Tuesday, July 25, 2006

hidup


Sore ini saya sedang berjalan sendiri, melamun. Tiba-tiba seorang tak dikenal mendekati saya, memperkenalkan diri bahwa ia ingin bertukar pikiran. Pembicaraan yang menjadi menarik, walaupun akhirnya adalah publikasinya mengenai suatu seminar sabtu ini di Tokyo.

Biasanya orang Jepang enggan sekali menyapa orang yang tak dikenalnya. Apalagi saya jelas-jelas terlihat sebagai orang asing. Enggan, karena perasaan tidak mau mengganggu orang lain, dan juga tidak mau merepotkan orang lain. Anyway, pembicaraan dimulai dengan pertanyaan besar yang cukup mengganggu. Yang tidak pernah saya duga akan dilontarkan di pinggir jalan.

「人生の目的って何?」
Apa tujuan dari hidup ini?

Lalu ia meminta saya memilih satu dari beberapa jawaban yang ia punya listnya:
-- sukses dalam pekerjaan
-- bermain dan bersenang-senang
-- hidup dengan orang-orang penting seperti sahabat, kekasih, keluarga
-- tidak penting apa tujuan hidup ini
-- tidak ada arti dan tujuan hidup ini

Tidak ada satu jawaban pun yang saya rasa tepat --duh, setelah saya harus bersusah payah membacanya, ternyata tidak ada yang tepat pula :p Jadi saya jawab saja sekenanya, saya bilang kalau dari semua pilihan itu, rasanya saya akan pilih untuk hidup dengan orang-orang penting. "Kenapa?" tanyanya. Saya jawab, "Karena saya nggak mungkin bisa hidup sendiri." --Iya, dengan hidup bersama orang lain kita bisa membagi hal-hal baik dan bisa belajar hal-hal baik juga. Hidup bersama orang lain akan membuat kita lebih kuat. Tapi lalu kemudian dia bilang, "Lalu, kalau orang-orang itu sudah tidak ada lagi... Gimana?"

"Jadi, apakah hidup ini memang ada tujuannya?" tanyanya.

Hmm, sebenarnya selalu tertanam di kepala ini (atau lebih tepatnya, doktrinasi :p astaghfirullah, sebuah hafalan sejak kecil) kalau tujuan hidup ini untuk beribadah. Kepada Allah, sang pencipta. Sang penguasa langit dan bumi. Apapun yang terjadi dalam hidup ini seharusnya menjadi ladang untuk menghamba kepada-Nya.

Saya sedikit bercerita tentang hal itu kepadanya.
Dan kemudian dia berkata lagi, "Kamu tahu... segala sesuatu hal di dunia ini berubah. Hati manusia juga berubah-ubah."
"Ya, benar," kataku, "segala sesuatu hal berubah, begitu pula hati manusia."
"Kalau begitu...," lanjutnya, "apa kamu yakin keyakinan yang kamu miliki sekarang itu tidak akan berubah? Bahkan sampai ketika kamu mati?"
Saya terdiam.
"Ya... saya akan berusaha untuk menjaganya agar tidak berubah," kataku. --karena saya tahu itu adalah pegangan hidup saya sekarang yang saya yakini sebagai sesuatu yang benar.
"Tapi segala sesuatu hal itu, ... sekalipun kita tidak ingin mereka berubah, mereka berubah dengan sendirinya," bantahnya. "tidak terelakkan."

"Jadi kamu yakin hati kamu bisa tidak berubah?" tanyanya lagi.
"Apapun perubahan yang terjadi, saya berharap sampai nanti, sampai saatnya mati, saya selalu berada dalam kondisi yang baik," kataku.
"Kondisi baik?" ia heran.
"Iya, keadaan bahwa saya tetap memegang apa yang saya yakini ini. Bahwa saya hidup adalah sebagai penghambaan dan rasa syukur kepada Allah, yang telah menciptakan saya."

Hmph.
Saya jadi malu sendiri. Rasanya saya harus kembali menata semua niat, dengan niat untuk beribadah kepada-Nya. Niat yang harusnya membuat saya menjadi jauh lebih tenang, lebih ikhlas, dan lebih bersyukur. Dan yang penting, niat yang akan menjaga saya agar selalu dalam kondisi yang baik...

Astaghfirullah...



Friday, July 21, 2006

justru karena ada


Aku selalu tahu bahwa keberadaan seseorang baru benar-benar terasa berharga setelah kita kehilangannya.

Dan jika aku tahu pasti tentang hal seperti itu,
kenapa aku tidak sebaliknya belajar untuk benar-benar mensyukuri kehadiran orang-orang yang justru saat ini ada di sampingku, ya?
Bersyukur dengan lebih memperhatikan mereka, dengan lebih mempertimbangkan kebutuhannya, dengan tidak menyakiti mereka, ...

Karena aku tahu,
suatu saat ketika mereka tidak lagi selalu bisa hadir di sini, ...
aku akan benar-benar merasakan bahwa aku membutuhkan kehadirannya.
Dan hidupku berbeda tanpa mereka.

*menjelang subuh, memperhatikan seorang istimewa yang sejak 21 hari yang lalu kuselami kebaikan hatinya tidur kelelahan karena seringkali kurepotkan*
--terimakasih banyak, Mas.


Thursday, July 20, 2006

terbaaang!!



8 Juli 2006. 22.35
.
JAL 726 tinggal landas dari Jakarta menuju Tokyo. Namun bukan pesawat itu saja yang tinggal landas, aku juga benar-benar ikut "terbang" bersama pesawat itu. Terbang ke chapter baru dalam kehidupanku, dimana "orang lain" -to whom I will share the rest of my life, insya Allah, ada di dalamnya. Chapter baru tersebut sebenarnya telah dimulai sejak tanggal 1 Juli 2006 ketika ijab-qabul antara bapakku dan Mas Zalfany diucapkan, namun percepatan pesawat tersebut benar-benar memberikan sensasi bahwa aku terbang!
---terbang.., hijrah, yang semoga ke tempat yang akan membukakan jalan-jalan kebaikan.

Seminggu setelah pernikahan kami "sibuk" dengan mengunjungi keluarga. Di Bandung, alhamdulillah, banyak sekali sanak saudara dan handai taulan yang datang untuk mendoakan kami. Lain dari itu, kami yang perlu bersilaturahmi ke saudara-saudara di Jakarta, Jogja, Malang, dan Surabaya. Seminggu yang padat, namun semoga menjadi awal yang baik untuk kehidupan berumahtangga kami, sebelum akhirnya pada tanggal 8 Juli itu kami terbang ke Jepang karena suami (umm, aneh juga ya sebutan ini :p, anyway, itu maksudnya Mas Zalfany), masih harus kembali pada tanggung jawabnya (pada sensei :d) saat ini.

Aku sendiri lebih banyak bernostalgia dalam 12 hari ini di Jepang. Bertemu sensei-sensei ketika masa YSEP dulu, dan juga teman-teman yang kebetulan saat ini masih ada di Jepang. 4 minggu ke depan, masih banyak teman-teman lain yang rasanya perlu kukunjungi. 4 minggu ke depan yang mudah-mudahan bisa kumanfaatkan dengan baik, sebelum harus membiarkan sebuah pesawat lain membawaku terbang. Terbang jauh meninggalkan Jepang untuk melanjutkan sekolahku, namun tidak untuk meninggalkan sang pelengkap hati. Aku yakin itu.

Teman-teman semua, mohon doanya ya :)