Hampir setahun ini saya tinggal di sebuah student house, bersama-sama dengan dua orang mahasiswa asing lainnya. Satu mahasiswa master yang satu angkatan dengan saya dari Cina, dan satu lagi mahasiswa Erasmus exchange* dari Spanyol. Tahun yang lalu ketika saya melamar akomodasi di sini, saya meminta pihak universitas untuk mencarikan saya tempat di space box. (Sesuai namanya, memang ini adalah box besar, satu ruangan berisi segala macam: tempat tidur, dapur kecil, dan shower room kecil). Saya ingin tinggal di
space box, karena selain letaknya di dalam kampus, juga karena sepertinya saya akan lebih punya privacy. Apa boleh buat, ternyata saya mendapatkan sebuah student house, bukan space box seperti impian saya. Di student house ini saya berbagi living room, dapur, dan kamar mandi. Namun demikian, berbeda dengan pengalaman saya tinggal di ryuugakukan (dormitory) di Jepang dulu. Di sini saya punya kamar (dan benar-benar kamar dalam arti bisa dikunci, cukup besar, dan cukup leluasa untuk menyimpan segala macam barang) sehingga saya tetap punya privacy. Selain itu, ternyata tinggal bersama-sama teman asing lain membuat saya menjadi lebih nyaman dan tidak kesepian. Dan alhamdulillah, housemate saya tersebut perempuan semuanya**.
Teman Spanyol saya hampir setiap weekend ada di rumah. Menemani weekend saya yang lebih banyak di rumah juga. Kadang-kadang kami bertukar resep juga (masakan-masakan ala mediteraniannya wangiii :). Sedangkan dengan teman Cina, kami sering mengobrol hal macam-macam, dari yang kecil sampai penting (seperti masalah perjodohan :D hehe, itu penting ya).
Sudah seminggu ini, ibu teman Cina saya datang dan tinggal di rumah kami. Dengan datangnya sang ibu, rumah kami jadi tambah ramai. Setiap malam selalu saja banyak teman Cina yang datang untuk makan malam bersama sang ibu (saya juga kadang-kadang kebagian :D). Ibu tersebut terlihat menikmati hari-harinya di sini. Saya sering berkomunikasi dengan sang ibu dengan bantuan terjemahan teman Cina saya. Dan ternyata, berkomunikasi itu tidak selalu harus mengerti bahasa mereka ya, dengan keinginan untuk mengerti (dan tahu konteksnya) ternyata bisa juga mengerti. Kemarin saya ikut di dapur ketika sang ibu membuat pancake (bahasa aslinya: Jian bing 煎饼 ) , ibu tersebut memberikan mangkok kepada saya dan mengatakan sesuatu. Entah kenapa, saya mengambilnya dan menuangkan air ke dalamnya. Ketika ibu itu bilang sesuatu, saya berhenti. Sang ibu lalu tertawa. Katanya, saya seperti betul-betul mengerti apa yang beliau katakan. :D
Ah, tak terasa sebentar lagi saya akan meninggalkan student house ini, sepertinya saya akan merindukan suasananya...
****
Catatan:
*) Mahasiswa-mahasiswa di Eropa seringkali melakukan exchange pada satu waktu di dalam masa studinya. Hal ini memungkinkan karena adanya Erasmus program, pertukaran antarmahasiswa di negara Eropa selama 6-12 bulan
**) di Belanda adalah hal yang biasa jika di dalam student house laki-laki dan perempuan tinggal bersama-sama, dan untuk saya yang baru saja datang, memilih rumah tidak bisa dilakukan tawar-menawar. Ditawari, kalau suka silakan ambil, kalau tidak silakan cari sendiri --wah, repot kalau ini urusannya.
Gambar: Apartemen yang menjadi student house saya. Saya tinggal di lantai 3.Labels: daily, master journey, netherlands