Tuesday, February 23, 2010

Kado dari Mentari untuk aki


Akhir-akhir ini saya semakin yakin bahwa Allah memang maha baik. Allah menciptakan bayi manusia sedemikian rupa sehingga orang (manapun, tanpa mengenal SARA) yang melihatnya menjadi sayang. Kalau kata nin-nya Mentari, kelucuan bayi adalah salah satu survival kit mereka.

Coba deh, pernah ga lihat bayi yang bikin hati susah? :)

Aki-nya Mentari baru datang Sabtu kemarin (usia Mentari: 2 bulan 3 hari). Dan Mentari menyambut aki dengan respon yang bikin akinya terharu. Hari itu pertama kalinya Mentari bisa berinteraksi dengan lama. Kalau diajak ngobrol dia senyum dengan mulut terbuka (ketawa tapi ga ada suaranya) terus bisa bilang "hao.. hao.. eh.."

"Aki...!"

Mentari sayang aki... (bahagia deh tidur sama aki :)

Terus kemarin Mentari waktu diajak ngobrol menjawab dengan senyum (kali ini bibir tertutup) maniiiis sekali. Wah, hati ibu jadi meleleh... rasanya hilang semua cape.

Beberapa hari ini Mentari selalu mandi pagi sama aki. Ternyata baru aja nih Mentari kalau mandi dengan badan tengkurep, kakinya berenang. Seneng banget kayaknya sampai kalau dibalik protes. Ini juga kayaknya hadiah dari Mentari untuk aki. Hehehe...

Oh ya, di usianya yang 2 bulan ini Mentari juga sudah tertarik dengan mainan yang bersuara, menyala-nyala dan bergerak. Pagi tadi kita punya mainan baru dari neneknya di Jakarta, dan ini pertama kalinya Mentari tertawa sembil mengoceh dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.

Pertama kalinya lihat Mentari seneng banget sama mainan

Duuh,... alhamdulillah, ya Allah, Mentari sudah semakin besar. Tumbuh jadi anak yang baik hati dan sholehah ya, Neng...

Labels:

Tuesday, February 16, 2010

tentang hamil di belanda: home delivery

Ketika saya pertama kali datang ke Belanda, cerita tentang ibu hamil di Belanda selalu membuat saya menyerengitkan alis. Manajemen kehamilan di Belanda berbeda dengan di Indonesia, dan berbedanya ini sering membuat saya berkomentar: yang bener aja?! Hehehe. Terutama tentang ini nih: "home delivery".

Di Belanda, dalam keadaan normal (sehat, tidak ada komplikasi, sejarah kehamilan yang lalu baik) ibu hamil ditangani oleh bidan. Dan dalam kondisi "ideal" seperti ini, default-nya, ibu hamil akan melahirkan di rumah, kecuali jika ibu hamil tersebut meminta untuk melahirkan di klinik atau di rumah sakit. Dalam proses kelahiran di rumah sakit yang seperti ini, tetap bidan yang akan menangani ibu hamil tersebut. Dokter hanya akan menangani jika ada alasan medis.

Butuh waktu 2 tahun untuk menerima ide ini (dengan banyak mendengar pengalaman orang-orang, baca-baca, dan diskusi di kelas bahasa Belanda), sampai akhirnya sebelum saya hamil saya sudah yakin bahwa jika saya hamil saya ingin melahirkan di rumah.


Nah, apa yang membuat saya merasa yakin untuk melahirkan di rumah?

Alasan utama sih karena: nyaman! Saya bisa membuat kondisi rumah dalam keadaan senyaman mungkin dengan atmosfer kekeluargaan yang hangat. Coba bayangkan bedanya dengan atmosfer rumah sakit?

Bagaimana dengan masalah aman? Apa melahirkan di rumah aman? Saya pernah baca artikel bahwa melahirkan di rumah tidak lebih tidak aman daripada melahirkan di rumah sakit, jika kehamilan tidak bermasalah. Dan saya pun mengamati bahwa bidan di sini cukup berhati-hati. Jika mereka mendeteksi ada masalah sedikit saja dalam proses melahirkan (dari awal pembukaan misalnya), ibu hamil akan segera dibawa ke rumah sakit dan langsung ditangani oleh dokter.

Selain itu, urusan harus pergi ke rumah sakit ini ga praktis. Berbeda dengan di Indonesia misalnya, dimana ibu hamil tetap diterima di rumah sakit ketika kontraksi masih jarang misalnya, di sini, ibu hamil baru boleh datang ketika kontraksi sudah intens. Mengenai intens itu kapan, saya tidak pernah mencari infonya baik-baik sampai ketika saya melahirkan. Ketika saya sudah bukaan 7-8, bidan bertanya pada saya apa saya berencana melahirkan di rumah sakit atau di rumah. Artinya, kalau saya berniat melahirkan di rumah sakit, maka saya akan pergi ke rumah sakit di kala saya ga mau lagi pergi dari rumah. Jangankan keluar rumah, pindah posisi saja rasanya ga mau! Begitu pula dengan waktu keluar dari rumah sakit. Jika semua lancar, dalam 3-4 jam setelah melahirkan ibu baru (sekarang bukan ibu hamil lagi) harus pulang.

Alhamdulillah semua lancar dengan proses kehamilan dan kelahiran Mentari. Pengalaman melahirkan bulan Des lalu (insya Allah detilnya menyusul, ya) menjadi pengalaman home delivery yang sangat menyenangkan :).

Labels: ,

Monday, February 15, 2010

Mentari in the baby carrier

Just received a gift from Maria, Tim, Christina and Agnese last week - a baby carrier. Thank you, thank you, thank you!!

Mentari looooooves it!



We went to a Chinese store in the afternoon and Mentari seemed to enjoy the shopping. Zalfany "wore" her using the carrier. She looked so comfortable in it that she ended up sleeping.

Before we have this carrier Mentari tagged us along in her pram or on her car seat.

The pram is nice when Mentari is sleeping, but not practical at all (unless we only want to take a walk around the place where we live). Imagine that we have to first carry the basket and the wheel to the car (from an apartment in the 2nd floor with no elevator,.. it's heavy, mind you), put them in the trunk, and later on assembly them. And due to its flat position she can only see the sky, and at the moment she doesn't seem to appreciate it too much.

The more practical way is to take her on the car seat, but we need to make sure her comfort. She is still too small to sit comfortably on it so we need to find the best position (my mom usually adds two diapers on her back). The other thing is, unless the shop has a trolley which can fit a car seat like in AH, then it means we have to literally carry her! Good for your muscle, though :)

So, the baby carrier is kind of life safer (haha, OK, I'm exagerating), but really, it saves us so much troubles! And what can be better than being so close to your precious little one?

Labels:

Sunday, February 07, 2010

Mentari minum susu ayah

Hari ini, setelah ditunda-tunda terus, akhirnya Mentari belajar minum ASI dari botol. Kata kraamzorg-nya dulu, karena mulai usia 4 bulan Mentari harus minum ASI dari botol ketika jauh dari saya, sebaiknya mulai sekarang belajar untuk pakai botol setidaknya 2 kali dalam seminggu supaya Mentari tahu bahwa ada 2 cara minum susu: dari ibunya dan dari botol.

Minggu lalu Anitha memberi kado satu set pompa beserta gelas penyimpannya, dan minggu sebelumnya kantor Mas Zalfany memberi kado sterilisator untuk dipakai di microwave dan juga satu set botol susu. Jadi perlengkapan tempur sudah lengkap.

Ternyata Mentari ga menolak minum ASI dari botol (tapi memang Mentari pernah juga minum dari botol waktu usia 2 dan 3 hari). Kata ayahnya sih, Mentari juga ternyata suka minum "susu ayah":


Hihihi, iya deh, ayah. :). Tapi entah kenapa, ngeliat Mentari minum dari botol tadi pagi,... hmm... heartbreaking! Apalagi kalau lihat mata jernihnya... duuuh, sayang...

Labels:

tentang phd sambil jadi ibu

Belakangan ini saya kirim-kiriman email dengan seorang teman di Spanyol. Dulu kami sama-sama intern di Philips Research, bekerja di lab yang sama. Dia sudah kembali ke negerinya, dan di sana dia mengerjakan PhD seperti saya di sini.

Dia bilang, saya sangat beruntung karena bisa punya anak sambil PhD. Di Spanyol, mereka tidak punya sistem yang memungkinkan untuk itu, katanya. Sistem yang mendukung ibu bekerja di Belanda memang membuat PhD dan menjadi seorang ibu pada saat yang bersamaan hal yang mungkin. Di sini, mengerjakan PhD adalah pekerjaan (dianggap sebagai pekerja/peneliti di universitas dan statusnya bukan pelajar), sehingga saya juga punya hak-hak seperti layaknya orang yang bekerja. Walaupun, tetap saja, bukan hal yang mudah untuk menemukan seorang mahasiswa PhD yang memiliki anak.. dan banyak orang yang berkomentar terhadap saya, "It's going to be very hard for you!!"

Dan memang karenanya, saya harus lebih banyak bersyukur.. karena selain sistem yang mendukung, saya memiliki promotor dan co-promotor yang sangat pengertian. Saya ingat bahwa supervisor saya tersebut pernah bercerita pada saya bahwa koleganya sangat tidak mendukung mahasiswa PhD-nya untuk hamil (katanya, dia bilang, "Don't ever think to be pregnant if you are my student!"). Sedangkan beliau, satu postingan ini tidak akan pernah cukup untuk menceritakan kebaikan-kebaikannya terhadap saya. Dan karenanya, saya sungguh sungguh beruntung.

Bulan April nanti saya akan kembali ke kampus lagi. Apakah nanti perjalanannya tidak semulus masa-masa kehamilan kemarin, saya tidak tahu.. mungkin tantangannya akan beda lagi, dan mungkin komentar-komentar teman-teman saya di kampus bahwa ini bukan hal yang mudah akan terbukti. Apapun itu.. semoga saya ingat untuk tidak pernah menyerah, terutama dengan sedemikian banyaknya kemudahan-kemudahan yang saya dapatkan.

Dan Mentari sayang,... semoga suatu saat engkau bisa mengerti bahwa ibu tidak (akan) pernah menyerah untuk memperjuangkanmu. Insya Allah. Karena memelukmu di dada ibu adalah perasaan yang paling membahagiakan, salah satu anugrah terbesar yang pernah ibu rasakan.

Labels: , ,

Wednesday, February 03, 2010

Mentari bermain dengan mobiel

Waktu jalan-jalan di toko perlengkapan bayi beberapa hari sebelum Mentari lahir, ayahnya Mentari terkesima dengan sebuah mainan bayi yang bisa berputar sekaligus ada lagunya di atas box (dalam bahasa Belanda disebutnya mobiel). Harganya agak mahal, tapi dengan beralasan bahwa sedang ada diskon 30% dan kami baru saja dapat hadiah berupa uang dari seorang tante, akhirnya kita memutuskan untuk membelinya.

Beberapa kali sejak Mentari mulai melihat-lihat sekitarnya, kami mencoba menaruhnya di bawah mainan ini. Tapi Mentari belum meliriknya sama sekali. Lagunya ia dengar, tapi boneka-boneka yang berputarnya masih belum dalam jangkauan penglihatannya. Dan hari ini... Mentari melihat boneka tersebut dan berusaha mengikuti arah geraknya!! Alhamdulillah,.. alhamdulillah.

Labels:

Monday, February 01, 2010

tentang musim dingin

Februari 2010!

Waaaah... cepat sekali waktu berlalu!! Di dalam pikiran banyak sekali yang mau dibagi, tapi karena tertunda terus tahu-tahu 1 bulan di tahun 2010 sudah berlalu. Ah!

Di akhir tahun 2009 musim dingin di Belanda benar-benar sudah datang. Suhu memang sudah mendingin sejak bulan Oktober, namun di bulan Desember suhu turun sekitar 0 dan akhirnya turun salju pertama di hari Mentari lahir. Setelah itu salju sering datang dan suhu tetap rendah. Jangan salah, meskipun Belanda ada di Eropa yang terkenal dengan musim dinginnya yang dingin, musim dingin yang seperti ini bukan musim dingin yang biasa untuk ukuran Belanda. Katanya, sejak tahun 80-an di Belanda jarang sekali salju turun sampai bertumpuk-tumpuk hingga akhirnya tahun lalu salju sempat bertahan seminggu dengan suhu sekitar -10.

Tahun ini ternyata musim dinginnya istimewa lagi (apa ini efek pemanasan global, ya?), salju turun cukup sering dan bertahan cukup lama. Indaah.. apalagi untuk orang tropis seperti saya! Tapi sayangnya, ternyata datangnya salju membawa banyak masalah! Untuk salju yang menumpuk di jalanan, ada mobil khusus pembersih jalan sehingga orang tetap bisa memakai jalan dengan aman, tapi ternyata, perusahaan kereta di Belanda (hampir selalu?) tidak siap dengan hal ini. Di kala salju menumpuk cukup tebal, hampir pasti kereta yang beroperasi jadi lebih sedikit dan kereta-kereta ini akan mengalami delay. Hasilnya? Suami yang setiap harinya harus commute sekitar 4 jam bulak-balik (iya, 4 jam!!) dengan berganti kereta di 2 stasiun, harus bersabar di jalan lebih lama. Kasihan sekali, walaupun salah satu sisi baiknya, biaya tiket jadi ditebus oleh si perusahaan!

Konon kabarnya sih si perusahaan ini tidak berusaha membuat infrastrukturnya tahan salju (berarti di relnya harus ada sistem yang bisa melelehkan salju (?)) karena jarangnya salju turun di Belanda. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat sistem ini bisa jadi lebih mahal daripada kerugian yang mereka tanggung ketika operasi menjadi kacau ketika salju yang jarang-jarang ada itu datang.

Ah, tapi untuk saya kali ini.. ketika tidak ada keharusan untuk keluar rumah setiap hari, tidak perlu naik kereta, tidak perlu bersepeda, salju yang turun lebat selalu membuat hati saya gembira. Wooohooooo!! Bagaimana tidak, melihat salju itu adalah impian saya sejak kecil mengenai tinggal di luar negeri! Jadinya sungguh perasaan yang menghangatkan untuk bisa menikmati salju dengan secangkir teh hangat di tangan (dan seorang putri cantik di samping, hehehe).

Kemarin pagi salju baru turun di malam harinya. Suhu masih rendah, matahari belum menghangatkan, dan belum banyak orang yang keluar menginjak-injak salju, di hutan kecil dekat rumah saljunya indaaah sekali. Kita yang tadinya keluar hanya untuk pergi berbelanja, akhirnya kembali ke rumah untuk mengambil kamera dan inilah jadinya:


Mentari, Mentari,... cepat besar, ya.. Nanti kita main salju sama-sama...

Labels: ,