Tuesday, January 23, 2007
Thursday, January 18, 2007
badai
Sungguh Allah Maha Besar...
Angin kencang sekali menerpa tubuhku. Aku di bawah sebuah lorong di antara dua gedung tinggi. Kemana ilmu yang aku pelajari selama ini? Tidak sadarkah aku bahwa angin lebih kencang di dalam pipa? Tapi aku tak sanggup lagi bergerak! Perlahan aku berbalik arah, dan angin mendorongku dari belakang. Setidaknya aku keluar dari pipa besar itu. Pipa besar dengan suara angin yang menderu-deru. Begitu menakutkan.
Berjalan ke luar kampus melalui jalan lain tetaplah tidak mudah. Aku masih berada dalam pipa. Pipa yang lebih besar tampaknya, tapi tetap aku berada dalam pipa. Angin malam ini bukanlah tandinganku. Sungguh. Kali ini angin lebih kencang, sepedaku betul-betul hampir terbang. Ya Allah, kemana aku harus berpegang? :(
Aku takuuuuut sekali. Maha Besar Engkau, ya Allah.
Dengan susah payah aku sampai di perempatan jalan depan kampusku. Sepi sekali. Hampir tidak ada mobil. Senyap. Hanya suara angin yang terdengar, dan beberapa bekas pohon tumbang di jalan aku masih bisa melihatnya. Berpikirlah, berpikirlah, otakku berkata. Aku harus pulang dengan selamat. Dan aku tidak boleh salah mengambil keputusan. Jalan pulang ke rumah adalah lagi-lagi, pipa-pipa. Sungguh, aku ingin menangis. Aku hubungi suamiku di sana.
----
Hujan badai baru saja menerpa Eropa. Sungguh besar. Badai sebesar ini terakhir terjadi tahun 2002, kata berita. Semua kereta dibatalkan. Hampir semua bus berhenti beroperasi. Bahkan, penerbangan pun dibatalkan. Sore tadi aku di Maastricht untuk ujian, alhamdulillah, aku masih bisa pulang tadi! Keretaku tadi berhenti tepat di Eindhoven, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya.. Sayang, aku tidak berpikiran sama untuk tidak melanjutkan perjalanan. Bukannya pulang ke rumah, aku malah kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas-tugas semester ini.
Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.
Aku di rumah sekarang, bisa berbagi cerita. Namun aku masih bisa merasakan angin-angin itu ingin menerbangkan tubuhku. Aku masih merasakan tusukannya di mukaku. Dan deru angin di luar masih bisa terdengar...
Akhirnya aku putuskan untuk naik taksi tadi. Rasanya terlalu berbahaya untuk pulang berjalan kaki, dan berhemat di saat seperti ini bukanlah ide yang bijak, pikirku. Perjalanan ke rumah berjalan kaki dalam keadaan normal akan memakan waktu 30 menit. Dalam angin yang sangat tidak ramah ini? Aku tidak tahu. Aku harus selamat.
----
Apalah kekuatan seorang manusia? Mengapa seringkali manusia bersombong diri?
Sungguhlah, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok.
Beberapa hari ini pikiranku sudah melayang, terbang jauh, membayangkan hari-hari yang akan kulalui bersama suamiku... Aku merangkak perlahan melalui hari, menjalankan ujian dan tugas-tugas akhir semester, dengan satu penantian bahwa aku akan bisa memeluknya sebentar lagi. Insya Allah.
Besok pagi, insya Allah jadwal pesawatku untuk terbang ke Jepang. Membayar gulungan-gulungan waktuku beberapa minggu terakhir ini. Tapi sungguh, malam ini aku disadarkan. Allah-lah yang maha perencana. Allah maha mengetahui segala kebaikan. Hanya Allah-lah sang penguasa. Kita, manusia, hanyalah bisa berencana.
Seluruh kereta dibatalkan malam ini. Banyak penerbangan dibatalkan malam ini.
Mudah-mudahan Allah meridhai kereta untuk beroperasi kembali besok pagi. Mudah-mudahan pesawatku bisa terbang besok, dan tiba dengan selamat.
Semoga segala ketakutan malam ini, pergi besok seiring dengan perginya sang badai...
Malam ini,... badai ini,...
Rasanya Allah ingin menunjukkan padaku... sungguh, Allah-lah maha perencana.
*Ya Allah, izinkan aku untuk memeluk suamiku kembali...*
...
Labels: master journey
Tuesday, January 16, 2007
berbagai warna
Tinggal bersama-sama dengan orang lain dalam satu rumah adalah hal yang tidak mudah, namun juga menarik. Pasti saja ada perbedaan-perbedaan yang membuat kita mengangkat alis, terheran-heran, dan tidak bisa mengerti akan apa yang mereka lakukan. Tinggal dengan suami sekalipun, yang insya Allah telah dipilih untuk hidup dengannya seumur hidup. Apalagi ketika teman itu adalah orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya, ditambah lagi mereka datang dari negara yang berbeda, dan tentu saja: dengan nilai-nilai yang berbeda.
Dua tahun yang lalu ketika YSEP di Jepang, saya tinggal berdua bersama seorang teman dari Korea. Berbagi dapur, toilet, ruang makan, dan sekaligus ruang belajar, tempat kita banyak menghabiskan waktu bersama jika ada di rumah. Kamar tidur saat itu hanya seukuran tempat tidur, dan tentu saja bukan tempat yang bisa dijadikan pilihan untuk menghabiskan waktu. Privacy adalah hal yang mahal, dan karenanya beberapa hal sempat menimbulkan gesekan, walaupun itu membuat kami menjadi lebih bersahabat pada akhirnya.
Saat ini, saya tinggal di sebuah apartemen, bersama dengan satu orang teman dari Cina, dan satu orang dari Perancis. Kali ini kami mempunyai privacy kami sendiri karena setiap orang memiliki sebuah kamar yang cukup bukan saja untuk tidur, tapi juga untuk menaruh meja belajar, lemari, dan rak buku. Kontak dengan mereka hanya ketika masak di dapur, atau ketika kami keluar dari kamar. Masalah kurang lebih banyak terhindari, namun teman kami dari Perancis itu sangat-sangat sensitif terhadap suara. Semua harus senyap ketika dia sudah tertidur, dan tinggallah kami berdua kebingungan.
Batas-batas nilai mengenai apa yang baik atau tidak, apa yang sopan atau tidak, juga tidak sama. Salah satu contohnya, adalah mungkin teman saya itu berpikir kami yang tidak bisa menghargai waktu tidur dia, tapi di sisi lain kami juga berpikir bahwa caranya untuk memberitahu kami bahwa dia terganggu -yaitu dengan mengetok-ngetok dinding, juga tidak sopan. :). Beberapa saat di awal, kami masih bisa mengerti, hingga akhir-akhir ini kami lama-lama juga bingung dengan ulahnya. Berbicara langsung dengannya? Mmm.. saya dan teman saya satu itu, yang berbudaya Timur ini, merasa itu bukan hal yang paling baik untuk saat ini.
Tinggal dengan orang yang berbeda latar belakang, memang banyak seninya. Dapur kami selalu harum dengan berbagai macam masakan: Perancis, Cina, dan tentu saja Indonesia :). Tapi itu juga berarti, kehidupan kami setiap harinya juga punya berbagai warna: Perancis, Cina, dan Indonesia. Dan sayangnya, mencampur warna agar menjadi indah itu memang dibutuhkan kehati-hatian yang banyak. Menarik, menantang, tapi juga melelahkan.
Labels: master journey
Sunday, January 14, 2007
MRI
Magnetic resonance imaging (MRI) adalah teknik pengambilan citra tomografi tubuh manusia dengan menggunakan sifat-sifat magnetik molekul-molekul yang terdapat dalam tubuh. Secara sederhananya, molekul-molekul yang berbeda akan memberikan respon yang berbeda jika diberikan medan magnet. Berdasarkan respon inilah, tubuh manusia dapat dicitrakan.
Dasar-dasar teknik ini sarat sekali dengan fisika dan penurunan-penurunan matematisnya. Banyak text book yang isinya penuh dengan rumus :-s, tapi beberapa link di bawah ini memberikan penjelasan dengan (relatif) mudah dimengerti, beserta animasi-animasi yang mempermudah visualisasi.
The basics of MRI: http://www.cis.rit.edu/htbooks/mri/
Study MRI physics: http://www.revisemri.com/
Di Belanda, MRI ini sedang dikembangkan untuk menjadi salah satu standar informasi yang perlu diambil dari bayi, untuk mengetahui abnormalitas yang terjadi pada otak lebih dini. MRI dinilai aman untuk bayi sekalipun, karena berbeda dengan CT, MRI ini tidak memberikan radiasi.
Cerita-cerita selanjutnya, insya Allah kapan-kapan *kalau besok lulus ujiannya :d* Amin.
Labels: master journey
Sunday, January 07, 2007
expecting
This is almost the end of the semester.. In 2 weeks I will have arrived in Narita again, insya Allah, but it seems that the time before it comes will not be that easy.
Exams are coming in just a blink. Report deadline for my internship is also approaching, but I have just found out that I have to spend at least two days more to re-run the program. And now, after keeping it running for four hours --yes it's a huge program--, the connection to the remote kernel was down suddenly. OK, no problem.. it only means that I have to re-run again. :( The good part is, at least, that it happened 10 days before the deadline :)
-----
I found that everything in life seems to be more enjoyable when I am expecting something. I know I will survive these days, because I know something big coming in 2 weeks. :). *See you soon, sayang, insya Allah*
I cannot imagine if one day, my life is in stagnancy, without no expectation. No passion. Ouch, I will never let it happen!
Then, won't the life be even much more worthwhile, when we know that we must survive any difficulties in life because something really big waiting for us in the here-after?
*however, it is only easy to say... *
Labels: master journey
Monday, January 01, 2007
tahun baru!
<:-p
Suara-suara dari luar sana memaksa saya untuk membuka jendela kamar. Ouw, indahnya! Kembang api berwarna-warni menari-nari di langit. Dari segala penjuru. Dari yang paling besar di pusat kota, di stadion Philips, hingga kembang api-kembang api kecil yang diluncurkan dari rumah-rumah di sekitar apartemen saya. Terbayangkan keceriaan orang-orang yang berkumpul di pusat keramaian sana. Menikmati saat-saat ini...
Hmm, tapi apa yang istimewa dari tahun baru untuk saya, ya?
Saya justru lebih senang untuk melaluinya dalam kesendirian.. :)
Selama 23 tahun ini, rasanya hanya 2 kali saya lewatkan malam tahun baru dengan menyalakan kembang api pada pukul 12 malam. Itupun ketika saya SD, ketika menyalakan kembang api bersama teman-teman di tahun baru sambil meniup terompet membuat keributan di sekitar kompleks rumah adalah hal yang menyenangkan untuk sebuah alasan: rasanya hebat merayakan tahun baru gaya orang dewasa!
Tahun-tahun berikutnya, tahun baru saya lalui entah dengan di depan TV sambil makan kue bersama keluarga, menulis buku harian di kamar, atau bahkan sengaja tidur sebelum pergantian hari:) Ah iya, salah satu tahun yang terasa istimewa, saya ingat, adalah dua tahun yang lalu, ketika saya menunggu ritual tahun baru dalam dinginnya (dan rasanya juga bersaljunya) malam di sebuah kuil di tengah kota Tokyo. Tapi itupun, berakhir dengan menyerah pergi sebelum yang ditunggu-tunggu datang, karena tidak ada yang bisa saya nikmati dengan orang yang berdesak-desakan.
Ah, apa ya arti tahun baru itu?
Buat saya, tahun baru hanyalah sebuah pergantian hari. Memang lebih istimewa dari hari yang lainnya, karena pada hari ini saya diingatkan untuk mengingat kembali pencapaian di hari-hari sebelumnya, dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan di hari-hari setelahnya.
Saat-saat saya diingatkan untuk tidak pernah berhenti membangun mimpi, agar hari-hari berikutnya tidak tersia-siakan tanpa arah...
Jadi, selamat tahun baru, kawan..
Apa mimpimu tahun ini? :)



