master intro (2) - dimensi budaya
Menyadari betapa pentingnya perbedaan budaya dalam menciptakan sinergi, seorang profesor di Belanda, bernama Geert Hofstede, mengadakan penelitian tentang hal ini. Ini yang beliau katakan: "Culture is more often a source of conflict than of synergy. Cultural differences are a nuisance at best and often a disaster." [Prof. Geert Hofstede, Emeritus Professor, Maastricht University]
Di dalam penelitiannya, beliau mengkarakteristikan sebuah budaya di suatu negara dengan 5 dimensi yang berbeda:
- power distance index (PDI), contoh: seberapa berbeda atasan dengan bawahan, bagaimana hierarki bekerja, dll. Indonesia memiliki PDI yang tinggi. Title talks. Orang seringkali dihargai karena titel dan jabatannya :)
- individualism (IDV), yaitu apakah orang lebih self centered, atau lebih community-centered.
- masculinity (MAS), yaitu seberapa berbeda posisi laki-laki dan perempuan. Misalnya, /co dan /ce berbelanja bersama dan barang belanjaan /ce lebih banyak.. Di Indonesia adalah hal yang (setidaknya dirasa oleh /ce :) wajar jika /co menawarkan bantuannya. Namun di sini, tidak ada hubungannya sama sekali. Malah /ce akan merasa dianggap "lemah" jika /co menawarkan bantuan.
- uncertainty avoidance index (UAI), yaitu seberapa penting sebuah peraturan dibuat untuk mengendalikan hal-hal yang tidak pasti.
- long term orientation (LTO), yaitu sikap sebuah negara terhadap komitmen jangka panjang dan keteguhannya terhadap tradisi.
Menarik juga untuk membaca lebih jauh tentang analisis Geert Hofstede tentang Indonesia di sini. Atau ini juga menarik, tapi rasanya ada beberapa hal yang saat ini kurang tepat.
Belanda adalah negara dengan Power Distance Index (PDI) yang rendah. Contoh yang paling terlihat adalah hierarki yang sama sekali tidak kuat antara atasan dan bawahan. Antara profesor dan mahasiswa. Seorang profesor dihargai bukan karena jabatan "profesor"nya, tapi karena sikapnya yang memang pantas untuk dihargai. Misalnya, perhatian terhadap mahasiswanya. Salah satu bukti PDI yang rendah adalah: profesor saya mengajak kami, 3 orang mahasiswa asing di BME (hanya ada 4 orang mahasiswa asing di BME: saya, teman satu project dari Yunani, satu orang Italia, dan satu orang Irlandia yang belum datang), makan malam bersama. Kami pergi dengan 2 orang staf dan 1 orang mahasiswa PhD. Suasananya sangat hangat, dan tidak terasa kami berada di sana kurang lebih selama 3 jam. Kami bercerita hampir tentang macam-macam, termasuk profesor saya menyarankan saya untuk mengambil foto dessert yang kami makan (karena bentuknya indah sekali) untuk ditaruh di blog. Hehehe, tauuu aja :p
Jadi, ini oleh-oleh dari beberapa hari "master intro" ini. Strawberry cheese cake & stracciatella :)

But this time, don't ask me how to make it, please... I just had it served on my table :p
Oh ya, resep tiramisu ada di sini.
Enjoy!
Labels: master journey
master intro (1) - multicultural awareness
Dari hari Jumat yang lalu, saya (sok) sibuk dengan kegiatan "master intro" untuk international master students di TU/e. Kegiatannya: mulai dari membereskan paper works, short lectures, olahraga, game dan simulasi, dan juga besok: mengunjungi Dutch cheese farm!! Yuhuuu...
Kuliah singkat yang paling menarik kurang lebih adalah mengenai budaya Belanda. Selain itu, ada juga permainan, simulasi, dan diskusi mengenai masalah-masalah yang mungkin akan timbul ketika kita bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda latar belakangnya. Ternyata, bagaimana pun.. orang akan bertindak (atau bereaksi) terhadap suatu keadaan berdasarkan basic dan common knowledge yang ia tahu. Dan ini, biasanya ia dapatkan di tempat ia dibesarkan. Ketika ia "hidup" bersama-sama dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda, bentrokan atau kesalahpahaman mengenai satu sama lain rawan untuk terjadi karena masing-masing memiliki common knowledge yang berbeda.
-----
Menarik sekali untuk melihat realita tersebut dalam sebuah simulasi sore tadi. Kami dibagi dalam kelompok, yang setiap kelompoknya terdiri atas empat orang. Kami akan bermain kartu di tiap kelompok ini. Setiap kelompok diberi selembar kertas yang berisi peraturan permainan. Kemudian ketika semua orang telah memahami permainan ini dengan baik, permainan dimulai. Dan, tidak boleh ada komunikasi sama sekali.
Permainannya kurang lebih seperti ini: setiap orang harus mengeluarkan kartu. Orang dengan nilai terbesar (untuk jenis kartu yang sama), boleh mengambil seluruh kartu yang dikeluarkan oleh orang lain. Permainan berjalan lancar, karena semua memahami peraturan di kelompoknya masing-masing dengan baik. Beberapa saat, dua orang dari setiap kelompok diminta bergeser ke kelompok lainnya. Permainan dimulai kembali dan tetap, tanpa komunikasi. Permainan berjalan baik hingga seluruh pemain mengeluarkan kartunya, namun pada akhirnya, dua orang teman saya berebut kartu. Satu orang beranggapan dia yang menang, dan satu yang lain beranggapan dialah yang harusnya menang. Olala, tahu kenapa? Karena untuk satu orang, As adalah nilai tertinggi, sedangkan untuk yang lainnya As adalah nilai terendah. Ternyata setiap kelompok diberi peraturan yang berbeda!!
Lucu. Kami sadar peraturan kami berbeda, tapi kami bingung harus bermain dengan cara seperti apa. Komunikasi verbal sama sekali tidak diizinkan. Cara tiap kelompok mengatasi ini berbeda-beda. Ada yang akhirnya pendatang mengikuti peraturan di kelompok yang didatangi, ada juga yang malah pendatang yang mengambil alih peraturan. Bagaimanapun caranya, pada akhirnya kami berhasil bermain. Semua senang.
Tapi itu tidak berjalan lama. Lagi-lagi, beberapa orang diminta pindah. Dan saya langsung sadar, kita akan bermain dengan perbedaan peraturan yang lebih banyak lagi! Dan apa yang harus saya lakukan? Mengikuti peraturan di kelompok asal saya, atau di kelompok saya yang baru, atau berusaha untuk mengerti dulu peraturan si pendatang baru?
Menarik.
Pada diskusi di akhir permainan, semua orang ditanya perasaannya. Ada yang kesal, merasa dicurangi, frustasi, merasa orang lain itu salah, merasa orang lain itu aneh, dan lain-lain. Kemudian juga, kami ditanya tentang bagaimana mengatasinya. Ada yang beradaptasi, ada yang berkompromi, ada yang menyerah, ada yang mengambil alih. Sebenarnya, itu yang terjadi ketika kita dihadapkan dengan orang dengan latar belakang berbeda. Bedanya, tadi itu dalam permainan dan bisa langsung ditebak. Bagaimana dengan kehidupan nyata? Yang malah kadang-kadang perbedaan-perbedaan nilai itu tidak bisa langsung disadari. Ditambah dengan sulitnya berkomunikasi karena bahasa yang berbeda, situasi terkadang menjadi tambah buruk:). Jadi inget ini, "kucing, kucing, bahasa kita berbeda..."
-----
Labels: master journey
transisi
Saya sudah tiba di Belanda 2 hari yang lalu :), dan sekarang saya mengalami lagi masa-masa transisi sebelum kehidupan yang normal dimulai kembali. Ini bukan pertama kalinya saya sendirian tinggal di tempat baru. Tapi tetap saja, semua hal-hal yang berhubungan dengan settling in terasa melelahkan. Hal-hal yang mendukung hidup: alat masak, rekening, koneksi internet yang stabil, teman baik, belum ada di sana. Setiap hari tas saya berat sekali karena barang-barang yang baru dibeli. Dan entah kenapa, aktivitas bersepeda kali ini juga begitu menyebalkan. Sepeda saya yang dulu terlihat bagus sekarang bannya selalu kempes setiap beberapa meter membuat saya harus selalu memompanya atau menuntunnya pulang. Gudang sepeda yang terletak di bawah tanah, membuat badan saya pegal-pegal karena harus mengangkatnya menaiki dan menuruni tangga.
Ritme hidup juga harus disesuaikan kembali. Begitu pula dengan kebiasaan-kebiasaan hidup, sekalipun saya pernah tinggal di sini beberapa bulan. Seringkali sedih, di kala orang-orang di sekitar beranggapan saya seharusnya tahu soal hal-hal yang saya tidak tahu. Kadang saya masih lupa tentang cara hidup di sini. Hasilnya kadang-kadang tidak menyenangkan, seperti dimarahi oleh seorang kasir ketika saya lupa bahwa seharusnya saya mengeluarkan barang-barang belanjaan saya dari keranjang. Ya, memang dia berbicara dalam bahasa Belanda. Saya tidak mengerti sepenuhnya, tapi saya bisa membaca tatapan matanya. Hmph. Orang-orang itu mungkin hanya belum pernah merasakan rasanya tinggal di dunia baru yang berbeda...
Ya, jadi mungkin itu salah satu manfaatnya tinggal di luar negeri. Atau setidaknya, tinggal di tempat yang berbeda. Saya belajar untuk lebih sensitif terhadap orang lain. Saya juga belajar bahwa orang lain berhak untuk tidak selalu tahu. Saya juga belajar untuk lebih ramah dan memperlakukan semua orang dengan baik. Karena saya ingin ketika saya berada di posisi mereka, orang lain juga berusaha mengerti perasaan saya.
Lelah.
Dan di saat-saat seperti ini, ingin sekali rasanya bisa "pulang" ke tempat yang nyaman. Ingin sekali bisa memeluk seseorang dan melepaskan perasaan-perasaan ini. Ingin sekali, ketika dunia luar itu sepertinya menyakiti saya, saya bisa sekedar menangis di pundaknya untuk kembali mengumpulkan kekuatan. Atau setidaknya, ingin sekali bisa melihat senyumnya karena untuk saya, itu sudah cukup untuk memberi tambahan energi karena saya tahu saya tidak sendiri. *Duh, kangeeeeen sekali sama suami tercinta*
Tapi apa betul ya saya sekarang sendirian?
Sepertinya tidak. Di saat-saat seperti ini juga, justru saya semakin merasa bahwa selalu ada yang menemani dan menjaga saya. Saya diberi housemate yang sangat membantu dan menyenangkan, dan semuanya perempuan. Di sini, banyak juga yang dalam satu apartemen ditinggali oleh laki-laki dan perempuan, dan kita tidak bisa mengatur itu karena semuanya diurus oleh perusahaan perumahan. Saya dapat beasiswa yang mencukupi untuk semua kebutuhan saya. Saya punya profesor yang begitu perhatian. Saya datang saat ini bersama banyak mahasiswa asing yang sama-sama mengerti. Saya juga merasa cocok dengan seseorang yang akan menjadi teman satu project saya nanti. Saya juga merasa bahwa saya akan senang di sini. Dan di kala saya benar-benar merasa capek, saya seringkali bertemu dengan ibu-ibu berjilbab yang tiba-tiba lewat dan tersenyum di depan saya. Hangaaat sekali rasanya.
Semua hal tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja. Dan itu artinya saya tidak pernah sendirian. Allah selalu menjaga saya. Allah selalu mengirimkan hal-hal yang baik untuk saya melewati semua kesulitan-kesulitan. Namun seringkali saya lupa dan terlalu fokus pada kesulitan-kesulitan tersebut. Dan ketika itu terjadi, saya lupa untuk mensyukuri semua nikmat-Nya ini. Astaghfirullah...
Besok, dan besoknya lagi.. Masa-masa ini masih harus dilalui. Entah sampai kapan. Tapi saya tahu, saya akan menikmati semuanya ini. Alhamdulillah :)
Labels: master journey
Si peko dan si poko
Seperti adil itu tidak selalu harus sama,
ideal juga tidak harus selalu sempurna.

Si merah peko dan si hitam poko di atas, hadiah nikah dari seorang teman Jepang. Si poko sekarang jadi milik saya, sedangkan si peko milik suami.
Saat ini, si poko dan si peko terpaksa tidak bisa disimpan berdampingan, ya. Si poko dan si peko sedang diberi kesempatan untuk belajar banyak bersabar. Masih ada peran --yang sayangnya di tempat yang terpisah, yang perlu ditunaikan.
Si poko besok akan menemani pemiliknya menyeberangi lautan. Sedangkan si peko, insya Allah, tetap di sini hingga saatnya si poko kembali... Untuk kemudian bersama-sama meneruskan langkah, merengkuh cita.
Mohon doanya, ya...
Hadiah (2)
Kembali bercerita tentang teman-teman saya yang sering membuat terharu. Hari Sabtu (19 Agustus) yang lalu, bertepatan juga dengan pesta kembang api di tepi sungai Futakotamagawa, Morita-san, senior satu grup ketika di lab tahun lalu itu, mengundang kami ke pesta-nya. Sebenarnya itu bukan pestanya, karena pesta itu ia siapkan untuk "merayakan" pernikahan kami.
Saya kira ini akan menjadi acara kumpul-kumpul kami seperti biasa. Masak bersama-sama lalu makan sambil mengobrol. Ternyata, sekalipun acara masak-memasak dan bakar-membakar BBQ tetap ada, teman-teman kami datang dengan membawa masakannya. Teman dari Pakistan datang membawa makanan Pakistan *yummy, saya suka pedasnya!*, teman dari Cina pun nggak ketinggalan bawa masakannya. Dan mereka sengaja membeli daging dari toko halal untuk memasaknya. Selain itu, seorang teman Jepang yang baru saja pulang dari liburannya di Indonesia membuatkan kami martabak pisang --resep Indonesia yang didapatnya di internet. *Minna...*
Dan kemudian, Morita-san berkata, "Ada kue nikah 2 tingkat lho!"
Aaa.. ini kue strawberry yang manis itu, versi "gajah" kue dari Teh Iis (sayang kue buatan Teh Iis saya tidak punya fotonya). Ada tulisannya: "Happy Wedding Desiree & Zalfany".

Kue ini betul-betul besar! Dengan 15 orang yang datang waktu itu, benar-benar butuh perjuangan untuk menghabiskannya.
Dan ternyata, kue ini bukan kejutan terakhir... Di antara semua kado-kado mereka, satu yang paling mengesankan. Mereka memainkan "Bridal Chorus" - Wagner, dengan angklung! Morita-san yang memiliki satu set angklung dan mereka berlatih dulu, katanya. Mereka juga bisa memainkan lagu "Happy Birthday" untuk salah satu teman kami berulang tahun hari itu. Mereka tampak gembira, dan saya juga tentu saja senaaaaang sekali.

Teman-teman saya dengan angklungnya :)
Duduk di tepi sungai futakotamagawa.
Memandangi langit biru yang cerah berubah merah dalam senja.
Menikmati kembang api yang menari-nari mewarnai langit malam.
Terharu dan sangat bersyukur.
*Kapan ya, saya punya kesempatan seperti mereka untuk membahagiakan teman saya yang lainnya... Dan jika kesempatan itu ada, akankah saya ingat untuk ada di sana?*
Labels: japan
Hadiah (1)
Terharu.
Teman-temanku... mereka selalu berhasil membuat saya merasa diakui dan dicintai. Dan itu membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saya, sebaliknya, pernah juga membuat teman-teman saya merasa bahwa mereka disayangi dan dihargai sebagai bagian dari hidup saya?
Jumat malam yang lalu, saya dan suami ke Hakkeijima. Hadiah dari teman-teman Indonesia di Tokodai, ketika beberapa minggu yang lalu mereka mengadakan pesta kecil untuk kami. Teh Nia dan Teh Iis menjamu kami semua di rumahnya. Teh Nia masak makanan yang enak :) dan Teh Iis membuat kue strawberry yang manis sekali. Teman-teman yang lain pun banyak yang datang. Minna, hontouni arigatou ne.
Hakkeijima. Summer night, sea paradise. Tepi laut di sore hari, indah sekali. Hakkeijima terletak di Yokohama bay, satu setengah jam dengan kereta. Di sini, kami mengunjungi aqua museum yang merupakan museum laut interaktif terbesar di Jepang. Seperti sea world di Jakarta, tapi di sini juga ada binatang-binatang kutub. Di sini juga kami bisa melihat pertunjukan lumba-lumba, anjing laut, dan penguin yang lucu-lucu. *Duh, kapan ya terakhir kali lihat atraksi seperti ini :)* Entah kenapa, melihat mereka membuat hatiku tergerak. Entah perasaan apa itu. Antara kasihan karena mereka harus terkurung di situ, tapi juga terharu merasakan rasa sayang pelatih-pelatih binatang itu kepada mereka.
Beberapa suasana "laut" Hakkeijima:

yokohama bay
Foto ini diambil dari monorail "sea side line" yang menghubungkan Kanazawa Hakkei (sebuah stasiun di selatan Kanagawa-ken) dengan Hakkeijima.

pelikan
Sesuatu yang spesial dari sea paradise di sana adalah hanabi (fireworks) simfonia. Kami duduk di pinggir pantai, memandang laut di seberang -tempat kembang api - kembang api itu diluncurkan. Sepuluh menit kembang api itu menari-nari diiringi musik sebagai latar belakangnya. Musim panas di Jepang ini salah satunya memang ditandai dengan pesta kembang api di mana-mana. Pesta kembang api di Hakkeijima ini termasuk salah satu yang komersial, namun banyak pula pesta kembang api lainnya (yang bahkan dengan durasi hingga 1 jam lebih) yang diselenggarakan oleh pemerintah sebagai hiburan rakyat.
Labels: japan
Hug!
Come,
and hug me.
And I'll give you comfort
and protection from the wild world out there..
But before I could give you that..
I am praying,
that I will not hurt you
by holding you too tight
pictures from: http://www.visionballoons.co.uk/photogallery/Hug%20me%20heart.jpg
Burung & kucing

"Burung, sekalipun saya tahu sepertinya kamu sedih karena rumahmu saya ambil...," kata kucing, "tapi kalau kamu ga bilang, ya saya nggak ngerti..."
"Bahasa kita berbeda, kucing, saya nggak tau bagaimana caranya berbicara denganmu," jawab burung.
[remaining scripts deleted]
[let the picture itself explain :]
picture was taken from: http://bermanbears.com/fungallerypages/images/CatBirdCage02.jpg
Bendera
Banyak hal yang ga bisa dijelaskan bagaimana cara hal-hal tersebut terjadi.
Things happen for reasons.
Itu yang pasti, tapi apa alasan sebenarnya, kadang-kadang baru akan kita temukan di kemudian hari.
Salah satu awal yang berat ketika memakai jilbab ini, adalah ketika saya merasa tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Tidak nyaman karena merasa berbeda. Saya ingat tatapan orang di sekitarku, terlepas itu adalah tatapan penuh syukur ataupun tatapan heran, yang membuat saya butuh berlipat-lipat energi untuk melangkahkan kaki dan bertemu orang. Kekuatan besar itu dibutuhkan lebih banyak lagi ketika saya berada di luar negeri, karena seakan-akan saya pergi kesana kemari dengan membawa sebuah bendera bertuliskan "hey, saya berbeda", dan saya harus tetap nyaman terhadap diri sendiri.
Iya, harus. Karena kalau tidak, gimana kita bisa hidup :)
Alhamdulillah. Masa-masa itu sepertinya sudah berlalu *dan karenanya udah bisa ditulis di sini :)*. Saya sudah bisa nyaman melangkah kemanapun, tanpa merasa bahwa orang lain melihatku berbeda. Bahkan ketika ada anak kecil memperhatikanku dengan pandangan ingin tahu, saya tidak langsung sadar mengapa mereka seperti itu. Namun ketika saya sadar, saya balas dengan senyum bersahabat. Masalah selesai. Entah itu dengan mereka akhirnya menyapa saya, balas tersenyum, atau (lebih seringnya) sembunyi di balik ibunya. :)
Tidak ada yang salah dengan perbedaan yang saya bawa. Saya manusia, sepenuhnya sama dengan mereka. Dan saya rasa, saya justru membawa satu variasi lain dalam hidup mereka, bukan? :)
Pengalaman saya akhir-akhir ini menarik. Dan terjadi di saat yang tidak saya duga sama sekali. Hari itu di dalam kereta, saya bersandar pada sebuah tiang di ujung kursi. Lelah sekali. Lahir batin. Lahir karena mengejar-kejar kereta di bawah teriknya matahari dan batin karena melihat kereta bergerak sebelum beberapa langkah lagi saya bisa meraihnya. Uh. Di tengah kelelahan itu, tiba-tiba seorang perempuan muda Jepang berjalan setengah berlari dari lorong kereta sambil melambaikan tangannya pada saya. Wajahnya gembira sekali, seperti baru saja menemukan kembali teman lama. *Yaa.. Jepang kan memang saudara tua orang Indonesia :)>- peace..* "Jangan-jangan dia memang teman lama saya," pikir saya sambil berusaha mengingat-ingat.
"Konnichiwa!!" tepat di depan saya ia mengatakan itu dengan penuh semangat. "Waduh, orang ini seperti benar-benar mengenal saya," pikir saya. "Kamu dari Malaysia?" tanyanya. Syukurlah, ternyata memang kita belum pernah bertemu, saya lega. "Oh, kamu dari Indonesia, saya juga punya teman baik dari Indonesia, blah.. blah.. blah.." katanya. Dan akhirnya perjalanan di kereta itu diisi dengan pembicaraan-pembicaraan menarik dengan perempuan itu, yang bahkan membuat suami saya heran karena ternyata orang yang tidak dikenallah yang malah membuat istrinya ceria lagi :)
Begitulah, bendera "hey, saya berbeda" bekerja sedemikian baiknya. Kali ini, membuat saya menghilangkan lelah. Ditambah lagi, perempuan itu dengan bangganya berkata, "Saya sedang membaca tentang Islam, lho, kalau saya nanti tidak mengerti, saya email kamu, ya." Duh, mudah-mudahan saja kalau benar suatu saat emailnya datang, saya bisa menjawabnya.
Ada kejadian mirip seperti itu lainnya.
Minggu lalu, seorang teman mengundang saya dan suami untuk menonton pertunjukan seni orang-orang Kazakhstan di sebuah kota kecil 2 jam dari utara Tokyo. Selesai pertunjukan, dua orang ibu dan anak-anaknya (mungkin sekitar 5 tahunan) mendekati saya dan menyapa dengan bahasa yang sangat familiar, "Apa kabar?" Belum sempat saya jawab, ia berkata lagi "Orang Malaysia, ya?". "Nama saye ..," lanjutnya. Rupanya ibu-ibu ini belajar bahasa Melayu dan mereka penasaran apa saya orang Malaysia.
Beberapa kali kejadian.. rasanya saya diidentikkan dengan orang Malaysia terus ya? :) *Waduh, harus belajar bahasa Melayu nih artinya, supaya suatu saat bisa pura-pura jadi orang Malaysia* Hehe, tapi sekalipun kelihatannya orang-orang tadi lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia, mereka pernah kok ke Bali :)
Ibu-ibu tadi senang sekali bisa mempraktekkan beberapa percakapan dalam bahasa Melayunya. Dan saya juga senang sekali ada orang-tak-dikenal-bermaksud-baik datang menyapa dengan ramah.
Saya kira akan sulit menemukan orang-orang Jepang berbahasa Indonesia/Melayu di Jepang ini. Tidak seperti di Belanda, di mana-mana saya harus berhati-hati kalau berbicara "aneh-aneh" dalam bahasa Indonesia. Bisa-bisa orang di depan saya akan ikut nimbrung! Walaupun mungkin memang sedikit sekali orang Jepang yang tertarik pada bahasa kita, (lagi-lagi) ada sebuah kejadian tak diduga dalam perjalanan pulang dari kota kecil tersebut. Kereta sangat penuh sore itu sehingga tidak cukup tempat untuk saya duduk bersebelahan dengan suami. Namun ketika kereta akan berhenti di suatu stasiun, seorang ibu Jepang di sebelah saya beranjak dari tempat duduknya dan tiba-tiba berkata, "Cepat, panggil," sambil menunjuk-nunjuk suami saya. Saya terkejut, karena ibu itu berbicara dalam bahasa Indonesia. Refleks, saya katakan, "Terimakasih." Dan ibu itu menjawab lagi, "Sama-sama." Saya makin heran, karena ibu itu benar-benar menjawab dalam bahasa Indonesia pula. Lebih heran lagi, bagaimana ibu itu bisa tahu saya orang Indonesia, karena saya sama sekali tidak bercakap-cakap dengan suami. Hingga sekarang, kebingungan saya belum terjawab, karena ibu tersebut kemudian turun dari kereta sebelum sempat saya tanya-tanyai :)
Begitulah. Bendera "hey, saya berbeda" akhir-akhir ini bekerja dengan membuat hidup saya penuh dengan orang-orang yang malah mau beramah-tamah. :)
Alhamdulillah.
-------------
Oh ya, FYI,
di Jepang ini langka orang menegur orang lain yang tidak dikenalnya. Apalagi jika orang lain itu adalah orang asing. Jadi kejadian-kejadian di atas itu, bolehlah dibilang, sangat langka.
Kue!!
Alhamdulillah.
Banyak sekali kebaikan yang terjadi akhir-akhir ini yang melegakan. [sayangnya ga bisa semuanya diceritakan].Tapi Allah itu memang sedemikian baiknya.
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman)
Salah satunya adalah ikutan kelas di ABC cooking sama Teh Nia, bikin tiramisu yang cantik ini:

Yummy!
*sambil terharu ga percaya bisa bikin kue begini :p*
PS: resepnya nyusul nanti-nanti ya :)
--posting ini dibuat dengan tujuan kalau suatu saat pengen bikin lagi, cukup percaya diri kalau dulu (setidaknya) pernah bisa membuatnya :p
Bukan bunga biasa
Bunga di foto posting kemarin itu, adalah bukan sembarang bunga.
Dalam kunjungan saya kali ini ke Jepang, saya beberapa kali diundang makan oleh kenalan-kenalan semasa YSEP dulu. Dan di sini, membawa buah tangan kepada orang yang mengundang kita, adalah suatu kebiasaan. Salah satu tanda penghargaan. Bisa berupa okashi -kue kecil Jepang yang biasanya maniis sekali :), barang-barang lain, atau salah satu hal yang paling sederhana (walaupun kadang-kadang menguras saku :) yaitu: bunga.
Kemarin saya diundang oleh seorang ibu yang pernah menjadi host family saya ketika homestay 2 hari. Pagi itu saya pergi dengan agak terburu-buru. Waktunya mepet sekali dengan jadwal kereta saya. Saya belum mempersiapkan apa-apa untuk saya berikan, padahal kita janji bertemu di stasiun kereta api. Artinya, saya tidak akan sempat membeli sesuatu ketika sudah sampai di sana. Dalam keterburu-buruan saya, saya sempat mampir di sebuah toko bunga. Memilih dengan cepat, meminta florist di sana untuk membungkusnya, lalu lari mengejar kereta. Kereta terkejar, dan baru di dalam kereta saya bisa memperhatikan bunga itu dengan baik.
Warnanya cantik.
Merah muda yang cerah sekali. Wanginya juga harum.
Tapi kenapa ternyata layu begini ya?
Akhirnya saya kabari beliau, "Maaf, saya terlambat 15 menit."
Tidak ada pilihan lain, pikir saya. Di stasiun berikut tempat saya harus ganti kereta, saya harus keluar untuk mengganti bunga ini. Saya cari toko bunga. Ada. Sebuah toko bunga di stasiun besar di pusat kota. Bunga-bunganya jauh lebih segar. Rangkaiannya pun jauh lebih cantik. Tapi juga: jauh lebih mahal. :)
Saya pilih karangan bunga seukuran gelas minum. Ukurannya 3 kali lebih kecil dari bunga yang saya beli sebelumnya. Tapi harganya 2 kali lipat. Bunga yang bukan bunga biasa. Bukan karena seseorang istimewa yang memberikannya untuk saya, tapi ia telah menjadi peringatan:
bahwa menjaga hubungan baik dengan seseorang itu tidak bisa dinilai harganya.
Baik dengan uang, maupun dengan waktu yang seakan-akan jadi terbuang.
flowers
A month.
Very grateful for having flowers blooming everyday in my heart.
And yes..
Those are flowers.
They will die sometime, ...
but really hope that I will have some others that grows even more beautifully.