akhir tahun
Syukur alhamdulillah atas segala rahmat-Nya yang tiada pernah habisnya..
Untuk segala kekuatan untuk kesabaran
dan kebaikan
Di penghujung tahun ini,
aku sendiri..
masih bersama sang rindu,
dan harapan semoga dengan hikmah masa ini berlalu..
Selamat datang 2007
Saatnya bangun mewujudkan mimpi
Semoga setiap hari lebih baik dari hari sebelumnya.
kabut, matahari, dan salju
Alhamdulillah...
jadi teringat kata-kata Eri-chan, kalau Allah itu maha memelihara.. :)
Alhamdulillah banyak kelegaan beberapa hari terakhir ini, setelah beberapa hari yang lalu rasanya biru (duh, istilah siapa lagi ini, ya :)
Dua hari yang lalu berkabut tebal sekali, dari matahari terbit hingga tenggelam lagi. Walaupun kelabu, suasana rasanya "putih", setidaknya tidak "gloomy" dan "abu-abu" seperti biasanya. Hari berikutnya temperatur lebih rendah lagi, namun kali ini matahari bersinar cerah membuat hati riang :) Dan pagi ini, ketika saya membuka jendela, pohon-pohon putih bersalju. Indaaaah...
Cuaca di sini kadang-kadang berubah-ubah tidak terduga. Dan lagi, kok rasanya cuaca mempengaruhi suasana hati, ya? :)
Tapi juga, semua itu tergantung pada cara kita untuk selalu bisa menikmati hari yang kita punya setiap harinya, ya...
salah satu caranya, dan sering saya lupakan, adalah dengan bersyukur atas rahmat-Nya yang tiada habisnya...
---
PS: Eri, miss you.
Xmas market


Bulan Desember, bulannya sinterklaas ini, memang kental hubungannya dengan bisnis ;) Bisnis yang telah membuat Eropa (atau setidaknya Belanda dan juga Jerman) disulap menjadi tempat yang begitu hidup. Mengapa? Sederhana saja, kota yang biasanya sepi pada hari Minggu, sekarang ramai. Pada bulan Desember ini, toko-toko tetap buka pada hari Minggu. Di beberapa tempat, bazaar Natal membuatnya menjadi lebih meriah.
Seperti di Aachen, salah satu kota di Jerman yang paling dekat dengan perbatasan Belanda. Christmas market di Aachen yang saya kunjungi weekend lalu adalah salah satu trademark Jerman. Pasar tersebut digelar di depan town hall-nya. Cantik. Dan juga meriah, meski hujan turun terus seharian itu. Alunan akordeon. Lampu-lampu. Kios-kios. Dan, tentu saja berbagai macam harumnya makanan-makanan cemilan :)
Weekend yang tepat untuk menyegarkan kembali pikiran.
Hanya sayang, saya harus menikmatinya "sendirian" :)
Labels: travel
Lepaaas
Saya menikmati kuliah-kuliahku di sini. Sangat.
Semua kuliah yang diikuti adalah kuliah-kuliah menarik, yang kuikuti tanpa paksaan (karena di programku semua mata kuliah adalah mata kuliah pilihan). Jadi, konsekuensi untuk mengorbankan banyak waktu dan tenaga untuk kuliah yang membutuhkan usaha luar biasa, ya, itu memang diambil sendiri :). Lagipula, masa "hidup" ga pake berkorban sih. Saya belajar banyak, itu yang pasti.
Tapi ada juga beberapa kuliah yang memang direkomendasikan untuk diambil. Saya ambil juga salah satu kuliah ini. Walaupun kuliah ini ada manfaatnya, kuliah ini bukanlah kuliah yang menyenangkan buat dilalui tiap minggunya. Yang saya rasakan ketika kuliah dan mengerjakan tugas-tugasnya adalah tekanan. Tekanan yang tentu saja membuat saya tertekan. Dan tekanan itu saya buat sendiri, tentunya. Kenapa? Karena kalau saya mau, boleh-boleh saja saya drop kuliah itu. Tapi mengingat waktu yang telah sekian banyak tercurahkan buat kuliah itu, ga deh, ga ada kata "keluar" dalam kamus saya.
Dan sekarang saya makin tertekan ketika harus mengulang salah satu ujiannya.
Argh. Bukan karena ternyata saya tidak cukup menguasai kuliah tersebut, tapi ternyata.. saya belum juga diizinkan untuk "lepas" dari kuliah itu.
Tapi kenapa ya, perasaan tekanan itu harus ada?
Tekanan untuk segera "bebas" dari "masalah-masalah" sekarang. Project yang majunya pelaaan sekali, padahal sudah dekat deadline. Ujian-ujian yang menghantui, tugas-tugas yang tiada habisnya, kekhawatiran-kekhawatiran, dan juga... perasaan ingin "bebas" dari keinginan ingin bertemu kekasih tercinta.
Ah. Kenapa ya tekanan itu tidak bisa dilepaskan saja?
Masalah dalam hidup ini memang tidak akan pernah berakhir, bukan?
Labels: master journey
home
What's home anyway? :)
While I was staying in Tokyo, I felt like my dorm was my home. A place where I could seek for comfort when I was tired. A place to recharge my energy. A place to be relax. A place where I can be "simply" me. Without any masks.
That's also the case now. My home has moved to Eindhoven. I now have a space to where I just run to whenever I feel things are not fine. A place to go when I need to take a deep breath. To take a little break when I feel exhausted.
But why? Why is it there? Why I keep my home moving with me?
Because whenever I am, I always need a comfort zone. And that's a place called home.
My husband thinks about home in somewhat differently. It is still the same notions. Home is still a place to run into. An energy recharger. A relaxing place. A comfort zone.
But for him, home is where he finds his love whenever he comes home.
I agree completely.
And now, I am deeply looking forward to a moment when I can have that kind of home.
We gratefully have it now, though. Virtually.
But that will not be long, sayang..
in 10 months, we will have our "real" home already...
Insya Allah.
Labels: master journey
permainan waktu
Hitungan mundur sejak sebulan yang lalu telah berhenti tepat seminggu yang lalu. Saat pertemuan dengan sang terkasih membayar kesabaranku dengan hari-hari penuh cinta. Hari-hari dengan waktu yang seakan terbang, hingga hari ini, waktu itu berhenti sesaat saat kata perpisahan itu terpaksa harus diucapkan kembali. Satu kata yang berarti, mulai saat ini, aku akan membutuhkan lebih banyak kekuatan. Kekuatan untuk menggulung waktu yang akan berjalan perlahan.
5 minggu ke depan... aku akan merangkak bersama waktuku.
5 minggu hingga harapan akan pertemuan berikutnya mendapat ridha-Nya.
Penuh doa bahwa permainan waktu saat ini adalah rajutan indah kehidupan kami. Yang semoga akan membuat kami semakin kuat, semakin menghargai setiap kebersamaan, dan semakin mensyukuri rahmat-Nya.
Eindhoven, 11 Desember 2006.
---berjalan sendiri dalam dinginnya malam, diam, dan kuresapi rasa ini. Sebuah rasa yang dalam. Aku tahu, setiap hari, aku semakin mencintainya.
ps: foto dari: img-b.fotocommunity. com, by Matth. Haupt
friends
At Vryan's, my Philippino friend, birthday party last night.
Having a lot of friends, who share the same feeling of being an international student in the middle of nowhere (read: a new country that keeps surprising you with its values that you might never thought before) is just so nice :)
Labels: master journey