Thursday, June 28, 2007

Leganya...

Alhamdulillah, legaa... Selesai (juga) internship di rumah sakit ini.

Apa ya yang udah didapat? Banyak.

Dari sisi teknis, belajar tentang format standar untuk menyimpan data berupa sinyal fisiologis, belajar tentang CFM (cerebral function monitoring) untuk bayi-bayi yang baru lahir, ngotak-ngatik filter di Matlab lagi, belajar melihat sinyal-sinyal dan mengenali maksudnya, melihat pengukuran sinyal fisiologis pada pasien (EOG, EEG, EMG), ...

Dari sisi lain, belajar "fit in" di lingkungan yang beda (contohnya: duduk satu meja setiap makan siang, semua orang bicara dengan bahasanya, saya ya.. ya.. pusing mendengarkan :D), belajar sabar, belajar mengenali keinginan sendiri (sulit ternyata ya), belajar bertanggung jawab pada pilihan, belajar bersyukur, dan... apalagi ya? Oh ya, tentu saja: belajar mengenai ritme hidup rumah sakit dan bertambahnya list orang-orang yang perlu dikontak di masa yang akan datang! Insya Allah.

Lebih banyak seharusnya yang bisa didapat.. andaikan saya yang mengejarnya, dan tidak menunggu mereka datang. Dan.. ups, andaikan saya lebih mau mensyukuri dan menikmati apa yang dimiliki.

Tapi, ga ada penyesalan sama sekali. Semuanya adalah proses. Dan saya bersyukur salah satunya telah dilalui. Dan mudah-mudahan banyak manfaatnya.

Dan hari ini, setelah menyerahkan semua laporan, ditutup dengan satu box strawberry pie ... (dan kali ini perbincangan di meja makan berbahasa Inggris, hihi :P) hari-hari (panjang) ini selesai. Alhamdulillah...

MMC Veldhoven, 28 Juni 2007

Labels: ,

Wednesday, June 27, 2007

Waktu: berlari sekaligus merangkak

Baru aja pulang dari kampus. Malam-malam buta.

Iya ya, waktu itu memang cepaaaaat sekali berlalu. Sambil bersepeda pulang saya berpikir, kapan ya terakhir kali pulang dari kampus malam-malam begini, karena panik mau ujian dan belajar sama teman-teman sampai malam. Terakhir kali rasanya sudah beberapa bulan yang lalu. Setelah itu, sibuk dengan ritme hidup yang lain untuk beberapa bulan.. sampai akhirnya malam ini, kembali lagi ke kampus.


Hmmm,... mungkin ini terakhir kalinya seperti ini ya...
Ujian lusa adalah ujian terakhir tahun ini. Yang juga formalnya adalah ujian terakhir masa-masa harus mengambil matakuliah. Karena tahun berikutnya akan diisi oleh tesis. Dan sekalipun ada kuliah yang diambil, mungkin suasananya nggak akan sama seperti saat ini. Hmm.. hontouni saigo kana... :)

Waktu terus berjalan, hidup juga harus terus maju,... dan artinya peran dalam hidup ini juga akan bergilir dan berganti.

Sekarang mahasiswa, besok bekerja. Sekarang jadi istri, besok jadi ibu (dan insya Allah masih jadi istri juga :). Sekarang hidup, besok mati. Duh, semoga hidup ini penuh manfaat dan hanya untuk mencapai ridho-Nya saja

***


Ironis ya, di saat tiba-tiba tersadarkan bahwa waktu itu berjalan cepat sekali...
di sisi lain saya malah sedang merasakan detik-detik yang rasanya lambat sekali berganti.
Menanti hari.


Hmph, mohon doanya Jumat ini suami saya sampai di sini dengan selamat ya.
Amin.

Labels: ,

Tuesday, June 26, 2007

Student house

Hampir setahun ini saya tinggal di sebuah student house, bersama-sama dengan dua orang mahasiswa asing lainnya. Satu mahasiswa master yang satu angkatan dengan saya dari Cina, dan satu lagi mahasiswa Erasmus exchange* dari Spanyol. Tahun yang lalu ketika saya melamar akomodasi di sini, saya meminta pihak universitas untuk mencarikan saya tempat di space box. (Sesuai namanya, memang ini adalah box besar, satu ruangan berisi segala macam: tempat tidur, dapur kecil, dan shower room kecil). Saya ingin tinggal di space box, karena selain letaknya di dalam kampus, juga karena sepertinya saya akan lebih punya privacy.

Apa boleh buat, ternyata saya mendapatkan sebuah student house, bukan space box seperti impian saya. Di student house ini saya berbagi living room, dapur, dan kamar mandi. Namun demikian, berbeda dengan pengalaman saya tinggal di ryuugakukan (dormitory) di Jepang dulu. Di sini saya punya kamar (dan benar-benar kamar dalam arti bisa dikunci, cukup besar, dan cukup leluasa untuk menyimpan segala macam barang) sehingga saya tetap punya privacy. Selain itu, ternyata tinggal bersama-sama teman asing lain membuat saya menjadi lebih nyaman dan tidak kesepian. Dan alhamdulillah, housemate saya tersebut perempuan semuanya**.

Teman Spanyol saya hampir setiap weekend ada di rumah. Menemani weekend saya yang lebih banyak di rumah juga. Kadang-kadang kami bertukar resep juga (masakan-masakan ala mediteraniannya wangiii :). Sedangkan dengan teman Cina, kami sering mengobrol hal macam-macam, dari yang kecil sampai penting (seperti masalah perjodohan :D hehe, itu penting ya).

Sudah seminggu ini, ibu teman Cina saya datang dan tinggal di rumah kami. Dengan datangnya sang ibu, rumah kami jadi tambah ramai. Setiap malam selalu saja banyak teman Cina yang datang untuk makan malam bersama sang ibu (saya juga kadang-kadang kebagian :D). Ibu tersebut terlihat menikmati hari-harinya di sini. Saya sering berkomunikasi dengan sang ibu dengan bantuan terjemahan teman Cina saya. Dan ternyata, berkomunikasi itu tidak selalu harus mengerti bahasa mereka ya, dengan keinginan untuk mengerti (dan tahu konteksnya) ternyata bisa juga mengerti. Kemarin saya ikut di dapur ketika sang ibu membuat pancake (bahasa aslinya: Jian bing 煎饼 ) , ibu tersebut memberikan mangkok kepada saya dan mengatakan sesuatu. Entah kenapa, saya mengambilnya dan menuangkan air ke dalamnya. Ketika ibu itu bilang sesuatu, saya berhenti. Sang ibu lalu tertawa. Katanya, saya seperti betul-betul mengerti apa yang beliau katakan. :D

Ah, tak terasa sebentar lagi saya akan meninggalkan student house ini, sepertinya saya akan merindukan suasananya...

****

Catatan:

*) Mahasiswa-mahasiswa di Eropa seringkali melakukan exchange pada satu waktu di dalam masa studinya. Hal ini memungkinkan karena adanya Erasmus program, pertukaran antarmahasiswa di negara Eropa selama 6-12 bulan

**) di Belanda adalah hal yang biasa jika di dalam student house laki-laki dan perempuan tinggal bersama-sama, dan untuk saya yang baru saja datang, memilih rumah tidak bisa dilakukan tawar-menawar. Ditawari, kalau suka silakan ambil, kalau tidak silakan cari sendiri --wah, repot kalau ini urusannya.

Gambar: Apartemen yang menjadi student house saya. Saya tinggal di lantai 3.

Labels: , ,

Friday, June 22, 2007

Counting days

Counting days down.

To go through a seemingly impossible week with an increased work load for both the university and the hospital.
Yet, a week full of excitement.
With a promise for two hearts to meet.
Insya Allah.

Miss you. So much.

Labels:

Wednesday, June 20, 2007

People Our Business

Alhamdulillah, I was sooooo much relieved when I opened my e-mailbox today, reading an email for an officer from the Australian embassy that my Australian visa has been granted today. He will be sending my passport back tomorrow from Berlin*.

I am so much impressed with the service of the Australian embassy in Berlin.

Few weeks ago when I was going to apply for the visa, I had several issues that I was so confused and I needed some advices from the embassy. I hesitantly called them, but the officer whom I talked to was so empathetic. I was then feeling so comfortable.

These few days, I have been communicating by email with another officer who took care of special cases. Because there was a delay in the post service when I sent my application to Berlin, I missed my time estimation for the visa to be granted in time before I leave the Netherlands. As advised by a lady in the embassy phone line, I sent a fax requesting an assistance in early visa issuance. Within a few hour, I had a reply to my email from another officer telling me that he had received my fax and all efforts would be done to make my visa in time.

That email was so relieving; I didn't expect to hear anything so soon from the embassy about my fax. Moreover, I didn't expect to hear anything about my visa after that email so fast; at least not within this week. I thought it would take at least a little while to have it processed. Today I sent my newly extended residence permit (yes, I have it already!! :) by email, considering that it is required to process my visa application; but you know what reply I got? He said that my visa has been granted! And it was just two days after I sent my fax!!!

The fast response was not the only thing that amazed me; but the way how he --as someone who works in the embassy, especially in the consular service, communicated with me really made me at ease. I felt like he understood my problems and was willing to help.

***

If only I had this secure feeling from the beginning, I wouldn't have been as panic as I have been. The image in my mind about "consular service" was so frightening, and the experience that I just had was just too good to be true!

I noticed from the visa application form and also from the signature part of his email, there was an eye-catching, as it was written nicely, slogan:


is this the reason why all services I experienced was so friendly, and also, making me feel respected as a customer --not as someone who was begging for a permission to enter a country?

Australia, I am coming, insya Allah... :)
And now I have a hope to meet people with "people our business" in their mind there...

***

*) Note: for 22 countries in Europe, the Australian embassy that has consular service is only the embassy in Berlin. This means that every application should be sent to Berlin.

Labels: ,

Saturday, June 16, 2007

broodje kaas

Next Tuesday I will have an oral exam for my Dutch course. I am supposed to prepare two topics: one is chosen from a text in the course book, and another one can be any that I would like to talk about.



For the first part, I chose a text about Dutch culture. The title of the text is "De broodlunch als struikelblok", or translated as "The bread lunch as an obstacle". Why does the bread lunch give the obstacle, anyway? Well, I think the title was inspired from the fact that foreigners cannot get used to (or even cannot stand) having bread for lunch. Very typical Dutch lunch: broodjekaas (cheese sandwich) and milk. No warm meal for lunch.

The Netherlands is very multicultural. Almost 3 millions foreigners live there (and if you are wondering, the total population is about 16 millions; so, 3 millions is significant). For a foreigner who has just come, it is not only the original Dutch culture itself he has to deal with, but also with the multi-culture. So, it is often the case that the company where these expatriates work offer a culture-shock training. The cost for expatriate is high (both from financial and time point of view), and thus losing an expatriate due to cultural problem is certainly something they want to avoid. Anyway, recent statistics have shown that about 10% from the expatriates (from 159 countries!) was unsuccessful to cope with this cultural problem.
*Uh, I do hope you (or we?) will do fine, honey!*

So, what are the main obstacles for foreigners living in the Netherlands?

1) Nederlandse overleggen
Um, I don't know what is the correct translation for this. But it's mainly about the "discussion" culture. The endless meeting, the other discussion at the end of the meeting (eventhough the decision has been made), everyone-should-speak rule. In short, they do decide everything together!

2) Directheid
The people are direct in speaking out their mind. So, often foreigners need to aware of this for not to regard it offensive. The flat hierarchy in the society gives freedom for people to address their opinion to just anyone. For example, in professors - students relationship, there is almost no barrier and informal.

3) Gereserveerheid
Keeping the distance. There is a border between work and private life. Your colleagues at work are not your friends outside work. They don't hang out together after work, for example. *Hmm, this reminds me of Japanese culture which is completely opposite :D* Activities out of work are never spontaneous, and appointment is always needed. *Well, in Holland, even when you want to get your hair cut (!), you should make an appointment. It's just the way how they manage time*

Interestingly, Meg Lota Brown, an American from the Holland Relocation, explained the reasons behind these consensus. She looked at the geography of the Netherlands: no mountains, densely populated, and surrounded by sea. No mountains, no place to hide. Therefore, people are direct. Densely populated: the physical space to live in is limited. Therefore, psychological space needs to balance. Privacy is highly valued. Surrounded by sea (and with the northwestern part is under the sea level), flood threat! They cannot work against it unless they cooperate, so, here it comes the endless discussion culture.

===

As for me, the culture shock surely came (or keep coming) to my way, ... but I don't take it too hard. Living (or at least spending time) together with other foreign students share the feeling and make me at ease.

I do hate the bureaucracy (everything takes too much time), and keep me hoping "I wish I were in Japan" (everything so fast there!); but I love the coffee time here where everyone at work can get together (regardless how much time you spend on talking something unimportant, or as for me, only sitting around listening to no words :D) . The people are indeed direct and sometimes what they say can hurt, but forget it, they are nice on the other way.

Oh yes, and I love bread + cheese (including for my lunch). It's easy and fast.
So, life here is not bad at all. I enjoy every single time I have here, and I hope when my beloved comes it will be more enjoyable.

excerpt from Berna de Boer, Birgit Lijmbach. Nederlands in actie. Uitgeverij Coutinho.

Labels:

Thursday, June 14, 2007

Vertel me...

While I was taking a little bit rest for my eyes, which are suffering from looking at the signal for hours, I caught a disturbing --and yet interesting-- sentence on a board in my room:
"Vertel me nog eens wat een geluk ik heb om hier te mogen werken..."
"Ik vergeet het steeds"
Hehe, I think that suits me a lot (very often and) at the very moment. :D

Labels: ,

hangat

Ketika lagi cape sekali begini, banyak pikiran, yaru-ki-nai, dan harus menguatkan hati untuk terus menjalankan rutinitas seperti biasanya,...
keberadaan orang-orang yang ramah di sekeliling kita membuat hati ini rasanya hangat.

Seseorang yang menyapa saya di bus, seorang teman lama --yang kebetulan hari ini bekerja di rumah sakit juga-- yang menanyakan kabar saya ketika bertemu, seorang ibu schoonmaker di NICU --yang tampaknya mulai terbiasa dengan kehadiran saya di sana-- yang tergopoh-gopoh mengambilkan kunci ruangan melihat saya datang dengan banyak bawaan.

Ah, dari mereka aku belajar, kita bisa menjadi "seseorang" bagi orang yang tidak kita kenal sekalipun.


Setidaknya belajarlah untuk memberikan senyuman, teman, jika hal lain tampak terlalu mewah untuk kita berikan.
Karena siapa tahu, itu bisa menghangatkan hidup seseorang, dan membuatnya bertahan.

===

PS. ga sabar menunggu pelukan yang menghangatkan hati 2,5 minggu lagi.

Labels:

Wednesday, June 13, 2007

Run (not) away!

Everyday I need much more energy than I have.

It is just two and a half weeks until the semester ends. The load of work in the hospital is increasing. More deadlines are approaching! I have Dutch exam tomorrow, in which I dedicated too little time for it. I hope being exposed to the Dutch speaking environment --at least every lunch time, will help me to survive in the exam. Deadline for image analysis project. There are still SO MUCH to do, the program just doesn't run in the way that we expected. The exam that is also scheduled in the same day of the project deadline just makes it worse. Piles of papers to read just make us anxious before we can even try to turn the first page.

Really hope two and a half weeks will pass so fast. I am just very exhausted at the moment. Need to run (not away :P), just to be sure that I won't miss the next stop.

Goodluck for all of you, too.

===

PS.
more energy is needed since I have started enjoying biking 1,5 hours a day to (and from) my workplace. ;).

Labels:

Friday, June 01, 2007

Visa, oh, visa

Sampai kapan ya fleksibilitas kita (baca: WNI) buat "terbang" lintas negara nggak dikekang dengan yang namanya "visa". Buat warganegara tertentu (dan tentu saja Indonesia :-S), pergi ke luar negeri nggak bisa dilakukan semudah itu. Terlepas dari kondisi finansial, dan lain sebagainya, urusan birokrasi satu ini memang seringkali mengesalkan dan membuat hati harap-harap cemas. Sahabat saya di sini, seorang Yunani, ternyata juga mengalami hal yang sama, ... dan kami sama-sama "iri" terhadap pacarnya, yang kebetulan warganegara Amerika, yang mudah sekali melakukan perjalanan lintas benua.

***

Urusan visa = sediakan waktu Empat tahun berturut-turut saya selalu olahraga jantung di saat masa-masa musim panas-nya orang-orang Northern Hemisphere. 4 tahun yang lalu, aplikasi visa UK saya dari kedutaan Inggris di Jakarta tidak bisa keluar di saat yang diperkirakan. Untuk mendapatkannya, saya harus menghadiri wawancara yang dijadwalkan 3 minggu setelah jadwal keberangkatan. Perjalanan ke UK yang sebelumnya direncanakan bersamaan dengan diundangnya saya oleh tante di Belgia terpaksa dibatalkan karena saya tidak bisa mundur hanya untuk satu visa UK tersebut.

Satu tahun setelahnya, ketika saya bersama-sama grup muhibah kesenian akan berangkat ke Eropa, urusan visa ini lagi-lagi membuat hati berdebar-debar. Keharusan membuat 4 visa (karena negara yang dikunjungi tidak semuanya dalam kawasan Schengen), membuat visa kami baru selesai di saat-saat terakhir. Belum lagi setelahnya pulang dari Eropa, saya hanya punya waktu satu minggu untuk membuat visa Jepang, padahal tiket keberangkatan ke Jepang sudah ada di tangan. Untungnya, tidak seperti lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengurus visa ke negara-negara Eropa, mengurus visa Jepang di Indonesia hanya membutuhkan waktu tiga hari jika semua dokumen sudah siap.

Tahun lalu, saat-saat yang mendebarkan ketika saya harus menunggu visa student dari Belanda (dan ini memakan waktu 5 minggu!) dikombinasikan dengan keberangkatan ke Jepang. Terlambatnya satu visa akan membuat semua rencana perjalanan harus diatur ulang.

Syukurnya, pengalaman 3 tahun berturut-turut tersebut adalah pengalaman di Indonesia, di mana travel agent lebih ramah dan lebih fleksible dalam masalah mengatur tanggal keberangkatan. Tahun ini, saya harus mengatur keberangkatan lagi dengan kombinasi yang lebih banyak: pembuatan paspor baru (paspor saya hampir habis), perpanjangan residence permit di Belanda, visa Jepang, visa trainee Australia, dan tiket pesawat yang harus dibayar dan setelah itu tidak bisa diubah tanggal (bisa diubah, tapi harus bayar 100 euro + perbedaan harga saat itu). Visa Jepang, seperti biasa tidak ada masalah. Di kedutaan Jepang di Denhaag, visa Jepang bisa selesai dalam satu hari. Tapi yang lain, cukup rumit dan tunggu menunggu. Sebelum aplikasi visa Australia bisa dikirimkan, saya harus menunggu approval nominasi dari pemerintah Australia di Australia. Setelah itu, proses pembuatan visa trainee Australia akan memakan waktu 4 minggu. Proses perpanjangan residence permit sudah memakan waktu 2 bulan (well, IND -pihak yang mengurus ini, bilang minimal 3 bulan baru akan selesai). Kedutaan Australia meminta perpanjangan residence permit saya harus sudah ada sebelum mereka bisa mengeluarkan visa. Hari ini saya telpon IND, alhamdulillah, mereka bilang dalam 2 minggu kartu residence permit saya harusnya sudah siap.

Keberangkatan tinggal 5 minggu lagi. Paling lambat minggu depan saya harus memasukkan aplikasi visa Australia. Artinya, paling lambat saya harus menerima approval dari pemerintah Australia minggu depan. Minggu depan, saya juga harus membayar tiket. Semoga penantian yang mendebarkan ini berakhir dengan baik.

Dari pengalaman-pengalaman ini, saya rasanya ingat saya pernah berkata pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak mau terlibat lagi dalam debar-debar jenis ini. Tahun ini saya sudah mulai urus segala rupanya sejak 4 bulan sebelum keberangkatan. Ternyata, butuh 4 tahun untuk benar-benar sadar bahwa : visa = birokrasi. Birokrasi = makan waktu!! :((

***

Urusan visa = (tidak selalu berhadapan dengan) orang-orang yang "sulit"

Pengalaman-pengalaman per-visa-an, selain masalah waktu yang mendebarkan, adalah petugas yang dalam bayangan saya: tidak helpful, galak, dan tidak menyenangkan. Kenapa bisa begini? Mungkin ini adalah trauma saya ketika bertemu petugas kedutaan UK di Jakarta 4 tahun yang lalu, petugas galak yang membuat saya bergeming di depan loketnya kehilangan kata-kata. Itu pengalaman pertama saya ke kedutaan! Kalimat ini yang saya ingat yang diucapkan dengan tidak menyenangkan, "Ya, itu urusan Anda kalau Anda tidak bisa berangkat sesuai jadwal!" Petugas lain di konsuler Belanda di Bandung yang menempatkan saya di posisi seakan-akan "pemohon visa adalah bersalah". Saya waktu itu mengisi form di depan petugas tersebut. Saya bilang, "Saya ke Belanda diundang ke universitas bla-bla-bla... sebaiknya saya isi apa bagian purpose ini?" Saya bertanya karena kondisi saya memang sedikit "spesial" waktu itu. Dan jawaban yang saya terima, "Anda yang akan berangkat, Anda yang tahu tujuan Anda, jangan tanya saya!" Ups!

Pengalaman-pengalaman ini membuat saya selalu berpikir bahwa petugas-petugas di konsuler memang diharuskan seperti itu. Ternyata saya salah (ga tau ya kalau kedutaan Amerika :D) Petugas konsuler di kedutaan Jepang yang saya datangi di DenHaag, petugas konsuler di kedutaan Australia di Berlin (iya, dari Belanda apply visa Australia harus ke Berlin), petugas di IND tadi pagi ternyata sangat helpful.

Tapi, kesimpulan saya saat ini menjadi lebih tidak menyenangkan:
1. Petugas-petugas konsuler "galak" hanya saya temui di Indonesia
2. Petugas-petugas di Indonesia tersebut adalah orang Indonesia
3. Petugas-petugas di Indonesia kurang helpful
Jadi... petugas konsuler di Indonesia, yang notabene adalah orang Indonesia, tidak helpful terhadap warganegaranya sendiri. Oh negeriku :(.

Anyway semoga ini salah.

Oh iya, satu hal yang semoga bisa memperbaiki image kedutaan Indonesia di luar negeri: beberapa saat yang lalu saya pergi ke KBRI di Denhaag, dan petugas yang saya temui di bagian paspor adalah orang-orang yang baik dan sangat membantu kok. Ini berkebalikan dengan cerita-cerita tentang KBRI yang sering saya dengar dari khalayak ramai, yang membuat saya deg-deg-an sejak sehari sebelum ke KBRI. :).

Beberapa pengalaman baik ketika di Belanda ini membuat saya lebih mempunyai kepercayaan diri dalam berbicara dengan para birokrat pervisaan. Beberapa bulan yang lalu saya deg-deg-an sebelum ke KBRI dan ke kedutaan Jepang.. beberapa hari yang lalu saya perlu menulis "konsep" dulu apa yang akan saya tanyakan ke kedutaan Berlin (termasuk mereka-reka mereka akan menjawab apa!) dan ke IND. Ternyata, saya memang harus lebih tenang dan lebih berprasangka baik. Seberapapun "ribet"-nya urusan permohonan visa... orang-orang yang ada di sana ternyata tidak selamanya orang yang menempatkan pemohon dalam posisi "itu urusan Anda, saya tidak peduli".

***

Hmph, mohon maaf dengan mumbling yang tentu saja tidak jelas ini. Dan terimakasih banyak kalau sampai ada yang membaca sampai ke bagian ini (ini curhatan yang panjang banget). Mohon maaf dengan nada negatif yang terdengar di sini. Saya lelah selama 4 bulan ini kepala saya dipenuhi urusan ini. Saya cuma perlu memiliki lebih rasa optimis menghadapi birokrasi.

Oh ya, tolong doakan minggu depan approval nominasi dari Australia sudah bisa saya terima, ya. Saya sudah tidak sabar membayangkan pertemuan dengan sang kekasih, ...
dan juga orang tua dan adik tercinta.

image dari: http://members.shaw.ca/

Labels: ,