Saturday, July 26, 2008

Escape to Paris

Labels: ,

Sunday, July 20, 2008

A never ending love

My mom might have not imagined before that her friendship would then be also mine. That kindness had never stopped at one person; it went on and on.

She, is more like a grandmother to me. My mom's best friend, and now also mine. It was only the second time when I saw her last time. She made a great effort to see me, taking metro for an hour with 4 transfers. I admit I don't know her so well. Really. It was also just that time I knew her age, I knew how she met my mom, I knew what she was doing. I only knew that she was my mom's best friend. But you know, I felt something when I saw her. That warm feeling. A feel of being loved.


Dear Claude Beville.. thank you for all the love;
I learned a lot just in short time meeting you.

Labels: , ,

Tuesday, July 08, 2008

Luck?!

Akhir-akhir ini jadi memikirkan satu kata: luck.
Orang sering bilang, "Good luck!", ketika kita akan ujian, misalnya. Sebenernya betulkah yang kita butuhkan itu (semata-mata) luck? Toh banyak juga hal lain yang mempengaruhi keberhasilan seseorang, usaha, kerja keras, dedikasi juga doa? Tapi kenapa "good luck"?

Apakah artinya setelah sedemikian banyak usaha yang dilakukan, masih tetap ada unsur "luck" yang juga berpengaruh? Atau sesuatu yang lebih daripada luck?

***

Hari ini saya bersama dengan mentor saya punya eksperimen besar. Repetisi dan optimalisasi dari eksperimen sebelumnya. Persiapan eksperimen ini memakan cukup banyak waktu. Kami harus mengurusi 27 tabung kultur sel. Jam 4.30 sore kami melakukan eksperimen terakhir, yang melibatkan 15 dari total tabung tersebut. Pada satu langkah, kami harus memasukkan tripsin ke dalam tabung tersebut. Beberapa langkah setelah itu, kami akan men-fiksasi sel-sel tersebut, dengan paraformaldehide. Tripsin dan paraformaldehide tentunya dua hal yang jauh berbeda, namun sayangnya, botolnya sama. Tulisannya cuma pake tulisan tangan. Dan kecelakaan pun terjadi. Bukan tripsin yang masuk, namun paraformaldehide. Sel bukannya bekerja seperti yang diharapkan, tentu saja, sel-sel di 15 tabung itu semua mati. :-(.

Kalau sudah begini, apa ini yang namanya ga punya luck?
Atau kurang usaha dan doa?

Entah apa jawabnya.

Anyway, saya tadi ga tahu harus ketawa atau nangis. Atau lega. Lega karena rasanya ga akan ada hal yang lebih buruk dari ini yang bisa terjadi (?). Supervisor saya juga sedih, dan sepertinya juga merasa bersalah. Saya memang yang jelas-jelas salah memberikannya pada dia, tapi dia ikut merasa bersalah karena ga dobel cek. Dia mungkin lupa kalau mahasiswanya ini sering eksperimen sambil absent-minded.

Nah, mungkin terlepas dari masalah tadi luck atau bukan: saya harus belajar ga boleh absent-minded.

***

Mohon doanya. Setiap hari lihat kalender, waktu kok kayaknya seperti terbang, dan dengan hal-hal yang seperti saya ceritakan tadi, kok rasanya saya jadi makin merasa seraaam.... :-)

PS: untuk yang penasaran gmn reaksi saya tadi, beberapa potong percakapan:
saya: (sambil senyum) Yaah... setidaknya saya benar soal satu hal: eksperimen kali ini selesai lebih cepat.
dia: Yah, setidaknya kamu bisa senyum.
saya: Memangnya kamu mengharapkan saya nangis ya?
dia: Ya nggak, tapi juga nggak mengharapkan kamu senang.
saya: Saya nggak senang kok, senyum ga berarti senang, lho. Tapi ya, apa yang bisa kita lakukan sekarang. Ga akan ada yang berubah.
dia: Bener juga, daripada sedih lebih baik senyum aja.

... dst... dilanjutkan pembicaraan-pembicaraan lebih serius.

tapi kemudian setelah dia pergi (tapi tiba-tiba dia muncul lagi di belakang saya :D), saya ketemu anak PhD lain yang kita sering curhat-curhat.. saya bilang: duh, ga tau lagi harus nangis atau ketawa.. terus saya ketawa, tapi kok dalam hati rasanya sediiiiiiiiih banget ya. Ironis.

Yosh, masih ga tahu harus merasa apa, tapi yang paasti: sekali lagi mohon doanya.
Jumat ini saya (dengan senang hati) akan mengulang eksperimen ini lagi.

Labels: ,

Sunday, July 06, 2008

Doe de dommel

Hari ini ada acara "Doe de Dommel", terjemahan literal ke bahasa Inggrisnya (masuk akal atau nggak) jadinya: "Do the Dommel". Dommel itu nama sungai yang melewati Eindhoven dari utara ke selatan, termasuk melewati TU/e. Dari yang saya tangkap, pemerintah kota Eindhoven berusaha melibatkan warganya untuk menjaga dan merasa memiliki sungai ini, sehingga hari ini diselenggarakan bermacam-macam acara, seperti pertunjukan, hiburan, sampai aktivitas seperti menyebrang sungai, naik perahu, kano, dll, di 40 titik di sepanjang sungai Dommel ini.

Acara dimulai dari jam 11 siang hingga jam 5 sore, tapi kita baru keluar jam 3 sore (thanks to the thesis :D). Kita langsung menuju titik acara di TU/e karena janjian dengan Mbak Nelly dan Mas Lesky di sana, dan ternyata di sini kegiatannya menarik. Ada band di depan kafe kampus (kalau band-band gini standar ya..), tapi yang paling seru, adalah menyebrang sungai, meluncur, dan kano di sungai Dommel!! Awalnya kita ga PD untuk ikutan, karena semua orang yang ikut anak-anak kecil :D, tapi lama-lama.. ayo kita coba tanya! :-)

Ternyata, boleh tuh ikutan ;). Malah setelah kita mendekat, banyak juga bapak-bapak ibu-ibu yang juga pengen ikutan. Hahaa! Kita coba naik kano, di hari yang cerah sekali begini, sungguh menyenangkan bermain-main air. Sempet kepikir juga untuk nyoba nyebrang sungai, tapi tangan dah pegel banget dari mendayung.


Pulang dari situ kita menyusuri Dommel dari TU/e sampai ke High Tech Campus (kampus Philips di daerah selatan Eindhoven).. Subhanallah.. nggak pernah mimpi tinggal di kota besar yang di tengahnya masih ada sungai yang asri, yang di pinggirnya ada jalan setapak untuk disusuri, dan hutan-hutan yang begitu hijau! Indaaaah....

Labels:

Thursday, July 03, 2008

Kerja, keluarga, dan liburan

Salah satu hal yang membuat saya bersyukur bisa merasakan sekolah di Belanda (atau mungkin juga Eropa pada umumnya?) adalah orang-orang yang bisa membagi kehidupannya antara kerja dan kehidupan pribadi (termasuk keluarga).

Bekerja dari jam 9 pagi lalu pulang jam 6 sore adalah hal yang sangat wajar. Bekerja lebih dari jam 6 sore adalah hal yang luar biasa. Bekerja di waktu weekend, lebih luar biasa lagi :-). Dan ini juga yang menyebabkan saya tadi diusir (dengan sopan, untungnya) oleh security gedung, karena masih ada di lab sampai jam 6.45. Jam 7 gedung akan dikunci, dan kecuali saya punya akses, saya harus keluar. (Jadi menyesal karena saya malas sekali mengurus akses gedung ini, saya tunda-tunda terus karena tidak pernah terpikir akan butuh :P).

Selain itu, ketika bekerja, mereka efektif sekali. Dan mereka masih sempat untuk coffee break 2 kali dalam sehari. Pagi hari jam 10, dan sore hari jam 4. Dan hampir semua dari mereka duduk di ruang rekreasi untuk minum kopi, ngobrol, dll. Lalu kembali lagi kerja. Ini salah satu yang membuat saya kagum. Kok, bisa yaaa... mengatur efektivitasnya seperti ini. Berhenti di tengah-tengah kerja, lalu kembali lagi, pulang tepat waktu, dan hasil akhir tetap OK juga. Dan konon kabarnya, mereka jarang sekali bekerja di luar waktu kerja (di rumah misalnya).

Hal lain lagi, adalah menjunjung liburan. Setiap tahun mereka punya jatah libur (cuti) rata-rata 38 hari! Dan mereka biasanya memakai jatah ini untuk berlibur. Dan ketika mereka berlibur, artinya itu waktu yang kita tidak bisa ganggu gugat. Libur adalah libur.

Ini sedikit dari hal-hal yang bisa saya lihat (dan ambil kesimpulan) di sini, bahwa mereka tampak menikmati kehidupan mereka. Pekerjaan bukan segalanya, dan banyak hal yang perlu dijaga prioritasnya.

Labels:

Curhat panjang!

Warning: posting ini panjang. Setelah sekian lama kehilangan kata-kata, akhirnya intuisi untuk curhat kembali lagi. Hah haa.

***

Setelah sekian lama berhenti posting, .. kali ini kita cerita dengan cerita ringan-ringan dan lucu-lucu, aja, ya. :-). Ga posting sejauh ini, bukan karena ga ada yang bisa dibagi, tapi yang terjadi terlalu banyak, kadang sulit dicerna, dan jadinya ketika buka blogger... bingunglah mau mulai dari mana. Sama kejadiannya dengan menulis tesis ternyata. Buka halaman baru, nah lho, bingung juga harus mulai dari mana. :D.

Anyway, ngomong-ngomong soal tesis, defense tesis insya Allah awal Oktober nanti. Setelah berusaha sedemikian keras (cieee...) untuk selesai akhir Agustus, apa boleh buat. Demi kesehatan rohani dan jasmani, karena masih banyak yang perlu dikerjakan, perlu ditulis, perlu dianalisis, sementara libur musim panas udah dimulai (well, saya sih kerja terusss.. tapi para supervisor dan para laboran yang akan membantu menganalisa data tidak bisa diganggu gugat liburnya...), mari kita tarik napas, dan membuat rencana yang lebih masuk akal.

Mudah-mudahan hasilnya bisa maksimal nanti. Karena proses satu tahun ini, terlalu sayang untuk disia-siakan hanya karena diburu-buru waktu, yang sebetulnya ga perlu dipaksa buru-buru juga. Satu tahun ini banyak sekali yang dipelajari, bukan cuma masalah ilmu, tapi juga banyak hal-hal lainnya. Yang sangat berharga. Yang sekalipun ketika dijalani, sempat terpikir kok bisa ya survive sampai saat ini, .. tapi memang kok, Allah tidak pernah memberikan beban lebih dari yang bisa kita tanggung. Dan kalau dipikir-pikir lagi, membuat saya tersenyum juga. Bahagia. Ternyata satu tahun ini begitu menarik. Dah, dah, stop stop. Satu tahunnya baru akan berakhir bulan Oktober nanti, masih ada kurang lebih 3 bulan lagi untuk meneruskan petualangan ini :-). Dan kalau ini diteruskan, isi posting ini akan jadi berat kembali.

***

Saya ga percaya hari baik dan hari buruk. Semua hari adalah baik, tapi boleh dong kalau bilang hari ini rasanya aneh sekali. Ditambah ada kejadian konyol di lab MRI. Jadi hari ini, pertama kalinya saya pakai scanner yang satu ini (ada 4 scanner dengan medan magnet yang berbeda yang bisa dipakai). Karena beda scanner, maka protokolnya pun beda, jadi harus belajar lagi. Setelah diajari beberapa kali, akhirnya mentor saya membiarkan saya mengerjakannya sendiri. Satu kali, dia masih ikut ngelihatin.. lancar.. terus berikutnya dia bilang kalau dia mau ninggalin saya. OK, saya pikir. Ga sesusah itu kok ternyata mengoperasikan scanner ini. Ga lama setelah itu, dia datang lagi ketika saya sedang melakukan tuning frekuensi (kalau kata-kata ini membuat cerita ini jadi ga bisa dimengerti, skip aja istilah ini, intinya ada hardware yang harus saya pegang-pegang), manual, pake tangan. Saya di ruang scanner, dia di ruang kontrol. Lalu dia bilang, stop stop, kamu mutar ke arah yang salah, frekuensinya terlalu jauh. Dan selanjutnya, singkat cerita, saya membuat frekuensinya pindah terlalu jauh, dan monitor tuning di scanner tersebut nggak bisa memunculkan itu lagi. Jadi, kita ga tahu kita frekuensi kita sekarang ada di mana :D.

Akhirnya dia berhasil membuatnya bekerja kembali. Kita mulai tes sinyal keluaran dari scanner. Lah, kok bentuk sinyalnya aneh sekali ya. Waduh, jangan-jangan frekuensi tadi masih belum bener. Lalu dia panggil koleganya, anak PhD juga, yang kelihatannya lebih berpengalaman. Dia cek, puter-puter frekuensi lagi. Beres, katanya. Udah bener kok harusnya. Tes sinyal lagi. Lah, masih salah juga kayaknya. Putus asa, aneh sekali ini, akhirnya kita panggil sang guru, assistant profesor. Beberapa lama dia coba-coba cek frekuensi, pake alat tambahan segala, lalu dia bilang, OK, harusnya jalan.

Dia pergi, terus mentor saya ngeliat saya yang udah merasa bersalah dia bilang... well, kamu ga melakukan hal yang terlalu salah kok, cuma saya aja yang juga ga ngerti gimana nge-tuning balik kalau udah de-tuned terlalu jauh. Fiuh, lega. Tapi... waktu coba tes sinyal lagi, lhooo kok ga berubah?? Terus saya mulai berpikir, aduuh apa yang tadi saya lakukan yaaa?!

Akhirnya sang guru kita panggil lagi, terus mereka berdua sibuk di ruang scanner. Saya lagi ada telpon, jadinya saya keluar dulu. Ga lama dari situ, saya lihat sang guru keluar. Terus mentor saya juga keluar, dan dia manggil saya, sini, katanya. Terus dia serius gitu, dia bilang... "Saya tahu masalahnya." Dalam hati saya, waduh apa lagi ini. Terus lanjutnya, "Mungkin ini akan membuat kamu tertawa." Dalam hati saya lagi, duh, mungkin sesuatu yang bodoh nih.

Terus dia bilang, sini sini, sambil mengajak ke ruang scanner. Terus dia ngeluarin coil berisi sampel dari scanner (untuk melakukan MRI scan, sampel kita harus dimasukkan ke dalam coil, lalu coil dimasukkan ke scanner).. terus dia nunjuk ke sampel itu sambil bilang, "Nah, kamu tahu apa ini artinya, kan?". Ya ampuuun, saya bener langsung ketawa, bener-bener ketawa, ya mentertawakan diri sendiri, ya malu, ya, ya, ya. Jelas aja dari tadi sinyal keluarannya ga bener-bener, saya terbalik memasukkan sampel! Ilustrasinya gini: kalau kita mau men-scan otak seseorang, lah kok yang dimasukan malah kakinya? Ga masuk akal kan?!!
Duuh, maaf yaa, sampai buang-buang waktu 1 jam lebih buat akhirnya menemukan bahwa kesalahannya simpel. Dan mendasar. Dan memalukan!!

Ngomong-ngomong soal memalukan, kayaknya mentor saya yang satu ini udah maklum (dan sabar :D) lihat hal aneh-aneh terjadi sama saya :D. Ya yang pernah lupa satu step reaksi, padahal tertulis jelas-jelas di protokol, sampai akhirnya habislah usaha setengah harian kerja, ya yang lupa ini lah, itulah, dll. Tapi kalau saya lihat kembali apa yang terjadi di tesis saya ini, ... saya memulainya dengan berjalan kesana kemari, kurang lebih "sendirian", tersesat di tengah-tengah lab, betul, datangnya dia untuk bekerja sama (baca: mementori) untuk porsi besar dari tesis saya ini, seperti air di padang pasir (cie bahasanya :D). Dia salah satu orang yang berjasa mengajari banyak hal dari awal, mulai dari hal kecil seperti menggunakan pipet mekanik (!!) sampai hal penting seperti mengatur rencana eksperimen. Saya sangat bersyukur bahwa di tengah-tengah kejangaran dan keluarbiasaan tesis saya ini, dia adalah salah satu orang yang Allah kirim untuk menolong saya. Alhamdulillah.

Cukup sekian dulu, moral of the story: 1) kalau kerja jangan absent-minded; 2) di mana ada kesulitan selalu ada jalan; 3) pikirkan sisi positif dari segala sesuatu yang terjadi, itu akan membuat kita untuk lebih mudah untuk bersyukur.

Alhamdulillah,.. alhamdulillah. Allah maha baik, hanya kadang kita perlu mau untuk berusaha untuk mengerti kebaikanNya yang tak terhingga.

Labels: ,