat, dan saya diminta untuk telpon lagi kalau selang kontraksi sudah semakin pendek dan rasanya semakin sakit. Sepuluh menitan bidan di rumah, setelah itu beliau pergi lagi.

Kontraksi memang kemudian datang semakin kuat, dan selain rasa sakit yang kemudian terasa adalah: lapaaar! Hehehe, jadinya di sela-sela kontraksi saya makan roti coklat yang dibuatkan Mas Zalfany. Untuk kontraksi yang semakin kuat ini, napas aja ga cukup. Rasanya saya lebih enakan kalau dipeluk kuat-kuat dari belakang selama kontraksi berjalan. Jadinya heboh, setiap kontraksi sudah mulai datang, saya langsung membangunkan Mas Zalfany terus dia meluk kuat-kuat sambil masih ngantuk-ngantuk. Di sela-sela kontraksi juga saya tertidur karena memang malam itu kita belum tidur baik.

Mayday, mayday!

Jam 9 pagi rasanya, kontraksi betul-betul tak tertahankan. Ga bisa dilukiskan kata-kata. Dan kok rasanya sering banget datangnya! Mulai deh berpikir, apa ini artinya pembukaan sudah besar? Tapi ini baru 2 jam dari bidan mengecek tadi, dan kalau mengacu informasi dari les yang bilang satu kontraksi satu jam.. paling beruntung ini adalah bukaan 5. Tapi terus karena penasaran dan udah ga tahan, jam 9.30 kita cek buku itu, dan ternyata tertulis di situ: mulai bukaan 7-10 ini tahapan labour yang berikutnya, dimana kontraksi memang jauh lebih kuat, berdurasi satu setengah menit, dan jarak hanya 2 menit antar kontraksi. Wah, ini berarti memang sudah bukaan 7 setidaknya?


Mas Zalfany lalu menelpon klinik bidan. Bidan akan segera datang, katanya. Nah, "segera" ini rasanya lamaa sekali. Lima belas menit lewat, kok bidan belum datang aja.. padahal rasanya sudah semakin sakit dan saya ingin sekali push. Saya coba teknik napas pendek-pendek untuk menahan push, lumayan membantu, tapi saya betul-betul panik takut push ga terkontrol dan bayi keluar (rasanya sempet juga push ga terkontrol)! Akhirnya kita telpon bidan lagi, kali ini saya ikut ngomong (lebih tepatnya: teriak) supaya bidan cepat datang. Dan asisten bidan bilang, "Iya, iya, bidan on the way!" Dan sepertinya bidan memang baru berangkat saat itu, karena 15 menit kemudian bidan datang. Fiuh.

Kali ini bidan yang datang bidan lain. Beliau mengecek dan bilang, wah ini sudah bukaan 7-8. (Waduh, belum 10, tapi saya sudah betul-betul pengen push, nih!). Terus bidan nanya, "Kamu berencana melahirkan di rumah atau di rumah sakit?" Saya bilang, "rumah!" (dalam pikiran saya, kalau mau di rumah sakit, serius nih saya baru harus ke rumah sakit di kala rasa sakitnya sudah begini? Pindah posisi aja ga mau, apalagi ganti baju dan pergi ke rumah sakit!). Lalu bidan sibuk menyiapkan tempat tidur bayi. Selimut, seprai, baju dihangatkan di atas heater. Ada kejadian lucu, bidan ini ga berbahasa Inggris dan jadinya seluruh komunikasi dalam bahasa Belanda. Nah, sayangnya, Mas Zalfany nggak ngerti istilah-istilah seprai, selimut, rompi, dan kawan-kawannya dalam bahasa Belanda. Plus, sekalipun dia tahu misalnya, dia ga tahu dimana barang-barang ini berada! (Untungnya saya sudah selesai merapikan barang-barang ini sehari sebelumnya!)

Jadi begitulah, saya ditinggalkan sendiri berjuang dengan keinginan push.. dan bidan + Mas Zalfany sibuk menyiapkan barang-barang. Setelah setengah jam yang rasanya setahun, bidannya datang lagi ke saya dan saya bilang kalau saya udah ga tahan pengen push. Bidan bilang, boleh! Kali ini, saya yang ga percaya. Masa udah boleh?! Alhamdulillah ternyata dalam satu jam tadi bukaan sudah penuh.

And comes the best part...

Jam 10.41, dibantu bidan dan Mas Zalfany sebagai bidan, setelah 11 menit push, akhirnya Mentari menyapa dunia. Tentunya waktu itu kita belum tahu kalau itu adalah Mentari, karena baru beberapa saat setelah ia lahir, baru Mas Zalfany bilang: perempuan...


Alhamdulillah...

Setelah itu Mentari diletakkan di dada saya. Lalu bidan meng-clamp tali ari-ari dan membiarkan Mas Zalfany memotongnya. Setelah itu bidan menyuntikan sesuatu ke paha untuk mempercepat plasenta keluar, lalu menjahit perineum karena ternyata ruptur. Setelah lama Mentari di dada saya, Mentari ditimbang, dikasih vit K, lalu disusui (setelah baca-baca harusnya urutan ini ditukar, menysui dlu sebelum lain-lainnya). Setelah itu baru dibersihkan dan diberi baju.

Hari itu rasanya: magical.
Ga habis rasanya saya memandangi makhluk mungil dalam dekapan saya... saya jatuh cinta!

Labels: ,

Tuesday, February 16, 2010

tentang hamil di belanda: home delivery

Ketika saya pertama kali datang ke Belanda, cerita tentang ibu hamil di Belanda selalu membuat saya menyerengitkan alis. Manajemen kehamilan di Belanda berbeda dengan di Indonesia, dan berbedanya ini sering membuat saya berkomentar: yang bener aja?! Hehehe. Terutama tentang ini nih: "home delivery".

Di Belanda, dalam keadaan normal (sehat, tidak ada komplikasi, sejarah kehamilan yang lalu baik) ibu hamil ditangani oleh bidan. Dan dalam kondisi "ideal" seperti ini, default-nya, ibu hamil akan melahirkan di rumah, kecuali jika ibu hamil tersebut meminta untuk melahirkan di klinik atau di rumah sakit. Dalam proses kelahiran di rumah sakit yang seperti ini, tetap bidan yang akan menangani ibu hamil tersebut. Dokter hanya akan menangani jika ada alasan medis.

Butuh waktu 2 tahun untuk menerima ide ini (dengan banyak mendengar pengalaman orang-orang, baca-baca, dan diskusi di kelas bahasa Belanda), sampai akhirnya sebelum saya hamil saya sudah yakin bahwa jika saya hamil saya ingin melahirkan di rumah.


Nah, apa yang membuat saya merasa yakin untuk melahirkan di rumah?

Alasan utama sih karena: nyaman! Saya bisa membuat kondisi rumah dalam keadaan senyaman mungkin dengan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Coba bayangkan bedanya dengan atmosfer rumah sakit?

Bagaimana dengan masalah aman? Apa melahirkan di rumah aman? Saya pernah baca artikel bahwa melahirkan di rumah tidak lebih tidak aman daripada melahirkan di rumah sakit, jika kehamilan tidak bermasalah. Dan saya pun mengamati bahwa bidan di sini cukup berhati-hati. Jika mereka mendeteksi ada masalah sedikit saja dalam proses melahirkan (dari awal pembukaan misalnya), ibu hamil akan segera dibawa ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter.

Selain itu, urusan harus pergi ke rumah sakit ini ga praktis. Berbeda dengan di Indonesia misalnya, dimana ibu hamil tetap diterima di rumah sakit ketika kontraksi masih jarang misalnya, di sini, ibu hamil baru boleh datang ketika kontraksi sudah intens. Mengenai intens itu kapan, saya tidak pernah mencari infonya baik-baik sampai ketika saya melahirkan. Ketika saya sudah bukaan 7-8, bidan bertanya pada saya apa saya berencana melahirkan di rumah sakit atau di rumah. Artinya, kalau saya berniat melahirkan di rumah sakit, maka saya akan pergi ke rumah sakit di kala saya ga mau lagi pergi dari rumah. Jangankan keluar rumah, pindah posisi saja rasanya ga mau! Begitu pula dengan waktu keluar dari rumah sakit. Jika semua lancar, dalam 3-4 jam setelah melahirkan ibu baru (sekarang bukan ibu hamil lagi) harus pulang.

Alhamdulillah semua lancar dengan proses kehamilan dan kelahiran Mentari. Pengalaman melahirkan bulan Des lalu (insya Allah detilnya menyusul, ya) menjadi pengalaman home delivery yang sangat menyenangkan :).

Labels: ,

Sunday, February 07, 2010

tentang phd sambil jadi ibu

Belakangan ini saya kirim-kiriman email dengan seorang teman di Spanyol. Dulu kami sama-sama intern di Philips Research, bekerja di lab yang sama. Dia sudah kembali ke negerinya, dan di sana dia mengerjakan PhD seperti saya di sini.

Dia bilang, saya sangat beruntung karena bisa punya anak sambil PhD. Di Spanyol, mereka tidak punya sistem yang memungkinkan untuk itu, katanya. Sistem yang mendukung ibu bekerja di Belanda memang membuat PhD dan menjadi seorang ibu pada saat yang bersamaan hal yang mungkin. Di sini, mengerjakan PhD adalah pekerjaan (dianggap sebagai pekerja/peneliti di universitas dan statusnya bukan pelajar), sehingga saya juga punya hak-hak seperti layaknya orang yang bekerja. Walaupun, tetap saja, bukan hal yang mudah untuk menemukan seorang mahasiswa PhD yang memiliki anak.. dan banyak orang yang berkomentar terhadap saya, "It's going to be very hard for you!!"

Dan memang karenanya, saya harus lebih banyak bersyukur.. karena selain sistem yang mendukung, saya memiliki promotor dan co-promotor yang sangat pengertian. Saya ingat bahwa supervisor saya tersebut pernah bercerita pada saya bahwa koleganya sangat tidak mendukung mahasiswa PhD-nya untuk hamil (katanya, dia bilang, "Don't ever think to be pregnant if you are my student!"). Sedangkan beliau, satu postingan ini tidak akan pernah cukup untuk menceritakan kebaikan-kebaikannya terhadap saya. Dan karenanya, saya sungguh sungguh beruntung.

Bulan April nanti saya akan kembali ke kampus lagi. Apakah nanti perjalanannya tidak semulus masa-masa kehamilan kemarin, saya tidak tahu.. mungkin tantangannya akan beda lagi, dan mungkin komentar-komentar teman-teman saya di kampus bahwa ini bukan hal yang mudah akan terbukti. Apapun itu.. semoga saya ingat untuk tidak pernah menyerah, terutama dengan sedemikian banyaknya kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan.

Dan Mentari sayang,... semoga suatu saat engkau bisa mengerti bahwa ibu tidak (akan) pernah menyerah untuk memperjuangkanmu. Insya Allah. Karena memelukmu di dada ibu adalah perasaan yang paling membahagiakan, salah satu anugrah terbesar yang pernah ibu rasakan.

Labels: , ,

Wednesday, January 20, 2010

Mentari Alya Hanifa

Alhamdulillah... segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Di penghujung tahun 2009 lengkaplah kebahagiaan keluarga kami dengan hadirnya putri kecil cantik, Mentari Alya Hanifa. Sang mentari yang menghangatkan hati di pagi tanggal 17 Desember yang bersalju.


Sungguh, maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Semoga ia tumbuh besar menjadi seperti namanya, seorang perempuan yang bersinar karena keteguhan iman kepada sang penciptanya. Semoga kehadirannya membawa kebaikan pada dunia. Amin.

***

Banyak yang ingin diceritakan, hanya sepertinya perlu waktu untuk menuliskannya menjadi kata-kata...

Labels: ,

Tuesday, December 15, 2009

tentang hamil di belanda: cuti melahirkan

Ternyata cuti sebelum melahirkan itu, salah satu kenikmatan dunia! Hehehe :D

Berbeda dengan misalnya di Indonesia yang boleh mengambil cuti baru dekat-dekat hari perkiraan lahir (HPL), di Belanda 4 minggu sebelum HPL calon ibu sudah diwajibkan untuk mengambil cuti. Dimulai sejak 6 minggu sebelum HPL, calon ibu juga sudah boleh mengambil cuti.

Peraturan yang bagus? Menurut saya, iya! Saya merasakan sekali nikmatnya cuti kali ini. Saya lebih punya waktu untuk istirahat dan rileks, merasa lebih sehat, dan ada banyak waktu untuk melakukan persiapan kelahiran. Mencuci baju bayi, menata kamar bayi, merapikan rumah (yang katanya menjadi insting seorang calon ibu), tanpa kesibukan dan stres dari pekerjaan. Dan sepertinya kalau tidak ada "paksaan" untuk cuti seperti ini, kelihatannya saya masih akan kerja rodi sukarela di kampus :D

Dan menyenangkannya lagi, cuti 4 minggu sebelum melahirkan ini bukan berarti setelah melahirkan saya akan mendapat waktu cuti lebih pendek. Karena aturannya adalah saya mendapat jatah cuti: 4 minggu sebelum melahirkan, dan 12 minggu setelah melahirkan. Jadi total cuti: 16 minggu. Kalau misalnya sang bayi datang 1 minggu terlambat, saya tetap akan mendapatkan cuti 12 minggu setelah melahirkan, yang artinya total cuti saya: 17 minggu. Kalau sang bayi datang 1 minggu lebih cepat, total cuti saya tetap 16 minggu, yang artinya saya punya waktu 13 minggu bersama bayi. Jadi kalau begini, apa lebih baik bayi lahir lebih cepat saja, ya? Hehehehe...

Saya merasa bersyukur bahwa saya ada di sini saat ini. Selain aturan cuti melahirkan tadi, setelah kembali bekerja, selama bayi belum berusia 9 bulan, saya memiliki hak untuk mengurus bayi (memberi ASI misalnya) di dalam 25% jam kerja saya. Artinya, kalau saya bekerja 8 jam/hari, saya boleh absen 2 jam untuk pergi memberi ASI. Selain itu, kantor wajib menyediakan ruangan untuk memberi/memerah ASI. Untuk pelaksanaannya nanti, semoga saya dimudahkan untuk melaksanakannya, karena kadang-kadang hak memang ada, tapi kita sendiri yang terkadang membuatnya sulit untuk mengambil hak tersebut. (Contoh paling gampang dan paling umum yang saya perhatikan: jatah cuti libur ada, tapi kok rasanya kerjaan ga bisa ditinggal? Padahal kalau kita mau, gampang, tinggalkan saja pekerjaan itu dan liburlah!:).

Selain jenis cuti melahirkan (maternity leave), ada juga yang disebutnya dengan parental leave. Dengan parental leave ini, saya boleh mengambil cuti lagi setelah melahirkan, dengan total selama 12 minggu. Untuk jenis parental leave ini, saya hanya akan dibayar 67.5% dari gaji (berbeda dengan maternity leave dimana saya tetap digaji 100%) dan boleh diambil secara tersebar-sebar. Misalnya, dengan kontrak kerja saya yang 5 hari/minggu, saya bisa mengambil pilihan untuk bekerja 4 hari/minggu, yang artinya 1 hari/minggu saya pakai untuk parental leave. Dengan begini, saya boleh bekerja hanya 4 hari/minggu selama 60 minggu.

Efek cuti ini terhadap kontrak PhD saya: kontrak akan diperpanjang sebanyak masa cuti yang saya ambil, dan ini berarti saya akan menyelesaikan PhD dalam waktu 7 bulan lebih lama dari waktu normal (dan biasanya "orang normal" pun jarang yang bisa selesai dalam "waktu normal")!! Waah.. kapan pulangnya kalau begini? :D


Labels: ,

Friday, December 04, 2009

A surprise baby shower

I cannot thank enough for having such wonderful friends and colleagues!

Today is my last day at uni before my maternity leave. After a meeting with my supervisor this morning to discuss some practical stuffs, she asked me to come together to have a coffee break (in Holland, they have "fixed" coffee time around 10.30 and 15.30 where people usually come and have a chat). I wasn't suspicious at all, of course, since it's all normal daily life here.

But then I heard some noise from the coffee room. Hmm, so many people gathering, I wondered. I was trying to remember whether I received any emails announcing some celebration. Occasionally we have cakes from people who have birthday or other kind of things they want to share the happiness with. Then I came in and saw a lot of cookies (someone is definitely having a celebration, I thought), and a basket full of presents! I was looking around trying to figure out whose celebration it was.

Then they all shouted, "SURPRISE!!!!"

I was stunned.
It was all unexpected. Really, it was so nice (and very surprising), I didn't know what to say.
I still couldn't digest what was happening.

Then my supervisor said, "Since this is your last day before your maternity leave, we want to throw you a surprise baby shower..", then she continued, "we're all very sad that you're leaving for 4 months, but very happy that you're having a baby.."

....

That indeed was a very nice surprise. I was very touched by everything they did for me. They have been very kind to me during my pregnancy (yes, having experiments and being pregnant are actually not a very easy thing to do, but they have been helping me to make it possible), they didn't have to throw a party.

Thank you, Allah, for giving me such wonderful people around.
I know that the coming months when I'm back to work things are gonna be different, for sure, but it seems that I don't have enough reasons to worry.
If I am asked to name the best gifts I ever received in my life, I think I can say that one of them is having those people in a chapter of my life.

Labels: ,

Sunday, November 29, 2009

untuk 36 minggu ke belakang dan minggu-minggu yang akan datang...




Tanpa kusadari akhir-akhir ini saya sering menggumamkan lagu nina bobo di atas. Menenangkan, dan membawa perasaan hangat di hati. Seperti juga kehangatan yang dibawa oleh orang-orang di sekeliling saya.

Sebuah kehidupan baru yang insya Allah akan menyapa dunia dalam hitungan minggu, telah membawa sedemikian banyak anugrah yang sering kali terlupakan untuk disyukuri. Teman-teman kerja yang dengan senang hati membantu saya, terutama salah satu bioteknisi di lab (bayangkan, dia tidak cape-capenya untuk datang satu jam lebih pagi dan pulang lebih sore beberapa hari berturut-turut selama 6 minggu saya melakukan eksperimen, untuk membantu saya karena hal-hal yang harus saya hindari selama kehamilan). Dan juga teman-teman lain yang pengertian, dengan membuat bekerja di lab tetap mungkin, demi target saya sendiri untuk menyelesaikan satu studi sebelum cuti panjang. Alhamdulillah, jalan selalu terbuka.

Dan lebih dari itu, pembimbing saya yang kebaikan dan perhatiannya selalu memberi tambahan kekuatan. Hubungan saya dengan beliau juga terus berkembang ke arah yang sangat baik; saya tidak bisa meminta lebih lagi dari itu, karena ini adalah hubungan yang seringkali saya idamkan dari seorang pembimbing tapi tidak pernah saya bayangkan bisa betul terjadi. Terimakasih, ya, Allah...

10 hari terakhir sebelum cuti.. semoga saya bisa memanfaatkan dengan baik, dan terlebih lagi, semoga saya bisa memanfaatkan semua waktu yang saya punya untuk menyiapkan diri menyambut amanah yang akan datang. Untuk membesarkannya menjadi seorang insan yang mengerti bahwasanya kemudahan-kemudahan dan kebaikan-kebaikan yang diterima orang tuanya di kala ia mulai menjadi bagian dari kehidupan mereka, adalah karena kemurahan Tuhannya. Dan semoga ia tumbuh menjadi seorang bijak yang bisa menebarkan kebaikan-kebaikan ini kepada orang di sekitarnya...

Tapi sebelum itu semua, doa saya sekarang: tumbuhkanlah ia dengan baik di rahimku, ya Allah, dan berikanlah ia kekuatan agar tidak menyerah ketika berjuang untuk menyapa dunia luar yang mungkin tidak senyaman dimana tempatnya berada sekarang...

Labels:

Thursday, July 23, 2009

Saat ini... saat ini...

Terimakasih untuk teman-teman yang bertanya-tanya, kemanakah menghilangnya saya akhir-akhir ini.

Tidak, tidak. Saya tidak sedang ditelan bumi.

Saya sedang tenggelam dalam kejutan dalam hidup yang begitu berlimpah, dan membuat hidup memang terasa indah.
Iya, hidup memang indah, bukan? :)

Salah satu karunia terbesar yang pernah saya dapatkan, mungkin adalah saat ini. Saat saya tidak pernah sendirian, saat bertumbuh kehidupan lain di dalam perut saya yang membuat saya semakin yakin bahwa Allah itu ada, Ia yang Maha Baik.

Saat ini adalah saat saya merasa sangat tenang, optimis, dan penuh harap dalam menghadapi masa depan. Saat ini adalah ketika saya merasa hidup saya berada dalam harmonisasi dan sinkronisasinya sendiri. Saat bermacam hal tiba untuk mengatakan, bahwa tidak ada yang lebih penting daripada rasa syukur atas hidup ini dan apa yang ada di dalamnya.

Seringkali saya tidak mengerti apa yang terjadi dalam hidup, sehingga saya perlu meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu terjadi dengan suatu alasan, dan bukan hanya kebetulan... saat ini, saat ini, adalah saat saya diberikan kesempatan untuk menemukan sedikit dari alasan-alasan tersebut. Bahwa Allah yang Maha Pengatur, Dia yang Maha Tahu akan apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

***

PS: cerita yang tidak abstrak mudah-mudahan bisa disambung di kali yang lain :).

Labels: