Thursday, August 31, 2006

master intro (2) - dimensi budaya


Menyadari betapa pentingnya perbedaan budaya dalam menciptakan sinergi, seorang profesor di Belanda, bernama Geert Hofstede, mengadakan penelitian tentang hal ini. Ini yang beliau katakan: "Culture is more often a source of conflict than of synergy. Cultural differences are a nuisance at best and often a disaster." [Prof. Geert Hofstede, Emeritus Professor, Maastricht University]

Di dalam penelitiannya, beliau mengkarakteristikan sebuah budaya di suatu negara dengan 5 dimensi yang berbeda:

- power distance index (PDI), contoh: seberapa berbeda atasan dengan bawahan, bagaimana hierarki bekerja, dll. Indonesia memiliki PDI yang tinggi. Title talks. Orang seringkali dihargai karena titel dan jabatannya :)
- individualism (IDV), yaitu apakah orang lebih self centered, atau lebih community-centered.
- masculinity (MAS), yaitu seberapa berbeda posisi laki-laki dan perempuan. Misalnya, /co dan /ce berbelanja bersama dan barang belanjaan /ce lebih banyak.. Di Indonesia adalah hal yang (setidaknya dirasa oleh /ce :) wajar jika /co menawarkan bantuannya. Namun di sini, tidak ada hubungannya sama sekali. Malah /ce akan merasa dianggap "lemah" jika /co menawarkan bantuan.
- uncertainty avoidance index (UAI), yaitu seberapa penting sebuah peraturan dibuat untuk mengendalikan hal-hal yang tidak pasti.
- long term orientation (LTO), yaitu sikap sebuah negara terhadap komitmen jangka panjang dan keteguhannya terhadap tradisi.

Menarik juga untuk membaca lebih jauh tentang analisis Geert Hofstede tentang Indonesia di sini. Atau ini juga menarik, tapi rasanya ada beberapa hal yang saat ini kurang tepat.

Belanda adalah negara dengan Power Distance Index (PDI) yang rendah. Contoh yang paling terlihat adalah hierarki yang sama sekali tidak kuat antara atasan dan bawahan. Antara profesor dan mahasiswa. Seorang profesor dihargai bukan karena jabatan "profesor"nya, tapi karena sikapnya yang memang pantas untuk dihargai. Misalnya, perhatian terhadap mahasiswanya. Salah satu bukti PDI yang rendah adalah: profesor saya mengajak kami, 3 orang mahasiswa asing di BME (hanya ada 4 orang mahasiswa asing di BME: saya, teman satu project dari Yunani, satu orang Italia, dan satu orang Irlandia yang belum datang), makan malam bersama. Kami pergi dengan 2 orang staf dan 1 orang mahasiswa PhD. Suasananya sangat hangat, dan tidak terasa kami berada di sana kurang lebih selama 3 jam. Kami bercerita hampir tentang macam-macam, termasuk profesor saya menyarankan saya untuk mengambil foto dessert yang kami makan (karena bentuknya indah sekali) untuk ditaruh di blog. Hehehe, tauuu aja :p

Jadi, ini oleh-oleh dari beberapa hari "master intro" ini. Strawberry cheese cake & stracciatella :)


But this time, don't ask me how to make it, please... I just had it served on my table :p
Oh ya, resep tiramisu ada di sini.

Enjoy!

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

<< Home