labour!
Akhirnya, setelah lewat berminggu-minggu saya pengen cerita tentang proses kelahiran Mentari. Karena sebelum melahirkan saya senang mendengar cerita-cerita proses kelahiran orang lain, mudah-mudahan cerita ini juga ada manfaatnya untuk ibu hamil di manapun anda berada :). Selain itu, kalau ga ditulis, bisa-bisa pengalaman ini akan terlupakan begitu saja (bahkan sekarang pun banyak detil yang ga terlalu ingat lagi!).
Mentari lahir term, 37 minggu lebih 5 hari. Ga diduga-duga karena semua orang bilang kalau anak pertama biasanya lahir telat (he eh, kata siapa coba?). Prosesnya dimulai dengan air ketuban yang pecah tanggal 17 Desember (kamis) jam 1 pagi. Sebenernya kalau diinget-inget mungkin dari tanggal 16 Des (rabu) sudah ada tanda-tandanya karena seharian rasanya perut sakit, tapi saya ga curiga sama sekali karena saya pikir itu dari teri aceh Kak Renni yang super pedas, yang memang saya makan terus-terusan beberapa hari terakhir itu.
Air ketuban pecah?
Jam 1 pagi itu saya terbangun karena rasanya nggak nyaman. Mungkin karena memang tempat tidur basah karena air ketuban. Untungnya, sejak hamil 37 minggu saya sudah mulai memasang plastik di bawah seprai untuk jaga-jaga jika hal ini terjadi. Hal yang pertama kali dilakukan: kaget (my life was about to change very soon, I thought :). Hehe, terus refleks langsung mengecek warna air ketuban. Alhamdulillah, bening. Ini warna normal, kalau warna hijau/coklat, kata bidannya harus ke rumah sakit. Dan alhamdulillah dari hasil kontrol 2 hari sebelumnya, posisi kepala bayi sudah terkunci di jalan lahir, sehingga walaupun air ketuban pecah, saya boleh bergerak leluasa. Kalau kepala bayi belum terkunci, saya harus berbaring jika air ketuban pecah untuk menjaga agar jalan keluar bayi tidak terganggu.
Setelah itu saya telpon bidan. Kebetulan yang on-call malam itu adalah bidan yang baru saja mengecek saya 2 hari sebelumnya ketika kontrol rutin. Bidannya bilang, silakan tidur lagi saja.. kita tunggu kontraksinya datang dalam waktu 24 jam ini. Bidannya berpesan, kalau kontraksi datang, boleh mandi/shower untuk mengurangi rasa sakitnya.
Setelah itu saya langsung menelpon orang tua dan adik (untungnya di Indonesia/Australia pagi hari, ya, bukan tengah malam buta). Mohon didoakan semoga semua lancar. Saya kabarkan ke ibu saya yang akan datang 3 hari kemudian, bahwa insya Allah bayinya kelihatannya ga mau nunggu neneknya. Karena kalau air ketuban sudah pecah, dalam 24 jam bayi harus dilahirkan untuk menghindari resiko terinfeksi dari luar.
Oh, ini yang namanya kontraksi...
Sampai jam 3 pagi rasanya aman-aman. Ga ada kontraksi, saya masih bisa santai-santai. Lalu mulai jam 3 pagi rasanya perut mulai kram seperti ketika sedang menstruasi. Tapi saya ga yakin, apa ini kontraksi bukan ya. Karena mulai agak sakit, saya coba untuk shower dengan air panas. Ternyata, malah makin sakit! Kayaknya tips untuk shower ga bekerja untuk semua orang, nih. Setelah itu rasa sakitnya periodik, dan setelah itu saya mulai yakin kayaknya ini yang namanya kontraksi!
Kontraksi periodik ini dimulai dengan kontraksi selama kurang lebih 1 menit, lalu istirahat 3-4 menit, lalu kontraksi lagi 1 menit, dan begitu terus. Sewaktu ga ada kontraksi rasanya seperti ga ada apa-apa. Pesan bidannya, kalau kontraksinya sudah selang 3 menit dan berlanjut selama 2-3 jam itu saatnya untuk telpon bidan. Mas Zalfany ambil HP untuk menghitung waktu kontraksi, tapi ga terlalu sukses karena saya ga tahu pasti kapan kontraksi itu betul-betul dimulai dan selesai. Tapi kira-kira begitu deh, dan karena sudah sakit juga jam 6 pagi saya telpon bidan lagi, bilang sepertinya kontraksi sudah berlangsung sekitar 3 jam. Bidan bilang, ia akan datang 1 jam lagi ke rumah. OK.
Selama kontraksi ini rasanya kram sekali dan sakit. Setiap kali kontraksi datang saya berusaha untuk napas perut dengan baik, dan ini betul-betul membantu meringankan rasa sakit. Malah untuk beberapa kontraksi rasanya ga terasa sakit.
Bidan datang
Jam 7 pagi bidan datang, lalu melakukan periksa dalam. Ini pertama kalinya saya diperiksa dalam, karena di Belanda ga pernah periksa dalam selama kontrol (dan saya bersyukur karena ini, karena ternyata periksa dalam ga nyaman, ya!). Alhamdulillah, sudah pembukaan 3 cm, katanya. Saya betul-betul lega karena saya sudah menguatkan hati kalau-kalau bidan bilang pembukaan baru 1 atau 2 cm (saya banyak baca/dengar cerita pembukaan yang berjalan lamaa sekali). Bidannya melihat keadaan saya ketika saya kontraksi dan napas perut, dan dia bilang, "goed gedaan!" Bagus, ga ada masalah apa-apa, dan katanya, terus napas seperti itu ya. (iya, pikir saya, karena beberapa kali saya "lupa" gimana caranya napas seperti ini rasanya ga tahan deh! Makanya untung juga Mas Zalfany ikut maternity class, jadi dia bisa ngingetin/ngajak napas sama-sama).
Setelah itu bidan bilang bahwa kontraksinya akan semakin kuat, dan saya diminta untuk telpon lagi kalau selang kontraksi sudah semakin pendek dan rasanya semakin sakit. Sepuluh menitan bidan di rumah, setelah itu beliau pergi lagi.
Kontraksi memang kemudian datang semakin kuat, dan selain rasa sakit yang kemudian terasa adalah: lapaaar! Hehehe, jadinya di sela-sela kontraksi saya makan roti coklat yang dibuatkan Mas Zalfany. Untuk kontraksi yang semakin kuat ini, napas aja ga cukup. Rasanya saya lebih enakan kalau dipeluk kuat-kuat dari belakang selama kontraksi berjalan. Jadinya heboh, setiap kontraksi sudah mulai datang, saya langsung membangunkan Mas Zalfany terus dia meluk kuat-kuat sambil masih ngantuk-ngantuk. Di sela-sela kontraksi juga saya tertidur karena memang malam itu kita belum tidur baik.
Mayday, mayday!
Jam 9 pagi rasanya, kontraksi betul-betul tak tertahankan. Ga bisa dilukiskan kata-kata. Dan kok rasanya sering banget datangnya! Mulai deh berpikir, apa ini artinya pembukaan sudah besar? Tapi ini baru 2 jam dari bidan mengecek tadi, dan kalau mengacu informasi dari les yang bilang satu kontraksi satu jam.. paling beruntung ini adalah bukaan 5. Tapi terus karena penasaran dan udah ga tahan, jam 9.30 kita cek buku itu, dan ternyata tertulis di situ: mulai bukaan 7-10 ini tahapan labour yang berikutnya, dimana kontraksi memang jauh lebih kuat, berdurasi satu setengah menit, dan jarak hanya 2 menit antar kontraksi. Wah, ini berarti memang sudah bukaan 7 setidaknya?
Mas Zalfany lalu menelpon klinik bidan. Bidan akan segera datang, katanya. Nah, "segera" ini rasanya lamaa sekali. Lima belas menit lewat, kok bidan belum datang aja.. padahal rasanya sudah semakin sakit dan saya ingin sekali push. Saya coba teknik napas pendek-pendek untuk menahan push, lumayan membantu, tapi saya betul-betul panik takut push ga terkontrol dan bayi keluar (rasanya sempet juga push ga terkontrol)! Akhirnya kita telpon bidan lagi, kali ini saya ikut ngomong (lebih tepatnya: teriak) supaya bidan cepat datang. Dan asisten bidan bilang, "Iya, iya, bidan on the way!" Dan sepertinya bidan memang baru berangkat saat itu, karena 15 menit kemudian bidan datang. Fiuh.
Kali ini bidan yang datang bidan lain. Beliau mengecek dan bilang, wah ini sudah bukaan 7-8. (Waduh, belum 10, tapi saya sudah betul-betul pengen push, nih!). Terus bidan nanya, "Kamu berencana melahirkan di rumah atau di rumah sakit?" Saya bilang, "rumah!" (dalam pikiran saya, kalau mau di rumah sakit, serius nih saya baru harus ke rumah sakit di kala rasa sakitnya sudah begini? Pindah posisi aja ga mau, apalagi ganti baju dan pergi ke rumah sakit!). Lalu bidan sibuk menyiapkan tempat tidur bayi. Selimut, seprai, baju dihangatkan di atas heater. Ada kejadian lucu, bidan ini ga berbahasa Inggris dan jadinya seluruh komunikasi dalam bahasa Belanda. Nah, sayangnya, Mas Zalfany nggak ngerti istilah-istilah seprai, selimut, rompi, dan kawan-kawannya dalam bahasa Belanda. Plus, sekalipun dia tahu misalnya, dia ga tahu dimana barang-barang ini berada! (Untungnya saya sudah selesai merapikan barang-barang ini sehari sebelumnya!)
Jadi begitulah, saya ditinggalkan sendiri berjuang dengan keinginan push.. dan bidan + Mas Zalfany sibuk menyiapkan barang-barang. Setelah setengah jam yang rasanya setahun, bidannya datang lagi ke saya dan saya bilang kalau saya udah ga tahan pengen push. Bidan bilang, boleh! Kali ini, saya yang ga percaya. Masa udah boleh?! Alhamdulillah ternyata dalam satu jam tadi bukaan sudah penuh.
And comes the best part...
Jam 10.41, dibantu bidan dan Mas Zalfany sebagai bidan, setelah 11 menit push, akhirnya Mentari menyapa dunia. Tentunya waktu itu kita belum tahu kalau itu adalah Mentari, karena baru beberapa saat setelah ia lahir, baru Mas Zalfany bilang: perempuan...
Alhamdulillah...
Setelah itu Mentari diletakkan di dada saya. Lalu bidan meng-clamp tali ari-ari dan membiarkan Mas Zalfany memotongnya. Setelah itu bidan menyuntikan sesuatu ke paha untuk mempercepat plasenta keluar, lalu menjahit perineum karena ternyata ruptur. Setelah lama Mentari di dada saya, Mentari ditimbang, dikasih vit K, lalu disusui (setelah baca-baca harusnya urutan ini ditukar, menysui dlu sebelum lain-lainnya). Setelah itu baru dibersihkan dan diberi baju.
Hari itu rasanya: magical.
Ga habis rasanya saya memandangi makhluk mungil dalam dekapan saya... saya jatuh cinta!

