Sunday, October 29, 2006

tambahan waktu

We can't stop time.

Ya, itu benar, tentu saja. Meskipun demikian, hari ini adalah akhir dari day light saving time*. Malam memang mulai semakin panjang, hingga kemarin matahari belum saja muncul ketika jam sudah menunjukkan pukul 8.20. Dengan akhir day light saving time ini, hari ini matahari terbit pada pukul 7.20.

Artinya...
pukul 7.20 sekarang sebenarnya adalah pukul 8.20 kemarin :) Artinya, hari ini "rasanya" seperti punya bonus satu jam! Jadi terasa, benar... manusia itu merugi karena waktu, ya. Buktinya ketika diberi tambahan (semu* lho padahal!), rasanya senaaang sekali.

---

*semu, karena pada musim panas, saat day light saving time ini diberlakukan kembali... jam akan menjadi lebih cepat satu jam.

Wednesday, October 25, 2006

saudaraku..


Saya biasanya hampir selalu bisa membuat diri saya merasa nyaman, ketika berada di sekeliling orang-orang yang berbeda sekalipun. Namun, tidak demikian ketika saya beberapa kali datang ke Islamic Center untuk sholat berjamaah bulan Ramadhan yang lalu. Sebagian besar adalah orang-orang Arab, Maroko, atau Afrika. Saya dan dua orang teman Indonesia lainnya sajalah satu-satunya orang Indonesia.

Aneh sekali. Justru ketika saya berada di rumah Allah, ketika justru semua orang yang datang di sana adalah orang-orang yang seharusnya adalah sama: kami semua datang untuk sujud kepada-Nya... saya justru merasa sangat terasing. Saya begitu terasing karena saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka: saya tidak berbicara bahasa Belanda dengan baik, apalagi bahasa Arab. Dan mereka adalah imigran yang tidak berbahasa Inggris. *Dan di saat-saat seperti ini, saya selalu berharap bahwa saya bisa berbahasa Belanda dengan lebih baik* Saya juga begitu terasing karena perawakan kami yang begitu berbeda, dan cara kami berpakaian yang juga berbeda.

Pernah saya tiba-tiba tersadar, bahwa kami bertiga adalah satu-satunya orang di situ yang memakai mukena :) Pernah, suatu hari, ketika sholat akan dimulai, saya didatangi oleh seorang ibu-ibu. Hari itu saya hanya menggunakan bawahan mukena saja. Dan kita tahu, bawahan mukena itu sangat panjang hingga menutupi kaki. Ibu itu memperhatikan hal tersebut tampaknya, karena beliau mendatangi saya, dan tanpa berbasa-basi beliau langsung berusaha melipat-lipat bawahan tersebut di bagian pinggang hingga mukena itu tampak seperti rok. Saya hanya bisa tersenyum *sambil bertanya-tanya dalam hati, apa yang di pikirkan ibu ini tentang mukena saya* dan hanya bisa berkata, "dank u wel :)" Terharu. Yang saya rasakan, ibu tersebut berusaha berkomunikasi dengan saya. Dan komunikasi itu dilakukan dengan perbuatan. Karena setelah itu ibu tersebut menggenggam tangan saya dan menarik saya ke saf di depan...

Tapi bagaimana pun, berbeda itu bukan hal yang mudah.
Hingga akhirnya saya bisa merasakan hangatnya perbedaan itu ketika sholat Ied kemarin. Dengan takbir yang menggema di Islamic center tersebut, saya melihat sekeliling saya. Penuh sekali. Sebagian besar telah duduk bersimpuh, mendengarkan takbir, dan memanjatkan doa. Di sisi lain, saya melihat seorang ibu Belanda berjilbab, sedang mengatur flow orang yang baru datang. Saya perhatikan sekeliling saya.. dan saat itu perasaan saya berbisik, "kita ada di dunia yang sama.." Subhanallah, indahnya. Ketika imam selesai membacakan khutbahnya *yang sayangnya dalam bahasa Arab :(* hampir semua orang yang melewati saya, memeluk saya dengan wajah suka cita. "Taqaballalahu minna wa minkum.." sapanya.

Alhamdulillah.
Di pagi yang dingin itu, ada hangat di dalam dada.
Saya tahu mereka adalah saudara.

teman-teman


Sudah 2 minggu tidak ada inspirasi untuk menulis. Atau sekalipun ada, semuanya itu terlalu banyak menumpuk di kepala :) Banyak hal-hal yang terjadi, dan sayangnya, akhir-akhir ini saya cukup sibuk dengan segala macam urusan sekolah, hingga hal-hal yang terjadi itu berlalu begitu saja.

Setiap hari selalu ada kejadian yang istimewa.. sebenarnya..
tapi lagi-lagi saya terlalu "sibuk" (alasan :p) untuk membuatnya teringat. Kalau begitu, saya akan mulai rajin menuliskan hal-hal istimewa yang terjadi setiap hari ...

----
Di blok kedua program master saya ini, saya mengambil 8 kelas blok ini (satu blok = 1,5 bulan). Dan konsekuensinya: tiap hari membaca, atau mengerjakan tugas. :) Pernah terpikir untuk men-drop salah satu mata kuliah, tapi saya tidak tahu mana yang harus saya tinggalkan :p Sampai beberapa waktu yang lalu, ketika profesor di kelas mengumumkan tugas besar yang harus dibuat perkelompok --2 orang, saya memutuskan: oke, kalau saya tidak punya teman kelompok.. kuliah ini yang akan saya drop. Di kelas itu, saya hanya mengenal baik beberapa orang saja: dua orang Belanda, dua orang Portugis, dan sisanya.. paling saya ajak tersenyum kalau kebetulan saling lihat. Dan teman-teman yang saya kenal itu, saya pikir mereka sudah pas dua-dua.

Jadi, hari itu saya hanya duduk saja di meja ketika orang lain sibuk membicarakan tugas tersebut. Ya sudahlah. :) Saya bisa saja mencari partner lain, tapi sudahlah... blok ini sudah sedemikian padat. Lagipula, saya ada kuliah intensif yang tidak bisa ditinggalkan di waktu yang bersamaan dengan jadwal ujian untuk kuliah ini. Tapi tak lama kemudian, salah satu teman Belanda saya itu datang.. dan dia bertanya, "Kita bisa mengerjakan tugas ini sama-sama ga, ya?" "Saya ingin mengerjakan topik tentang EEG untuk bayi prematur.." lanjutnya. Alhamdulillah :) Ternyata, saya memang tidak diizinkan untuk meninggalkan kuliah ini sepertinya. Karena saya dapat teman. Dan ternyata, kita punya ketertarikan yang sama.

Berarti masalah sekarang, adalah mengatur ujian yang bentrok tadi. Ternyata itupun berjalan mulus. Saya bicara dengan profesornya bahwa saya tidak bisa datang waktu ujian. Dan beliau hanya merespon, "Ga masalah. Kita bisa buat janji untuk oral exam saja...." Coba bayangkan, padahal itu bukan masalah beliau lho! Kalau saya tidak bisa ujian, apa hubungannya dengan beliau sehingga beliau harus menyediakan waktu untuk oral exam untuk saya. Ya, itu salah satu yang saya temui dari dosen-dosen di sini, mereka juga berusaha menghargai mahasiswanya.

Alhamdulillah. Semua berjalan baik di tengah-tengah "kepusingan" ini. Ternyata walaupun bukan hal yang mudah untuk membuat banyak sekali teman Belanda di kelas-kelas di sini... *atau saya yang asosial ya?* saya selalu mendapat kemudahan dalam hal-hal untuk mengerjakan tugas-tugas kelompok. Di kelas yang lain, ketika harus membuat kelompok dengan 4 orang.. dua orang teman Belanda yang lain lagi mendatangi kami berdua (=saya dan satu orang Yunani yang satu program dengan saya --di program saya hanya kami international master students, sekalipun ada beberapa exchange student dari Portugis, Italia, dan Perancis). Juga, di internship yang sedang saya lakukan semester ini *lihat kan, sudah 8 kuliah masih berani-berani ambil internship*, saya juga mempunyai partner yang menyenangkan.

Ah, selalu saja begitu banyak rahmat yang kurang kita syukuri karena sering kita anggap biasa...
Belum lagi kalau ingat, suami saya akan berkunjung awal Desember nanti. Sekalian conference di Perancis. Insya Allah.

Rahmat Allah itu memang tidak pernah putus-putusnya, ya..
*tapi masalahnya, kita tidak pernah puas :) Duh.*
Astaghfirullah.


Labels:

Sunday, October 08, 2006

man(sen?)diri


What do you think,
if you need someone but he/she (for any reasons) is not always there?

Berarti itu saatnya kita untuk belajar mandiri (dan tidak bergantung sama orang itu) ya :)
Dan juga mungkin, belajar untuk mengelola harapan.

-fuzzyD-
mengawali hari minggu sepi* yang (akan dibuat supaya) cerah

Note: * sepi, karena di Belanda ini hampir tidak ada denyut kehidupan di hari Minggu :p Toko-toko (kecuali beberapa saja di centrum) hampir semuanya tutup.

Saturday, October 07, 2006

Birthday



Kue ultah yang dibuat dengan penuh perjuangan, untuk ultah tanggal 1 kemarin *dan juga ultah Mbak Renni seminggu sebelumnya*

Penuh perjuangan karena:
1. Timbangan yang tidak menunjukkan perubahan jarum yang berarti, baik untuk 50 gram, 100 gram, atau 150 gram, sehingga timbang menimbang jadi sulit sekali
2. Bolak balik pergi ke centrum karena ada bahan yang salah beli
3. Loyang dengan ukuran yang diinginkan tidak ada di toko dekat rumah, jadi merepotkan orang lain untuk membelinya *thank to Mauritz*, dan loyangnya tidak langsung diantar oleh orang tersebut karena ketika akan berangkat ia tidak sengaja menutup pintu dengan kunci tertinggal di dalam :)
4. Bikin kue ini sampai dua kali: yang pertama terlalu lama dipanggangnya sampe-sampe jadi arang :p *tapi bagian bawah masih bisa diselamatkan, lho, rasanya jadi kayak kue kering*, yang kedua.. alhamdulillah jadi seperti tampak pada foto.

*Disclaimer: apa yang tampak tidak menunjukkan apa yang ada di dalamnya :)*

Makasih untuk Mbak Runi, Mbak Leila, dan Mbak Renni yang ikut berkarya sehingga kue ini jadi!! Senangnya... (baca: akhirnya... :))

Ga suka :-/


Ada kalanya kita harus mengendalikan rasa suka kita terhadap seseorang... *ehm, ehm, untuk masalah apa ya ;)* tapi ada kalanya juga kita harus mengendalikan rasa tidak suka kita terhadap seseorang.

Kenapa?
Karena kita tidak bisa menghindari untuk tidak bertemu dengan orang itu, karena kita juga membutuhkan dia, karena... kita nggak bisa memilih untuk hanya berhubungan dengan orang-orang yang menyenangkan.

That's life.

Saya sedang betul-betul merasa tidak suka terhadap guru bahasa inggris saya, karena satu dan lain hal *yang saya pikir alasan saya logis kok untuk merasa tidak suka*. Setiap minggu saya harus bertemu dengan beliau, menyerahkan essay, menerima koreksian essay, memperbaiki essay, dan menulis essay dengan topik baru. Tiap minggu seperti itu.. dan kalau saya tidak berusaha untuk menghilangkan perasaan tidak suka itu, wah dijamin, betapa menderitanya saya tiap minggu.

Terlepas dari rasa tidak suka tadi, kehidupan di sini selama 5 minggu ini menyenangkan. Saya suka dengan sekolahnya, pelajarannya, dan dosennya *ups ya kecuali satu tadi itu :)*. Saya juga sudah punya cukup banyak teman-teman, yang membuat saya tidak merasa sendirian. Saya juga sudah mulai terbiasa dengan ritme hidup di sini, kecuali dengan ritme cuaca yang kadang-kadang mengejutkan! Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba udara menjadi dingin sekali dan saya kedinginan, sakit perut, dan terpaksa harus pulang dari kampus.

Ramadan di sini hampir tidak ada nuansanya. Tidak ada suasana yang berubah. Tidak ada gema-gema Ramadan di luar sana... Memang, nuansa Ramadan itu seharusnya dimunculkan di hati ya, oleh diri sendiri. Dan itu bukan hal yang mudah :( Duuh, semoga saya bukan termasuk orang yang merugi...

Salah satu harapan lainnya, saya ingin lebih bisa menata hati, dalam salah satunya ya itu tadi...ga perlu merasa ga suka-ga suka. *Sudah, sudah. Sekarang kembali berusaha menulis essay itu lagi, tanpa harus ga suka-ga suka :)*