Saturday, June 10, 2006

hari yang cerah!


Akhirnya di minggu terakhir saya di Belanda, matahari bersinar setiap hari. Cerah, tidak berawan, dan panas. Mungkin memang benar, di negara-negara yang tidak mendapat matahari setiap harinya, matahari menjadi salah satu hal yang mempengaruhi mood. Orang-orang terlihat lebih bahagia -setidaknya itu pengamatan saya, pada hari yang cerah.

Berikut ini beberapa keceriaan dan keramaian (ramai karena banyak orang dan suara organ putar) di centrum kota yang saya nikmati hari ini.


stadhuis.
orang-orang lalu lalang, dan sebagian di antaranya menikmati makan siang di udara terbuka (ini cukup tipikal di negara-negara Eropa -ntah di negara 4 musim lainnya, bahwa pada musim panas kursi-kursi restoran menyapu bagian pinggir jalan)


seorang pemilik toko mainan mengajak orang-orang bermain puzzle bersama di depan tokonya


bisnis pertunjukan. entah ada pertunjukkan apa di dalam perut babi tersebut :) anak-anak menontonnya dengan berpura-pura menjadi anak babi (lihat ekor-ekor babi palsu di belakang mereka) seperti anak babi menyusu pada ibunya.


dan pada hari yang sangat cerah ini, pasangan pengantin dijemput oleh kereta kudanya. --aaa, seperti dongeng :) *kalau di Indonesia, mungkin dijemput delman ya :p*

Thursday, June 08, 2006

distorsi rasa


Saya ingat guru Bahasa Indonesia saya ketika SMA pernah berkata, "Bahasa adalah rasa."
Saya setuju. Bahasa, sebagai salah satu alat seseorang untuk bertutur kata secara lisan maupun tulisan, tidak saja mentransfer maksud penuturnya, namun juga membagi rasa yang dimiliki penutur tersebut. Dengan bahasa kita bisa membahagiakan orang lain, namun dengan bahasa pulalah kita bisa menyakiti orang lain. Sungguh, bertutur kata yang baik itu tidaklah mudah.

Bahasa tulis memiliki rasa dari cara penulisnya bercerita. Komunikasi dua arah, yang lebih lazim dilakukan dengan bertatap muka, memberikan rasa yang lebih banyak lagi. Kedua pembicara bisa saling menularkan maksud dan rasa tidak hanya dengan kata-kata, tapi juga melalui mimik muka, gerak tubuh, dan intonasi kalimat. Namun, sekarang bagaimana jadinya dengan adanya media chatting, seperti instant messenger?

Kemajuan teknologi komunikasi ini telah memungkinkan kita untuk berkomunikasi dua arah, langsung, namun kedua pembicara tidak perlu berada pada tempat yang sama. Hal ini pada satu sisi sangat menguntungkan karena komunikasi semakin praktis, namun di sisi lain hal ini membuat "rasa" tersebut sulit ditransfer dan ditangkap lawan bicara. Intonasi kalimat yang paling banyak mentransfer rasa, tidak bisa lagi ditangkap dengan mudah, karena interpretasinya begitu bebas -tergantung dari penerimanya. Percakapan terkadang menjadi tidak efektif, karena kedua pembicara salah paham dalam menangkap maksud. Terlebih dari salah menangkap maksud, mereka salah menangkap rasa, dan berakhir pada komunikasi yang malah tidak berakhir baik.

Kesalahpahaman pada komunikasi melalui messenger seperti ini sulit diantisipasi dengan cepat karena masing-masing pembicara tidak dapat menangkap reaksi lawan bicara dengan mudah. Silakan anda tertawa, atau bahkan menangis ketika menuliskan pesan-pesan pada messenger anda, pesan-pesan itu --kecuali anda menambahkan icon-icon yang tepat dan juga jujur :), tetaplah pesan yang akan terbaca "hanya" sebagai sebuah kalimat. Kalimat yang tidak terlalu cerdas untuk menyatakan perasaan anda terhadap lawan bicara.

Distorsi maksud, dan kemudian distorsi rasa.
Teknologi, secanggih apapun, tidak akan pernah bisa secara sempurna mentransfer rasa yang dimiliki manusia. --dan saya, sebagai orang yang telah menjadi budak teknologi (salah satunya adalah ketergantungan terhadap messenger, harus belajar untuk mengerti hal ini. Untuk berhati-hati dalam menginterpretasi maksud lawan bicara, dan untuk belajar menyampaikan maksud secara tertulis dengan lebih baik.

-desiree-
ditulis tanpa harapan tinggi-tinggi bahwa distorsi maksud dan rasa tidak akan terjadi

Wednesday, June 07, 2006

5-day-trip


Baru pulang dari liburan panjang.
*Horee :), sebelum pada akhirnya harus diem di lab lagi sebelum pulang ke Indonesia minggu depan*

5 hari jalan-jalan (dan itu literally jalan-jalan, karena efeknya adalah kaki bengkak :p) sama teman-teman kuliah dulu yang sekarang sedang master di Denmark. Mereka turun dari kutub sana untuk mencari kehangatan di bawah sini (tapi tetep aja, ternyata disambut oleh cuaca yang kadang-kadang masih dingiiin sekali).

Hari pertama, kami pergi ke Kinderdijk, sebuah desa 1,5 jam dengan bis ke timur laut Rotterdam. Perjalanan yang cukup jauh (untuk ukuran Belanda; karena dari ujung ke ujung saja dengan kereta bisa hanya 3 jam-an), ditambah dengan hujan dan angin, akhirnya terbayar ketika kita sampai dan melihat kincir angin-kincir angin tua berjejer di pinggir kanal. Indaaah sekali.


Kinderdijk

Hari kedua kami meluncur ke Brussels, Belgia. Brussels memiliki gaya bangunan yang berbeda dengan Belanda, dan kami juga melihat Manneken Pis -patung anak laki-laki yang sedang p*p*s, simbol dari kota Brussels. Akhirnya di Brussels ini saya bisa bertemu dengan tante saya yang terakhir kali kami bertemu ketika saya kelas 5 SD :). Di Brussels juga kami mengunjungi atomium, bangunan besar berbentuk struktur atom besi yang dibangun untuk ekshibisi tahun 1958. Bangunan ini dibangun tanpa pengaman sama sekali bagi para pekerja pada masa itu, dan seorang pekerja terbunuh karenanya.


Manneken Pis


Atomium

Hari ketiga, berkeliling-keliling di sekitar kastil di Gent, sebuah kota kecil di barat laut Brussel. Kastil yang identik dengan tempat orang-orang pada masa lalu bertahan ketika perang, ternyata juga adalah tempat penyiksaan untuk para tawanan perang :-s *kejam sekali!* Setelah itu kami kembali ke Belanda, mengunjungi Volendam dan Amsterdam.


Volendam


Magna Plaza, Amsterdam

Perjalanan masih diteruskan di hari keempat ke Maastricht. Maastricht adalah kota paling selatan di Belanda, dan perjalanan dari Delft ke Maastricht hari itu harus ditempuh dengan memutar ke Utrecht dulu karena perbaikan rel *:(* Hari ini rasanya lebih lama di jalannya :p Maastricht memiliki banyak peninggalan Romawi, dan kami mengunjungi sebuah gua besar peninggalan Romawi. Sayang waktu kami tidak banyak, 3 jam di sana kemudian kami harus berangkat lagi ke Harderwijk, bagian utara Belanda.

Hari terakhir! Kami melanjutkan perjalanan ke bagian paling utara Belanda: Delfzijl. Belanda adalah negara yang terletak di bawah permukaan laut, dan di Delfzijl inilah kami melihat dyke yang dibangun untuk membendung laut. Karena itu, untuk menuju pantai, dari darat kami harus melewati bukit kecil (dyke tersebut) sebelum akhirnya bisa menuju pantai.

Liburan selesai.
Thanks Puri, Ardhy, Bayu, atas liburan yang menyenangkan.
Lelah, tapi selalu banyak pelajaran yang bisa didapatkan.

Labels: ,